Buku “Demokrasi Minus Diskursus” Karya Romo Silvi M Mongko Dibedah dan Diluncurkan

buku-demokrasi-minus-diskursus

Diskusi buku Demokrasi Minus Diskursus karya Romo Silvianus M Mongko di Aula Assumpta Paroki Katedral Ruteng, Sabtu (26/11). (kiri-kanan) Romo Silvianus M Mongko, Frans Obon (moderator) dan Romo Max Regus.

  • Memprihatinkan, Demokrasi Tanpa Diskursus

Oleh Frans Obon

Ruteng, Flores Pos — Peluncuran dan diskusi buku Demokrasi Minus Diskursus karya Romo Silvianus M Mongko kembali melamentasikan keprihatinan mendalam mengenai praktik politik lokal dan nasional yang berjalan tanpa diskursus yang sehat dan cerdas di ruang publik.

Buku ini, yang merupakan kumpulan opini di tiga media yakni Flores Pos, Pos Kupang dan Media Indonesia, diterbitkan Penerbit Ledalero (2016), diluncurkan dan didiskusikan di Aula Assumpta Paroki Katedral Ruteng, Sabtu (26/11).

Romo Silvianus M Mongko sang penulis dan Romo Max Regus yang juga memberikan prolog buku ini mengantar diskusi dan Frans Obon dari Flores Pos sebagai moderator. Romo Lian Angkur, pastor rekan di Paroki Katedral Ruteng, bertindak sebagai panitia. Baik dalam pembukaan diskusi dan peluncuran maupun dalam acara penutupan, Romo Lian menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang memberikan apresiasi terhadap peluncuran buku karya Romo Silvianus M Mongko ini.

Bentuk Keprihatinan

Romo Silvi, panggilan akrab penulis yang lahir di Namo 31 Juli 1982 ini, mengatakan, buku ini yang merupakan kumpulan opini di berbagai media massa lahir dari ungkapan keprihatinan terhadap praktik demokrasi baik pada tingkat lokal maupun nasional. Anggapan umum mengatakan bahwa politik itu urusan pemerintah.

buku-demokrasi-minus-diskursus-judul

Kover depan

Namun rasa risau muncul setelah menyaksikan minimnya diskursus yang cerdas dan sehat dalam praktik demokrasi di tingkat lokal maupun nasional. Reformasi dan pemberian wewenang yang lebih besar kepada daerah sama sekali tidak berdampak pada makin sehat dan cerdasnya politik pada tingkat lokal.

Romo Silvi mengatakan, studi filsafat terutama filsafat rasionalisme kritis di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero membuatnya menggunakan kerangka filsafat rasionalisme kritis untuk membedah kondisi politik lokal dan nasional.

“Filsafat rasionalisme kritis sangat membantu untuk menilai praktik politik dan politik pembangunan. Diskursus politik adalah sebuah dialog, percakapan yang menggunakan akal sehat untuk mengkritik kondisi sosial politik yang ada tetapi juga kesediaan untuk mengkritik diri sendiri. Diskursus politik juga adalah penggunaan akal sehat untuk memahami secara rasional situasi sosial politik dan politik pembangunan. Dengan demikian diskursus adalah sikap ilmiah untuk memahami secara rasional situasi sosial politik,” kata Romo Silvi.

Hilangnya disikursus politik yang merupakan basis rasional dari ruang publik melahirkan sinisme terhadap kehidupan sosial politik. Oleh karena itu diskursus politik, yang juga tujuan dari buku ini, adalah hendak menggangu kemapanan dan status quo, sekaligus menggugah dan menyadarkan masyarakat mengenai hak-hak politik mereka.

“Demokrasi menuntut keterlibatan rakyat dan karena itu kekuatan demokrasi ada pada rakyat. Karena itu pula demokrasi memiliki mekanisme pertannggungjawabannya kepada rakyat. Demokrasi menuntut agar penyelenggaraan kekuasaan dan pemerintahan harus mengutamakan kepentingan rakyat,” kata Romo Silvi.

Ilusi Kekuasaan

Menurut Romo Silvi, kekuasaan memiliki pesonanya tersendiri sehingga banyak orang mengejar kekuasaan, tetapi sekaligus kekuasaan itu menjebak. Kekuasaan menawarkan segala sesuatu. Oleh karena itu ada ilusi kekuasaan untuk selalu memperluas dirinya tanpa batas.

Dalam konteks ini, lahirlah politik dinasti, politik status quo. Relasi kekuasaan yang dibangun adalah relasi patron-klien, tuang-roeng (tuan-rakyat). Namun aktor politik sering kali keliru menerjemahkan kekuasaan dan tak tahu asal usul kekuasaannya. Oleh karena itu, demokrasi baik dalam konteks pemilu legislatif, pemilihan kepala daerah dan pemilihan kepala desa hanya bersifat prosedural dan mengabaikan dimensi substansial dari demokrasi.

“Ongkos politik yang mahal untuk demokrasi yang disebut pesta itu (pesta demokrasi) melahirkan politik balas jasa dan politik balas dendam. Politik sama sekali tidak menyentuh aspek substantif yakni apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Hal ini disebabkan karena politik kita memang minus diskursus,” kata Romo Silvi.

Di Persimpangan

Romo Max Regus, kandidat doktor dari School of Humanities Tilburg University The Netherlands dalam komentarnya bertajuk “Demokrasi di Persimpangan, Fase Suram Tesis-Tesis Demokrasi” mengatakan, dimensi utama dari demokrasi adalah kebebasan, kontestasi dan partisipasi. Romo Max menyajikan empat fase gelombang demokrasi dan indeks demokrasi negara-negara di dunia.

Menurut Romo Max, 34,1 persen dari populasi dunia masih hidup di negara-negara yang dipimpin rezim-rezim otoriter dan 39,5 persennya hidup di negara-negara yang cacat demokrasinya. Negara-negara Skandinavia seperti Norwegia, Switzerland, Swedia, Finlandia dan Denmark merupakan negara-negara dengan indeks demokrasi tertinggi.

Romo Max di akhir presentasinya mengajak peserta diskusi untuk mengisi ruang kosong yang diabaikan oleh politik kekuasaan yang tidak memihak rakyat. Menurut Romo Max, orang Katolik Flores harus bisa mengisi ruang kosong yang merupakan dampak dari politik yang mengabaikan kelompok-kelompok yang rentan dan terpinggirkan oleh politik kekuasaan dan politik pembangunan.*** (Flores Pos, 29 November 2016)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s