Wabup Djafar Pimpin Pembongkaran Pasung ODGJ di Roworeke

gergaji-pasungan

Wakil Bupati Ende Haji Djafar Achmad menggergaji kayu pasung seorang ODGJ yang sudah 7 tahun terpasung, di Roworeke, Kelurahan Rewarangga, Kecamatan Ende Timur pada puncak Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2016, Senin (10/10).

  • Terpasung 7 Tahun
  • Memaknai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2016

Oleh Avent Saur

Ende, Flores Pos — Wakil Bupati Ende, Haji Djafar Achmad, memimpin pembongkaran pasung orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kampung Roworeke, Kelurahan Rewarangga, Kecamatan Ende Timur, Senin (10/10). ODGJ berinisial KDGA mendekam dalam lubang kayu pasung sejak tujuh tahun lalu.

Disaksikan Flores Pos, KDGA terpasung pada kaki kirinya dengan dua balok berukuran 2 meter lebih. Dua balok itu dirapatkan dengan beberapa besi beton.

Kegiatan pembongkaran pasung ini diprakarsai oleh Kelompok Kasih Insanis (KKI) Ende yang khusus peduli terhadap orang dengan gangguan jiwa untuk memaknai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2016 yang jatuh pada 10 Oktober.

Hadir pada kegiatan pembongkaran itu, Asisten I Setda Ende Kornelis Wara, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Ende Yeremias Bore, Direktris RSUD Ende Mariana Evelyn Pani, Camat Ende Timur Karolus Jemada, Lurah Rewarangga Pieter Thomas Tanoel, Pastor Rekan Paroki Roworeke Romo Egi Pareira, Kepala Panti Rehabilitasi Jiwa Renceng Mose Ruteng Bruder John Baptista Ganti FC, kru KKI Ende dan ratusan undangan serta warga masyarakat Roworeke.

Wabup Djafar Achmad, dalam kata sambutan sebelum pembongkaran pasung mengatakan, tidak dapat dipungkiri bahwa ada banyak orang dengan gangguan jiwa di Kabupaten Ende. Masalah ini belum didata dan ditangani dengan baik oleh pemerintah.

Menurut Wabup Djafar, ODGJ adalah saudara-saudari yang harus dan wajib diperhatikan secara serius dan tulus. Namun dalam kenyataan, banyak ODGJ berkeliaran di jalan-jalan tanpa rumah, dan lebih buruk lagi kebebasan mereka dibatasi dengan cara dipasung.

“Kebanyakan dari mereka dibiarkan bebas berada di luar rumah pada tempat-tempat yang tidak semestinya, bahkan ada yang hak hidup wajar dirampas dengan cara dipasung,” turut Djafar.

Dua Sebab

Menurut Djafar, ada dua sebab mengapa ODGJ mengalami kenyataan hidup yang tidak manusiawi. Kurangnya pemahaman masyarakat atau keluarganya tentang bagaimana mendampingi dan memerlakukan mereka menjadi hambatan utama bagi penanganan ODGJ. Sebab yang kedua, tukas Djafar, adalah belum adanya fasilitas kesehatan khusus untuk menangani masalah ODGJ.

“Saya bersama Bupati Marsel Petu akan mengupayakan adanya sarana khusus untuk menangani sama saudara kita yang mengalami gangguan jiwa, misalnya, rumah sakit,” kata Djafar.

Untuk mewujudkan ini, lanjut Djafar, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat dan pihak-pihak terkait agar keberadaan rumah sakit ini dapat terwujud di wilayah kita ini.

“Kami menyadari bahwa ODGJ adalah sama saudara kita yang patut mendapat perhatian dan penanganan seirus,” tegasnya.

Ende Bebas Pasung

dialog

Wabup Djafar berdialog dengan ODGJ sebelum pembongkaran pasung.

Usai memberikan kata sambutan, Wabup Djafar menuju tempat pemasungan dan berdialog dengan ODGJ. Dialog itu berjalan lancar karena ODGJ berinisial KDGA itu sudah agak pulih setelah mengonsumsi obat yang diberikan KKI sejak Juni 2016.

Disaksikan Flores Pos, usai pasung dibongkar, KDGA tidak bisa berdiri atau berjalan lantaran kaki kiri dan pinggangnya kaku disebabkan oleh pemasungan selama 7 tahun.

Sebelum melakukan pembongkaran simbolis dengan memotong kayu pasung, Wabup Djafar menyatakan tekad untuk menghentikan kebiasaan pasung terhadap ODGJ, dan mengajak masyarakat untuk mendukung tekad tersebut secara nyata.

“Mulai saat ini, Ende harus bebas pasung. Jangan pasung mereka sebab pemasungan akan menambah tekanan pada jiwanya dan berdampak semakin terganggu jiwanya,” tegas Djafar.

Pembongkaran ini, lanjutnya, “menjadi pelajaran berarti bagi kita semua. Mereka butuh sentuhan kasih yang serius dan tulus. Perlakukan mereka secara baik.”

“Saya mengucapkan terima kasih kepada KKI yang dengan upaya sendiri telah membantu warga Kabupaten Ende yang mengalami gangguan jiwa. Kita kerja bersama dan bersama-sama bekerja,” katanya.

Dua Perubahan

Senada dengan itu, Ketua Kelompok Kasih Insanis (KKI) Ende Pater Avent Saur SVD dalam kata sambutannya mengatakan, dengan memaknai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2016 melalui pelbagai kegiatan termasuk pembongkaran pasung, diharapkan akan ada dua perubahan dalam diri pelbagai kalangan.

Perubahan pertama, menurut Pater Avent, adalah terkait pandangan negatif atau stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa. Seseorang dihormati bukan karena status dan peran sosial atau politik atau budaya atau pun peran keagamaannya, melainkan karena martabatnya sebagai manusia yang terberi oleh pemilik semesta.

“Karena itu, ODGJ patut diperhatikan karena sebagai manusia, ia memiliki martabat yang sama seperti manusia lainnya,” ujarnya.

Perubahan kedua, tegas Pater Avent, adalah pandangan positif terhadap ODGJ hendaknya mewujud nyata pada perubahan sikap terhadap ODGJ. Pada umumnya, ODGJ diabaikan, dipinggirkan, tidak diperhitungkan, dan tidak diperhatikan, serta diganggu dan dicemooh, bahkan dipasung.

“Dengan memaknai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, kita diajak untuk mengembalikan ODGJ dari pinggir perhatian kepada salah satu pusat perhatian kita agar dapat ditangani secara manusiawi dan bermartabat,” tuturnya.

Tiga Kegiatan

Pembongkaran pasung adalah salah satu bagian dari Kampanye Kesehatan Jiwa yang digelar KKI pada puncak Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2016.

Kegitan lain pada hari puncak ini, antara lain turun ke jalan untuk membagikan makanan dan minuman kepada ODGJ yang berkeliaran di jalan-jalan dalam Kota Ende dan sekitarnya, serta mengantar dua ODGJ ke Panti Rehabilitasi Jiwa Renceng Mose di Ruteng, Kabupaten Manggarai.

Selain Kampanye Kesehatan Jiwa yang bertema “Bebas Pasung dan Bebas Stigma”, KKI juga telah menggelar seminar kesehatan jiwa bertema “Mengangkat Martabat Orang dengan Gangguan Jiwa” di Aula STPM Ende pada Sabtu (8/10) dan malam puisi bertema “Sastra dan Kemanusiaan ODGJ” di Aula BSK Ende, Minggu (9/10).*** (Flores Pos, Rabu, 12 Oktober 2016)

bongkar-pasung

Warga membongkar dan menyaksikan pembongkaran pasung seorang ODGJ yang sudah tujuh tahun terpasung (kaki kiri), di Kampung Roworeke, Senin (10/10).

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s