Stigma Sosial versus Moral Sosial

stigma

Oleh Avent Saur

Kalangan masyarakat yang sering mengalami stigma, antara lain penderita kusta, sebagaimana diberitakan Flores Pos, 18 November 2016 (baca klik). Kalangan lainnya adalah penderita HIV/AIDS dan orang dengan gangguan jiwa (orang gila). Demikian juga, orang diabilitas, eks narapidana, orang yang diduga memiliki ilmu hitam (dukun santet), penderita penyakit menular dan pelaku kejahatan. Mungkin juga ada kalangan lainnya.

Inti dari stigma, adalah pandangan negatif tentang orang atau kalangan dimaksud. Mereka direndahkan baik secara apriori (dalam pikiran) maupun secara aposteriori (dalam tindakan). Mereka tidak diperhitungkan baik dari sisi produksi dan moral maupun sisi agama dan budaya. Pandangan yang menyertai “direndahkan” dan “tidak diperhitungkan” adalah bahwa keberadaan kalangan-kalangan itu di tengah masyarakat terasa tidak perlu, malah kehadiran mereka terasa mengganggu arus sosial.

Kehadiran mereka terasa seperti malum (keburukan). Dan malum dalam artinya yang asli, adalah kekurangan dari apa yang sebenarnya ada. Kehadiran mereka terasa sebagai sebuah kekurangan (gangguan, sampah, kotoran) di tengah masyarakat. Karena itu, masyarakat mengisi kekurangan itu dengan cara mencampakkan kekurangan, menempatkan kekurangan itu ke pinggir perhatian.

Karena itu pula, seseorang (atau keluarga) yang berada bersama kekurangan (berada bersama orang atau kalangan yang terstigma) sering kali merasa minder, malu (tidak semua, tetapi mayoritas).

Cara memandang dan cara menindak yang jelas-jelas negatif ini didasari oleh pemahaman yang keliru tentang manusia dan dilandasi oleh kondisi nurani yang keras (tidak peka) terhadap manusia. Bahwasanya dalam lingkaran stigma, manusia dipandang sebagai objek dan alat untuk mencapai ideal tertentu: untuk melancarkan proyek pembangunan, untuk merealisasikan kebijakan politik, untuk menyukseskan kebijakan dan turan agama, untuk mewujudkan ritus budaya dan agama, untuk meraih keuntungan ekonomi, untuk melempiaskan nafsu konsumerisme, hedonisme, keserakahan, egoisme dan lain-lain.

Hal yang berjalan bersamaan dengan cara pandangan objektivisme ini, adalah adanya kenyataan internal setiap individu dalam masyarakat yakni nurani yang keras, yang tidak peduli terhadap kemanusiaan, yang tidak mengindahkan keunikan setiap pribadi.

Cara memandang dan cara menindak seperti ini menodai karakter fundamental manusia sebagai homo sociale. Semestinya homo sociale bukan diwujudkan dengan saling meminggirkan satu satu lain, melainkan untuk “saling mengisi”.

Penderita kusta, misalnya, mesti diperhatikan, bukan malah diabaikan, bukan malah diolok-olok. Orang dengan gangguan jiwa, misalnya, mesti dipedulikan, bukan malah dipinggirkan, bukan malah diganggu, dibunuh, dipasung, diserempet dengan kendaraan, dilempari, dibakar. Penderita HIV/AIDS mesti disemangati, bukan malah dicibir, bukan masalah ditakuti. Eks narapidana mesti dirangkul, bukan malah dicemooh, bukan malah direndahkan.

Dalam “saling mengisi”, setiap orang mesti memandang sesamanya dan menindak sesamanya dengan mengedepan rasa nyaman satu sama lain. Di sana kesetiakawanan (solidaritas) sosial akan tercipta dan kedamaian terwujud. Persatuan akan terlaksana dan toleransi akan bangkit. Kerja sama akan berjalan tanpa adangan dan kemajuan akan mulus melangkah.

Hal ini tentu tidak bakal mulus-mulus saja. Tentu dinamika pasang dan surutnya akan menyata, entah kurang atau lebih. Dan justru karena adanya dinamika ini, desakan moral untuk mengubah stigma diangkat. Namun upaya untuk melawan stigma dengan mengedepankan moral sosial adalah sebuah keharusan.

Ini semacam lonceng sosial yang mesti terus didentangkan, tak peduli apakah sesama kita peduli atau tidak peduli terhadap makna moral dan sosial dari dentangan lonceng tiada henti itu.*** (Flores Pos, 19 November 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s