Soedarsono yang Benar ataukah Sulaiman?

air-bersih

Bukan perkara gaya menimba air, melainkan perihal perjuangan memperoleh air layak.

  • Masalah Air Minum di Ende

Oleh Avent Saur

Masalah kekurangan air minum di Kota Ende mendorong Abbas Sulaiman membongkar unek-uneknya kepada publik tentang mental petugas PDAM Ende. Menurut Sulaiman, warga  kompleks Bhoanawa, Kelurahan Rukun Lima, Kecamatan Ende Utara ini, belakangan ini, masalah kekurangan air bersih berlangsung agak lama.

“Ini sudah satu minggu. Bagi kami, kalau omong tentang air berarti omong tentang bagaimana susahnya hidup ini. Tanpa air, semuanya serba susah. Cuci, minum, masak, mandi, kakus, semua susah.”

Masalah ini semakin menyayat ekonomi lantaran biaya yang warga gelontorkan untuk pemasangan jaringan terbilang mahal. Pendaftaran untuk pemasangan jaringan, tuturnya, Rp 1 juta. Beli 1 rol pipa, Rp 1 juta juga. Biaya pemasangan sama pula, Rp 1 juta. Belum lagi duit rokok untuk petugas PDAM. Hitung-hitung, totalnya Rp 5 juta. Entah air keluar atau tidak, setiap bulan mesti bayar Rp 50 ribu atau Rp 60 ribu.

Tarif-tarif ini mesti dilunaskan. Sebab jika tidak, maka petugas tidak akan memasang jaringan. Uang rokok juga mesti diberikan, sebab jika tidak, maka petugas PDAM bekerja tidak cepat, lamban, lama, atau juga tidak mau memasang. Usai semuanya ini beres, dikira bahwa air akan lancar, malah macet-macet.

Kemacetan air minum membuat ekonomi warga semakin tersudutkan. Mereka harus menganggarkan dana khusus untuk membeli air tangki seharga ratusan ribu rupiah per tangki. Karena itu, Sulaiman to the point menduga pihak PDAM, “apakah PDAM bekerja sama dengan pemilik air tangki?”

***

Jawaban Direktur PDAM Ende, Soedarsono , setidaknya menciptakan sangat tersayatnya hati Sulaiman (representasi warga Kota Ende?). Menurut Soedarsono, tarif mahal yang disebutkan Sulaiman adalah tidak benar. Untuk warga yang tidak mampu secara ekonomi, pemasangan jaringan cuma membutuhkan biaya Rp 500 ribu. Standar normal, Rp 1,6 juta sampai Rp 1,8 juta. Uang rokok adalah inisiatif warga, bukan karena diminta oleh petugas PDAM.

Apakah benar bahwa informasi Sulaiman itu tidak benar?

Pertama, diandaikan bahwa apa yang diinformasikan oleh Sulaiman adalah pengalaman nyata saat ia mengurus pemasangan jaringan. Kalau demikian halnya, lalu disandingkan dengan standar tarif yang diutarakan oleh Soedarsono, maka petugas PDAM telah melakukan pemungutan liar (mafia, korupsi) terhadap pelanggan PDAM.

Perlakuan sekaligus mental korup petugas disembunyikan sekian rapi dari penglihatan atasannya, Soedarsono. Ya kasihan betul warga miskin seperti Sulaiman, “sudah miskin, malah dipermiskin lagi dengan tindakan korup (pungli) pegawai PDAM.”

Kedua, karena itu, adalah kewajiban Soedarsono untuk mengecek bawahannya mengenai salah atau benarnya informasi Sulaiman. Tapi yang terjadi adalah Soedarsono langsung mengklaim bahwa warga tidak benar.

Adakah tindakan korup/mafia/pemungutan liar oleh bawahan mesti diberitahukan kepada atasan? Tentu tidak!

Kalau Soedarsono ingin bawahannya bersih, terhindar dari kabar pemungutan liar itu, dan ingin lembaganya baik-baik saja tanpa hal-hal negatif itu, maka mengecek bawahannya dan mengonfirmasi kepada Sulaiman sebagai sumber informasi dan pengalaman, demikian juga kepada warga lain, adalah suatu kewajiban moral dan fungsional yang mesti dijalankan.

Ketiga, adakah informasi Sulaiman itu benar yang diperkuat dengan data-data kuitansi penyetoran uang? Tentu uang rokok, susah ada buktinya. Rupanya dugaan ketiadaan bukti penyetoran pada Sulaiman atau warga lain mendorong Soedarsono untuk dengan gampang mengklaim bahwa informasi Sulaiman itu tidak benar.

Ketiadaan bukti administratif, sekalipun mungkin dalam kenyataan ada bukti faktual dengan saksi-saksi yang kuat, membuat rakyat kecil tetap tinggal dalam kelemahan di hadapan hukum. Sebaliknya, kekuasaan tetaplah yang terkuat tentunya.

Masalah kekurangan air minum di Kota Ende adalah hal vital yang mesti diselesaikan. Alasan-alasan kekurangan air sebagaimana disampaikan Soedarsono, semisal, pipa bocor karena proyek dalam kota Ende, perubahan musim, debit air menurun, tentu patut dipahami dan dimaklumi sekalipun tidak melulu diterima begitu saja oleh warga.

Namun yang jauh lebih penting juga adalah isu tindak pidana mafia itu supaya pelanggan tidak dikecewakan bertubi-tubi, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Nah Sulaiman yang tidak benar ataukah Soedarsono yang cepat mengatakan itu tidak benar?*** (Flores Pos, 1 Oktober 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s