Gereja yang Acuh Tak Acuh

acuh-tak-acuh

Pekerja anak

Oleh Hans Hayon

hans-hayon2

Dialog ini terdapat dalam salah satu adegan film “Beautiful Creatures” (2013) yang disutradarai oleh Richard LaGravenese. Meskipun secara garis besar film tersebut menceritakan tentang kisah cinta dua orang remaja, tetapi muatan politis sangat kentara di sini. Di satu sisi, terdapat kelompok caster yang memegang tradisi secara militan dan kelompok manusia yang dinamis di lain sisi. Caster merupakan makhluk sejenis jin dan vampir yang telah hidup selama ribuan tahun. Mereka, tentu saja, melewati kehidupan dengan aneka sejarah dan peradaban.

Dari jenis kehidupan tanpa usia itulah, mereka menilai manusia sebagai apa yang disebut oleh Immanuel Kant sebagai “un roseau pensant”, galah yang berpikir. Artinya, manusia merupakan titik tertinggi dalam rantai makanan karena aspek pikiran, namun secara esensial rapuh, mudah patah, dan sia-sia.

Gereja yang Acuh Tak Acuh   

Gereja sebagai institusi terkadang tampak menyedihkan. Ramainya pertimbangan rasional yang dibuat, ternyata menjauhkan teologi Gereja Katolik dari aspek konstekstualitas. Meskipun ada teologi kontekstual, tetapi kadang membingungkan itu kata “Kontekstual” (bukankah teologi itu sendiri berarti kontekstual?).

Dalam setiap pertemuan semisal lokakarya, seminar, sosialisasi, atau sarasehan, terdapat begitu banyak gagasan dihasilkan, kesepakatan dibuat, rancangan mutakhir disusun, namun hasilnya ompong. Kemiskinan tetap saja menjadi penyakit utama yang mendera masyarakat, perceraian terjadi di mana-mana, konflik antaragama merajalela, dan pelbagai masalah sosial lainnya.

Memang, menuntut Gereja sebagai satu-satunya pengayom dan penemu solusi atas semua masalah di dunia ini merupakan beban yang terlalu berlebihan dan tampak tidak manusiawi. Namun, jika demikian, untuk apa Gereja ada? Atau lebih kasar lagi, untuk apa manusia beragama? Jangan bilang kalau tujuannya adalah demi tercapainya keselamatan di akhirat. Itu teralu dogmatis dan membuat saya gemas.

Saya ingin mengkritik pendekatan yang dipakai oleh Gereja dalam upaya mengatasi aneka persoalan sosial di tengah masyarakat. Pendekatan seruan profetis, misalnya, hemat saya sama sekali tidak masuk akal. Untuk menuntaskan kasus human trafficking, Anda tidak mesti menggelar sosialisasi saja lalu mengabaikan aspek lain seperti latar belakang apa yang membuat orang tergiur bekerja di luar negeri. Umumnya, keterbelakang ekonomis merupakan kecenderungan utama yang memunculkan lahirnya masalah di atas. Pertanyaannya, sudah sejauh mana Gereja berperan dalam meningkatkan kualitas ekonomi masyarakat?

Orang hanya akan berdoa jika sudah makan. Filosofi orang Yunani bilang, “dengan perut yang lapar, tidak mungkin ada orang yang sanggup berpikir secara rasional”. Hal tersebut berbanding lurus dengan kritik Karl Marx dalam “Tesis tentang Feuerbach” pada tahun 1845, yakni para ahli filsafat hanya telah menafsirkan dunia dengan berbagai cara; akan tetapi soalnya ialah mengubahnya (nomor 11).

Kualitas Dialog Antaragama

Kualitas dialog antaragama yang dipraktikkan Gereja selama ini masih pada tataran formalitas. Untuk berdialog, tidak wajib mesti digelar di sebuah ruang tertutup dengan menghadirkan pembicara bergelar doktor atau profesor semata. Dialog yang hidup adalah sebuah perjumpaan yang konkret dengan masyarakat. Dan itu yang sering, bahkan tidak pernah dibuat. Kalau pun ada orang yang berani bertindak seperti itu, bisa dipastikan, jumlahnya tidak berbanding lurus dengan aneka masalah sosial yang ditimbulkan oleh konflik antaragama.

Mengirim seorang frater untuk melaksanakan Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di sebuah Pesantren, misalnya, tidak selamanya lalu membuat Anda berpikir bahwa pihakmu sudah menjalankan dialog antaragama. Tidak sesederhana itu. Selain agak institusional dan formal, dialog seperti itu sama sekali tidak mewakili gagasan di atas tadi.

Dialog antaragama baru terjadi jika Anda sudah mencapai pemahaman yang jelas tentang kehidupan konteks agama lain. Dari pemahaman itu, lalu dibuat rekomendasi, dan selanjutnya rekomendasi tersebut dieksekusi melalui kiat-kiat praktis. Soalnya terletak pada apakah rekomendasi itu sudah diterapkan dalam tindakan atau belum.

Nasib Kaum Buruh Migran

Satu hal lain yang mengganggu pemikiran saya selama ini, sudah sejauh mana peran Gereja bagi kaum buruh dan migran? Akhir-akhir ini, dengan perkembangan ilmu teknologi dan informasi, terdapat pemadatan ruang gerak masyarakat di daerah perkotaan.

Demikian juga karena keterbelakangan pendidikan dan sumber daya manusia, warga di  desa lalu memilih bekerja sebagai perantau. Hal itu berimbas pada semakin meningkatnya kuota kaum migran yang, karena ketiadaan tanah baik untuk tempat tinggal maupun sebagai lahan pertanian, memilih tinggal di atas tanah milik orang lain bahkan lebih memilih diam ketika hak-haknya dilecehkan.

Tidak ada intensi politis dalam tulisan ini, tetapi saya kira, Gereja Katolik memiliki banyak lahan (tanah) baik di tingkat lokal maupun global. Daripada tanah kosong itu dibiarkan tak terurus, bagaimana seandainya kalau dimanfaatkan bagi kaum migran? Tidak perlu ada diskusi panjang lebar untuk menghasilkan kesepakatan atas tawaran ini. Ingat! Ketika Anda masih terlalu sibuk berdiskusi apakah memberi roti bagi pengemis atau tidak sementara ia pada akhirnya mati kelaparan, maka Anda adalah seorang pembunuh.

Tindakan pembiaran seperti itu sebenarnya sudah tersurat dengan sangat gamblang dalam rumusan doa “Saya Mengaku” yang didaraskan setiap kali merayakan Ekaristi, “…saya telah berdosa dengan pikiran, perkataan, perbuatan, dan kelalaian…”.

Ekonomi Kerakyatan dan Perekonomian Rakyat

Menuntut umat untuk memberi “sedekah” melalui pungutan tertentu sementara tidak ada upaya yang dibuat untuk mendukung perekonomian mereka merupakan sebuah tidakan “pemerasan” dalam definisi paling halus. Dikatakan pemerasan karena sambil tidak berbuat apa-apa untuk mendatangkan uang bagi si A, dengan seenaknya si B menciptakan kebijakan atas nama keselamatan kekal dan memungut profit dari rasa takut mereka akan api neraka.

Kebijakan parokial akan logis kalau permintaan berjalan seimbang dengan aspek penawaran. Tidak ada logika ekonomi paling cacat sejagat raya ini selain daripada model berpikir seperti itu.

Kesimpulan Sementara

Hipotesis saat ini menunjukkan bahwa Gereja merupakan institusi paling purba namun dengan sikap yang acuh tak acuh. Sambil membicarakan aneka persoalan yang besar dalam konteks yang hebat-hebat, banyak hal kecil dan sederhana justru luput dari perhatiannya. Mengunjungi orang sakit dan telantar itu tidak mesti tunggu ada kebijakan dulu baru dibuat. Melawati orang dengan kebutuhan khusus atau orang dengan gangguan jiwa, tidak selamanya harus melalui regulasi parokial. Siapa saja bisa berbuat baik tanpa perlu beragama, bukan?

hans-hayon

Hans Hayon, Penulis Buku “Tuhan Mati di Biara”, Wartawan dan Redaktur Flores Pos, Tinggal di Ende

Nah, saya heran dengan rasionalitas seperti apa yang melatarbelakangi sikap acuh tak acuh sebagian besar para imam dewasa ini. Karena keterjaminan dan kemapanan hidup, orang lalu diam, malas berpikir, malas bertindak, seolah-olah Tuhan akan turun tangan mengentaskan setiap problem yang melanda masyarakat. Ini kan aneh.

Selain sebagai sebuah anugerah, imamat itu tanggung jawab untuk kau yang bekerja di pastoran, kau yang bekerja di kampus, kau yang bekerja di kebun, kau yang bekerja di hutan, dan kau yang mengajarkan hal-hal baik bagi sesama untuk mengabdi kepada Allah tanpa melalaikan tugas kemanusiaan.*** (Flores Pos, 10 November 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Gereja yang Acuh Tak Acuh

  1. antoniusnesi says:

    Salut untuk tulisan ini. Saya malah pernah perpikir bahwa Gereja itu “pecundang”. Namun demikian, saya sadar bahwa Gereja senantiasa terikat pada struktur. Dan karena struktur, Gereja itu universal dan terbuka. Jadi, tanpa refleksi bersama untuk melahirkan suatu gagasan bersama, analisis dan tujuan konkret dari suatu aksi, kita bisa sesat. Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s