Tangani Penyakit Kusta, Tanggung Jawab Bersama

Penderita Kusta

Ilustrasi penderita kusta.

Oleh Maxi Gantung

Lewoleba, Flores Pos — Kusta bukan cuma masalah kesehatan pribadi masing-masing atau urusan orang-perorangan melainkan menyangkut nasib hidup banyak orang, eksistensi keluarga, suku , masyarakat, bangsa dan negara dan bahkan menyangkut nasib umat manusia seluruhnya. Karena itu, menjadi tanggung jawab kita bersama dalam pencegahan dan penanggulangannya.

Hal ini disampaikan Deken Lembata, Romo Sinyo da Gomez pada seminar hasil riset intervensi penyakit kusta di Kabupaten Lembata yang diselenggarakan oleh Lembaga Psikologi Terapan Kupang bekerja sama dengan Bappeda Provinsi NTT, di Aula Damian Lewoleba, Rabu (15/11). Seminar dibuka ahli bupati, Bernadus Boli Hipir, dan menghadirkan beberapa pembicara atau nara sumber.

Romo Sinyo da Gomez yang membawa materi “Kesehatan dan Penyakit dalam Perspektif Iman Katolik”, mengatakan, motivasi dan dasar keterlibatan Gereja Katolik dalam karya kesehatan bukan hanya pertimbangan kemanusiaan, melainkan melanjutkan karya penyelamatan Kristus sendiri.

Keprihatinan dan kepedulian Gereja Katolik dalam bidang kesehatan ini, katanya, diwujudnyatakan dalam karya memperbaiki kesehatan dan mutu kehidupan bagi orang.

Menurut Romo Sinyo, penyakit tidak bisa dan tidak, siapa pun boleh pandang secara sempit dan berat sebelah bahwa kusta hanya sebagai serangan kuman dan kemacetan badan kita. Kehidupan manusia merupakan suatu kenyataan kompleks, begitu juga kesehatan dan kesakitan.

“Manusia merupakan kesatuan jiwa dan badan, maka keadaan kita dipengaruhi dan ditentukan oleh badan dan jiwa sekaligus,” katanya.

Stigma Penderita Kusta

Romo Sinyo mengatakan bahwa  penyakit kusta tidak saja menggerogoti fisik seseorang tetapi juga membawa beban psikologis bagi penderita. Hal ini disebabkan karena stigma (pandangan negatif) masyarakat yang memandang kusta sebagai penyakit yang amat memalukan, menjijikkan, penyakit gampang menular, karena itu penderita disingkirkan atau dijauhkan dalam kehidupan bersama.

Stigmatiasi yang amat tidak bersahabat ini, tuturnya, telah menimbulkan tekanan batin dan psikologis yang bisa menyebabkan jauh lebih parah dari sakit fisik sebenarnya.

Lebih lanjut, Romo Sinyo mengatakan bahwa pandangan dan sikap masyarakat yang tidak tepat dan tidak bersahabat terhadap penyakit kusta dan penderitanya serta kerelaaan menyertai mereka dalam situasi yang tidak gampang itu, merupakan tantangan terbesar bagi masyarakat.

Selain itu, lanjutnya, gaya hidup hedonistis, materailistik dan lingkungan yang tidak bersih serta perilaku hidup tidak sehat juga menjadi kendala yang cukup merepotkan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit.

Bisa Sembuh

Sementara Ketua Lembaga Jasa Psikologi Terapan Kupang, Rufus Patty Wutun, yang membawa materi “Kecerdasan Beriman dan Kesehatan Manusia”, mengatakan bahwa cerdas adalah buah dari iman. Cerdas dianugerahkan Allah. Semakin beriman, semakin cerdas.

Menurut Patty Wutun, orang cerdas akan secara tuntas menyelesaikan masalah karena Allah terlibat. Mendengar dan melaksanakan apa yang didengar dari-Nya, tanpa melibatkan rasio manusia. Karena Allah terlibat dan bersama manusia, maka terang Roh Ilahi menuntun rasio menjawab masalah manusia.

Terang yang sama menuntut manusia tiba pada terminal kebenaran, mengalami sekaligus saksi atas kebenaran,” katanya.

Hasil Riset

Rufus mengatakan, ada 33 pasien penyakit kusta seturut hasil pemeriksaan laboratorium RS Damian dan Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata. Hasil riset intervensi yang dilakukan, ada 19 pasien masuk dalam kategori sukses (sembuh), sembuh dari luka, bercak , bintik, sisik bergatal pada kaki, tangan, lengan, rusuk, punggung dan telapak kaki. Kulit pada seluruh tubuh tampak terang, bersih, licin dan halus. Rajin konsumsi jenis makanan yang dianjurkan plus vitamin.

“Setelah lakukan riset intervensi, berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, negatif, atau sembuh,” katanya.

Lebih lanjut, Rufus mengatakan, sebanyak 19 orang yang sembuh ini, wajahnya ceriah, sukacita, bahagia, nyaman, damai, rajin dan optimistis dan bersahabat, rajin berdoa pribadi, ikuti misa pada hari Minggu dan rajin ikuti kegiatan rohani.

Pius Weraman yang mambawa materi “Intervensi Penguatan Sistem Imunitas Diri. Penyembuhan Penyakit Kusta dengan Metode Poration di Kabupaten Lembata”, mengatakan bahwa model dasar penyembuhan atau pembebasan penyakit adalah relasi kita dengan Allah, sesama dan alam semesta.*** (Flores Pos, 18 November 2016)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s