Mengusik Kenyamanan Hidup

migran

Migran berjuang melewati pagar kawat berduri di perbatasan Suriah dan Eropa.

Oleh Avent Saur

Ketika mengunjungi Polandia pada akhir Juli 2016, Paus Fransiskus mengajak negara itu untuk meninggalkan kenyamanan hidup. Ini beralasan lantaran salah satu negara di Eropa Timur itu menutup pintu terhadap kebanjiran pengungsi-migran dari negara-negara liga arab, terutama Suriah.

Berbeda dengan negara yang satu ini, Jerman adalah negara besar yang membuka pintu lebar-lebar terhadap kehadiran 1,1 pengungsi-migran yang terdesak karena situasi perang di negaranya. Sementara negara-negara Eropa lainnya menampung ribuan orang.

Namun kenyamanan hidup tentu bukan hanya perihal sikap politik sebuah negara terhadap negara lainnya. Itu tentang kehidupan manusia pada umumnya dalam pelbagai aspek. Tentu juga tentang sikap politik sekaligus karakter pemimpin komunitas politik terhadap warganya.

Di hadapan 1,6 juta orang pada Sabtu (30/7) dan 2,5 juga warga pada Minggu (31/7) di lapangan Brezgi, dekat Krakow, pemimpin umat Katolik sejagat itu mengatakan begini: “Setiap orang mesti meninggalkan jejak yang baik di dunia ini. Kita hidup bukan untuk berdiam diri, mengurusi diri sendiri dan kelompok sendiri (menolak pengungsi).”

Dalam kenyamanan diri, jelasnya, orang mencari kemudahan demi kemudahan, sering duduk (bahkan tidur) lelap di sofa empuk dan memakan cemilan tanpa merasakan banyaknya orang-orang yang setengah mati mencari makan.

Dari itu, lahirlah generasi “sofa-kentang” yang bersemangat mencari dan sangat cepat menemukan kepuasaan, tetapi itu adalah kebahagiaan semu yang dalam sekejap meninggalkan luka bagi diri sendiri dan orang lain. Ini pulalah “kelumpuhan hidup” yang sebenarnya.

Selaras dengan itu, Paus yang berada di Polandia pada 27-31 Juli untuk menghadiri Hari Pemuda Sedunia itu, juga menyinggung kecenderungan manusia modern yang mengental dalam term eskapisme. Dalam eskapisme, orang menghindari kenyataan pahit, kemudian mencari penghiburan dan kenyamanan semu. Lebih dekat dengan eskapisme adalah konsumerisme, juga hedonisme dan keangkuhan serta kerakusan. Ya tentu kapitalisme juga.

Dari dalam kandang kesemuan itu, Paus yang menyempatkan diri berkunjung ke kamp konsentrasi Nasi di Auschwitz, menyodorkan ajakan untuk keluar dari dari sendiri, terjun ke carut-marut realitas sosial dan beranjak dari “sofa-kentang”. “Kita mesti menjadi pemimpi yang percaya kepada nilai-nilai baru kemanusiaan: menolak benci sesama, menolak semua batas dan penghalang bagi kemanusiaan.”

***

Ini bukan hanya tentang Polandia, melainkan juga tentang kita, di sini: tentang diri kita sendiri dan karya-karya kita, tentang masyarakat pada umumnya, tentang elite-elite negara di daerah dan elite-elite agama, tentang kemiskinan yang tak kunjung usai, tentang mafia kekuasaan dan pemodal yang tak pernah berhenti, tentang ketidakpedulian akut dan derita sesama manusia di sekitar kita.

Kurang-lebih, Flores Pos dengan pelbagai kekurangan dan kelebihannya telah menyodorkan kepada publik perihal itu semua. Satu hal yang pasti dan terus dipertahankan, media rakyat dan bentara Flores ini terus hadir mengusik kenyamanan hidup dan membuka selebar-lebarnya pintu kemanusiaan untuk hidup senasib sepenanggungan (solider) dengan siapa pun.

Berharap, kita tidak kebal kritik sebagaimana ditegaskan Bupaeti Ende, Marsel Petu (Flores Pos, 9/9).*** (Flores Pos, 10 September 2016)

migran2

Paus Fransiskus menyalami migran asal Suriah di Italia.

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s