Fenomena “Haters”

haters

Ilustrasi

Oleh Reinard L Meo

Jeder Mensch hat ein eigenes Mass, gleichsam eine eigene Stimmung aller seiner sinnlichen Gefuehle zueinander. – Herder

Artikel sederhana ini bukanlah tandingan terhadap nasihat-nasihat saleh yang kerap meluncur tanpa hambatan dari mulut Mario Teguh. Lebih dari sekadar menganjurkan ‘penguatan’, artikel ini coba menemukan basis, di atas mana kita mesti berani berpikir logis.

reinard-l-meo

Reinard L Meo, Mahasiswa STFK Ledalero (Maumere), Alumnus Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk)

Rasionalitas mendesak kita untuk menjunjung tinggi kebebasan bernalar, termasuk atas sisi-sisi sensitif yang kerap melemahkan kita. Kurang-lebih, inilah alasan mendasar mengapa fenomena haters perlu digeledah dan ditanggapi, salah satunya secara filosofis.

Fenomena Haters

Agaknya, haters telah menjadi tema serentak fenomena yang sudah tak asing lagi di ruang baca atau ruang dengar atau ruang perbincangan kita di era postmodernisme ini. Hate (Inggris) berati membenci. Haters merujuk pada orang yang membenci atau menebar kebencian.

Secara sosiologis, kehidupan bersama dalam sebuah masyarakat merupakan kehidupan yang tidak dapat menghindari aneka benturan. Satu di antaranya, benturan perasaan yang kemudian melahirkan sikap membenci atau saling benci. Jadi, fenomena ini sebetulnya telah ada sejak pertama kali manusia hidup bersama. Hanya bahwa term haters itu sendiri, belakangan ini barulah familiar, terlebih di tengah netizen dalam negeri. Barang kali, biar kekinian.

Dalam observasi pribadi yang coba saya buat, pada gilirannya saya mesti jujur mengatakan bahwa saya pun bosan. Baik di dunia nyata maupun maya, respons terhadap haters telah jadi semacam topik yang hangat bahkan memanas. Lebih-lebih, di dunia maya. Saya bosan, bosan sekali membaca statement yang tersebar di aneka media daring (dalam jaringan) berupa gerutuan pada orang-orang yang suka iri, dengki, cemburu. Singkatnya, yang membuat beberapa teman daring saya sakit hati. Pertanyaan lanjutan dalam observasi itu: apa salahnya kalau diselesaikan baik-baik, biar masalah di dunia nyata tidak diseret ke dunia maya?

Tanggapan Filosofis

Keberanian berpikir logis atau kebebasan bernalar, sejatinya dapat menjadi senjata untuk menganalisis setiap fenomena yang mencuat. Haters dapat pula digeledah, asal saja geliat sensitivitas dapat diredam, demi sebuah pengolahan yang lebih masuk akal.

Menurut filosof asal Jerman, Immanuel Kant, sebagaimana prinsip dasar fenomenologi, yang dapat manusia ketahui itu hanyalah das ding für mich atau fenomena yang tampak. Das ding an sich atau sesuatu dalam dirinya sendiri tak dapat diketahui. Meski kita dapat mengkritik Kant dengan pertanyaan, dari mana Kant tahu kalau das ding an sich itu ada (?), kesimpulan logisnya ialah bahwa orang lain hanya menilai apa yang tampak. Yang paling tahu tentang diri kita hanyalah kita sendiri.

Sebut saja, para fundamentalis kanan (FPI, cs) yang terhormat itu dan sebagian dari kita, hanya menilai Ahok sebagai sosok yang suka marah-marah, yang tidak memiliki etika komunikasi yang ramah. Itu fenomena yang tampak. Bahwa ada maksud yang lebih mulia di balik itu, hanya Ahok yang tahu. Bahkan ada pula hal-hal dalam diri kita yang tak kita ketahui. Kita menyebutnya, misteri.

Filosof besar lainnya, Martin Heidegger, mantan kekasih Hannah Arendt yang juga filsuf itu, menyebut definisi sebagai pemiskinan atas realitas. Definisi itu batasan. Misalnya, orang bertanya, siapa itu Soekarno? Jawaban yang paling cepat ialah “Presiden Pertama Republik Indonesia”.

Ini pembatasan atas realitas Soekarno, karena selain presiden perdana, beliau juga ayah Megawati, pencinta perempuan, proklamator kemerdekaan, korban deportasi yang diasingkan di Ende-Flores, penggagas Pancasila, singa mimbar, dan seterusnya, dan seterusnya, dan masih banyak lainnya. Jadi, ketika seseorang menilai kita, pada saat yang sama mereka sedang memiskinkan realitas kita, yang sebetulnya kaya.

Jeder Mensch hat ein eigenes Mass, gleichsam eine eigene Stimmung aller seiner sinnlichen Gefuehle zueinander. “Setiap manusia memiliki takaran masing-masing, semacam suasana khas rasa inderawi satu terhadap yang lain” (Herder). Kalau kita sepakat dengan Herder, sekiranya: (a) kita bukanlah yang paling benar sehingga menganggap sesama kurang bahkan selalu salah. (b) Ini yang paling penting, kita tidak boleh memaksa orang lain berdasarkan isi kepala kita, sedangkan kita menolak patuh di bawah kemauan orang lain. Dan (c) perlu digarisbawahi secara serius, adalah sebuah kejahatan paling tidak disadari jika kita hanya suka melancarkan kritik, sebaliknya marah besar saat dikritik.

HatersBaru?

Betapa pun rasionalitas senantiasa mendesak kita untuk berpikir logis, perkara isi hati tetap dengan warnanya sendiri. Ini berarti tiga tanggapan yang telah diuraikan di atas tidak serta-merta menjadikan setiap orang itu sabar ketika mendapat perlakuan atau penilaian yang tidak benar dari sesama. Siapa pun, kapan saja, dan di mana-mana, marah merupakan hak asasi yang bebas diekspresikan dengan cara apa saja, sejauh wajar. Namun, apakah respons kita terhadap haters kemudian menjadikan kita haters baru? Untuk pertanyaan inilah, artikel ini saya maksudkan.

Setiap kali membaca statement atau meme yang ditampilkan di aneka media daring, saya kadang berpikir, respons terhadap haters betul menjadikan kita haters baru. Kita meluapkan segala apa yang mengganjal di hati, dengan bahasa yang tak kalah menyakitkan, atau paling kurang, menyinggung.

Sadar atau tidak, pada saat yang sama, kita juga sedang menebar kebencian kita kepada haters. Kita haters baru? Kendati kita berhak untuk itu, semoga tidak demikian. Semoga apa yang kita luapkan itu, betul-betul sekadar membuang energi negatif yang tidak penting, yang sedikit mengganggu.

Akhirnya, sekali lagi, artikel ini bukanlah tandingan terhadap nasihat-nasihat saleh Mario Teguh atau khotbah Minggu yang dipersingkat. Artikel ini hanya coba menawarkan basis, di atas mana kita mesti berani berpikir logis. Dan ingat, yang dapat kita ketahui itu hanyalah das ding für mich, sedangkan Das ding an sich tak dapat diketahui, demikian petuah bijak Kant.*** (Flores Pos, 29 November 2016)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s