Apresiasi dan Sentilan untuk Kejari Larantuka

Oleh Avent Saur

tikus kita

Ilustrasi tindak pidana korupsi

Kabar gembira terkait perjuangan pemberantasan virus korupsi tercium dari Larantuka. Kejaksaan Negeri (Kejari) Larantuka menahan berturut-turut dua bendahara pada SKPD Kabupaten Flores Timor, antara lain Bendahara Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gabriel Fernandez pada Rabu (3/8) dan Bendahara Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (BKBPP) Maria Roslin Marosa Koten pada Kamis (4/8).

Mereka dititipkan di Rumah Tahan Larantuka. Proses hukum dua tahanan ini dimulai Juni 2016, dan penahanan yang berlaku 20 hari ke depan dilakukan demi kelancaran proses hukum.

Apresiasi

Apresiasi, tetapi sekaligus sentilan untuk Kejari Larantuka patut diangkat. Apresiasi karena Kejari tampak memiliki nyali bukan terutama untuk sekadar berani menahan “elite bawah” birokrasi dalam sebuah komunitas politik di daerah, melainkan terutama demi menegakkan kebenaran dan keadilan hukum di hadapan pandangan mata serta rasa keadilan publik. Ya terlepas dari kebenaran dan keadilan substansial dari proses hukum serta kebenaran dan keadilan pihak-pihak terkait dalam kasus tersebut.

Setidaknya sikap kejari, kalau sungguh benar dan adil, tentu bermanfaat bagi uang rakyat Flores Timur yang berjumlah Rp193 juta lebih di BKBPP dan Rp343 juta lebih di DKP, untuk tidak hilang nan lenyap begitu saja tanpa sedikit pun jejak dalam pembangunan rakyat.

Lebih dari tidak hilang-lenyapnya uang itu, sikap kejari itu menjadi penyumbang dan pemacu serta optimisme bagi perjuangan pemberantasan virus korupsi di wilayah politik daerah.

Selain sekadar dua hal itu, tentu lebih dalam, sikap itu menjadi sebuah optimisme bagi pengendalian terhadap kecenderungan psikologis manusia atas egoisme, sekularisme, kapitalisme, hedonisme dan ketidakpedulian sosial serta kesenjangan ekonomi-sosial.

Sentilan

Kemudian sentilan. Dalam sebuah birokrasi pemerintahan, jabatan bendahara tergolong sebagai elite bawah. Dalam setiap tindakan penyimpangan, bendahara berada dalam posisi lemah baik lemah secara struktural karena mudah terkena hukum maupun lemah secara ekonomis maupun karena tidak mampu menutup mulut penegak hukum. Karena itu, persisnya, lebih sering, elite bawah ini hanyalah korban getah dari sebuah pohon penyimpangan yang dilukai “elite atas” semisal kepala badan atau kepala dinas.

Tidak ada kemungkinan tertutup atas logika ini dalam konteks kasus penyimpangan dalam birokrasi di BKBPP dan DKP Flores Timur. Karena itu, Kejari Larantuka disentil untuk berpacu mendalami kasus ini sampai ke akar-akarnya, menyentuh pohon-pohon elite yang menjulang tinggi secara struktural untuk pertama-tama supaya tumbang bersama elite bawah serta kemudian dan terutama untuk menegakkan kebenaran dan keadilan legal hukum serta kebenaran dan keadilan substansial kasusnya. Karena itu juga, Kejari Larantuka sungguh diharapkan untuk tidak mudah ditutup mulutnya oleh kekuatan struktural dan kekuatan uang.

Bukan cerita baru tentunya, penegak hukum lebih sering mudah ditutup mulutnya untuk tidak berbicara secara mendalam, mudah dikekang tangannya untuk tidak menggali sampai ke akar tunggang sebuah kasus, mudah dibekukan otaknya untuk tidak berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan keterlibatan orang-orang baru, mudah ditutup matanya untuk tidak membaca ayat-ayat peraturan.

Jadi ini semua cerita lama baik pada lembaga peradilan di tingkat bawah maupun tingkat atas (nasional). Cerita lama ini mesti dibarui atau dibuatkan revolusi.

Tujuan yang terdalam bukan sekadar memperbaiki citra institusi dan korps, melainkan terutama untuk pembangunan humaniora pribadi penegak hukum itu sendiri ke arah yang lebih berkualitas dan tentu juga untuk pembangunan masyarakat ke arah yang lebih baik. Di sini integritas orang sebagai penegak hukum sekaligus sebagai pribadi patut dipertaruhkan.

Jadi untuk konteks penahanan oleh kejari Larantuka terhadap dua tersangka, patut diapresiasi, tetapi tentu tetap konsisten untuk disentil juga.*** (Flores Pos, 16 Agustus 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s