ODGJ, Orang Miskin yang Tersingkir

Remigius

Menyuap makan terhadap ODGJ Remigius di RSUD Ende beberapa waktu lalu. Remi dibakar oleh warga pada Kamis, 1 Januari 2015 pagi.

Oleh Avent Saur

Ada satu alasan sangat ekstrem yang diutarakan pemerintah mengapa perhatian terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) itu sangat minim bahkan tidak ada. Bahwasanya, pemerintah belum menyentuh ODGJ lantaran pemerintah masih sibuk mengurus masalah kesehatan lainnya: HIV-AIDS, konsumen narkoba, stroke, TBC, malaria, kanker dan lain-lain. Karena itu, tidak menyentuh ODGJ bukanlah sebuah persoalan atau kesalahan.

Rasanya, alasan ini sungguh gampang; mudah dicari dan enteng ditemukan, mudah dipikirkan, juga spontan diucapkan. Dan merasa bahwa ini benar: belum menyentuh yang satu karena sibuk menyentuh yang lain. Meminta maaf pun akan sulit.

Sungguh memprihatinkan alasan ini, sekaligus mengecewakan dan ekstrem fatal serta keterlaluan. Mengapa? Bagaimana mungkin mengabdi pada yang satu dijadikan alasan untuk tidak mengabdi yang lain? Melayani penderita malaria dijadikan alasan untuk tidak memerhatikan ODGJ?

Siapakah penderita malaria yang miskin itu, misalnya, dan siapakah ODGJ itu? Bukankah dua penderita itu sama-sama manusia yang memiliki martabat yang sama? Bukankah dua penderita itu sama-sama warga negara yang memiliki hak yang sama? Bukankah dua penderita itu sama-sama dilahirkan oleh seorang ibu atau dihadirkan dalam keluarga, lingkungan dan masyarakat serta komunitas politik tertentu?

Bukankah derita yang dialami dua anak manusia ini sama-sama menggerogoti nyawa mereka? Mereka toh sama dan sama-sama miskin juga, tetapi mengapa dua jenis penderita itu diperlakukan secara berbeda?

Dan satu lagi, kalau masalah kesehatan lainnya terus terjadi, maka pemerintah akan terus sibuk mengurusi masalah lain itu, dan apakah masalah kesehatan jiwa akan terus dipinggirkan secara kontinu dari pusat perhatian? Dan entah sampai kapan?

Inilah yang disebut dengan ketersingkiran! Terabaikan! Terlalaikan! Terpinggirkan! ODGJ, orang miskin yang tersingkir. Dan ini pulalah yang sedang dilakukan pemerintah ketika pemerintah mengatakan “memerhatikan yang satu dijadikan alasan untuk tidak memerhatikan yang lain”.

Karena itu, semestinya, meminta maaf kepada ODGJ adalah pertanda pemerintah yang berjiwa besar, yang berani menelanjangi diri di hadapan penderita bahwa pemerintah sudah bersalah, serta memohon maaf. Namun pemerintah mana dan penguasa siapa yang bisa melakukan hal begini? Kita sulit menemukannya.

***

Ada pun alasan lain yang juga sering dikemukakan, antara lain tidak adanya anggaran, tidak ada payung hukum, tidak ada kebijakan nyata. Alasan-alasan ini hanyalah bagian kedua sebagai efek dari pandangan gampang-gampangan tadi: menyentuh yang satu dijadikan alasan untuk tidak menyentuh yang lain.

Sungguh, demikianlah dalam kenyataan. Bahwasanya, penderita jiwa tersingkir dari pelbagai aspek: sosial-budaya (ODGJ diabaikan), kesehatan (obat untuk ODGJ kurang bahkan tidak ada), ekonomi (makan apa adanya), politik (tidak ada kebijakan program dan anggaran) dan religius (tokoh agama mengutamakan orang sehat dan orang sakit lainnya).

***

Pemaknaan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2016 yang jatuh pada 10 Oktober yang oleh Kelompok Kasih Insanis (KKI) Ende diwujudkan dalam tiga kegiatan: seminar kesehatan jiwa (Sabtu, 8/10), malam puisi sastra-kemanusiaan (Minggu, 9/10) dan kampanye kesehatan jiwa/bongkar pasungan dan mengantar ke panti rehabilitasi (Senin, 10/10) adalah sebuah tindakan dan momen untuk mencapai dua perubahan: perubahan pandangan negatif (stigma) dan perubahan sikap terhadap ODGJ.

Karena itu, tema “Mengangkat Martabat ODGJ” kiranya mengena agar ODGJ yang selama ini berada di pinggir perhatian diambil lalu diletakkan ke salah satu pusat perhatian. Cukup ke salah satu pusat perhatian, tentu bukan satu-satunya. Dengan demikian, alasan yang gampang-gampangan tadi pun tidak terdengar lagi.*** (Kolom “Bentara”, Flores Pos, 11 Oktober 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA, OPINI and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s