Pejabat Mafia atau Tidak Profesional?

Oleh Avent Saur

Kalau toh ada masalah, berarti atau data tidak absah atau petugas yang mengajukan mutasi tidak menguasai bidang.Agustinus G Ngasu

Agustinus G Ngasu

Agustinus G Ngasu, Sekda Ende

Kepala dinas pada sebuah Satuan kerja perangkat daerah diangkat (atau dipilih) oleh kepala daerah. Idealnya, orang yang menduduki jabatan itu adalah the right men on the right place/ “orang yang tepat pada tempat yang tepat” pula.

Di dinas pendidikan, pemuda dan olahraga, misalnya, kursi kadis mesti diduduki oleh orang yang ahli dalam bidang pendidikan. Di dinas pekerjaan umum, kursi kadis mesti ditempati oleh orang yang ahli dalam bidang itu. Bukan sebaliknya.

Terkait itu ada empat hal inti. Pertama, orang yang tepat pada tempat yang tepat. Ada kepala daerah dalam komunitas politik tertentu secara jujur lebih dekat pada ideal ini, bahkan mewujudkan ideal ini secara tepat.

Kedua, sekalipun sudah memilih orang tepat pada tempat yang tepat, kualitas orang itu juga mesti tepat, bukan atas dasar prinsip dangkal “yang penting dia tamatan bidang ini, sekalipun kualitasnya tidak memadai”. Ada semacam primordialisme tipis-tipisan yang pengaruhnya bukan lagi tipis-tipisan melainkan juga besar dan tebal, sebab semuanya itu menyangkut urusan kepentingan bonum commune.

Ketiga, tetapi lebih dari itu, di daerah-daerah kita, bahkan di negara kita, bukan cuma tidak dekat atau menjauh dari ideal ini, melainkan juga bertolak belakang, bahkan mengesampingkan, membuang, mengabaikanya. Ini bukan lagi sekadar primordialisme (semata), melainkan sebuah praktik mafia politik birokrasi. Imbasnya pun luar biasa, merugikan banyak pihak dan tentu merusak citra perpolitikan serta moral penguasa di daerah.

Keempat, sekalipun orangnya sudah tepat dan pada tempat yang tepat pula serta dengan kualitas yang memadai, sekian sering orang itu ditekan untuk melakukan praktik mafia, semisal, mafia mutasi guru. Atau juga tanpa ditekan pun, orang itu memulai gaya mafianya sendiri dengan membangun jaringan kongkalikong lalu melakukan ketidakadilan. Itu juga berarti ia bermafia tidak sendirian. Ada begitu banyak orang menguatkannya entah di belakang, di depan, atau di samping kiri-kanan sisinya.

Orang yang sudah tepat dan pada tempat yang tepat pula serta dengan kualitas yang memadai saja melakukan mafia ini, apalagi orang yang sejak semula menduduki jabatan itu tidak tepat, serta dengan sendirinya tidak memadai pula. Maka ketimpangan demi ketimpangan pasti akan terjadi.

Apa pun bentuk mafia dan siapa pun yang melakukannya, semuanya itu menghancurkan esensi moral politik, menghalangi kemajuan dan batu sandungan bagi penghormatan martabat manusia. Kalau demikian halnya, maka birokrat itu mesti dicopot, diproses hukum, bukan malah dibiarkan.

petrus-g-no

Petrus G No, Kadis PPO Ende

Di Dinas PPO Ende terjadi masalah pemutasian guru-guru SD. Masalah tersebut menyebabkan beberapa guru jadi korban. Menurut Kadis PPO Petrus G No, masalah itu terjadi semata-mata bersifat “manusiawi”. Ada banyak tafsiran terhadap “manusiawi”, tetapi yang pasti bahwa kesannya “itu masalah yang wajar (biasa)”, padahal menimbulkan korban.

Nah sebuah pertanyaan muncul, dalam empat poin inti di atas tadi, kira-kira jabatan dan Petrus G No masuk dalam kategori mana? Siapa saja bisa menjawab, tetapi yang menjawab paling benar dan harus jujur adalah orang-orang terkait termasuk Petrus sendiri.

Salah satu jawabannya, boleh jadi pernyataan korban mutasi Ibu Maria Magdalena Ute benar adanya, “Para guru yang berpotensi dimutasi hanya karena perasaan tidak suka pemimpin. Mutasi juga mungkin dibuat untuk menciptakan lapangan kerja baru bagi kroni atau keluarga pemimpin. Bisa pula karena pemimpin merasa disaingi oleh guru bersangkutan.”

Kalau demikian, mestinya pemimpin itu tidak layak dipakai untuk mengurus kepentingan publik. Jadi bukan cuma ketidakabsahan data sebagai dituturkan Sekda Ende Agustinus G Ngasu.*** (Flores Pos, 3 September 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s