Guru

Oleh Avent Saur

guru-mengajar

Guru

Surakarta, tempat awal kisah lahirnya penghormatan formal terhadap guru. Di situ dan dari pelbagai pelosok Nusantara, guru-guru kala itu berkumpul mengukir Kongres Guru Indonesia. Tanggal 24-25 November 1945. Hari terakhir, Persatuan Guru Republik Indonesia dibentuk resmi, Hari Guru Nasional mulai dirayakan.

Nah itu kisah. Awal penghormatan formal. Namun bagai dua sisi mata uang, bukan cuma penghormatan, melainkan juga guru diberikan tanggung jawab “mengajar” untuk anak Tanah Air. Kemudian ada tanggung jawab membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi, semuanya itu adalah tambahan. Tetapi tetap melekat. Sebab tiada tindakan mengajar tanpa membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, mengevaluasi.

Kemudian lagi, tiada mengajar tanpa berinovasi. Dan kemungkinan tambahan-tambahan lainnya yang esensial (esensiil: kata tidak baku) seturut perkembangan peradaban zaman.

Bagaimana penghormatan dan tanggung jawab itu menyata dari waktu ke waktu hingga kini, ceritanya tentu panjang, kisahnya pasti lama. Namun tidak berarti tidak bisa dibicarakan, tidak mampu dituturkan.

Mungkin itu semua bisa mengental dalam dua hal: penghormatan dan tanggung jawab itu direalisasikan ‘sungguh’ pada satu sisi, serta penghormatan dan tanggung jawab itu diamalkan ‘samar-samar’ pada lain sisi. Bukan lagi bagai dua sisi mata uang atau paradoks kenyataan, melainkan realitas kontradiktif (bertentangan).

Kita tahu guru-guru menjamur di tempat tertentu, sebaliknya tandus di tempat lain. Kita juga tahu, lembaga pendidikan berkembang banyak di tempat tertentu, sebaliknya miskin dan susah payah di lain tempat. Pada tempat-tempat itu dan pada guru-guru itu, realitas kontradiktif tadi ada: (sekali lagi) penghormatan dan tanggung jawab itu direalisasikan sungguh pada satu sisi, serta penghormatan dan tanggung jawab itu diamalkan samar-samar pada lain sisi. Karena itu, kembali menoleh jauh ke belakang bahkan sejauh mungkin adalah satu tindakan pantas berkenaan dengan Hari Guru Nasional kemarin.

Toleh jauh ke belakang, apa itu? Ada konsep usang masa silam, dahulu sekali. “Dulu banget,” ungkapan pasar kaum muda postmodernisme (kini), tetapi ia tak lekang waktu. Di Mesir dan Israel sebagai bangsa tertua di dunia, guru itu melekat pada orang berstatus imam (agamawan) atau nabi (agamawan sekaligus kritikus sosial). Dari mereka, ilmu-ilmu diperoleh. Itu secara formal, pun non formal.

Ilmu baru itu semacam jembatan yang dilewati orang menuju keselamatan. Keselamatan pada kondisi di sini dan kini (conditio sine qua non) dan keselamatan pada kondisi parousia (kelak). Secara fundamental (dasariah), manusia cenderung kepada keselamatan itu. Karena itu, orang berlomba-lomba mencari guru dan ingin melintasi jembatan itu. Itu di Mesir dan Israel. Belum di negara-negara lain dan aliran-aliran agama tua.

Nah di Indonesia? Tentang guru dan pendidikan, Ki Hadjar Dewantara adalah orangnya. Dan biar kita tahu nama asli beliau, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, lahir di Pakualaman 2 Mei 1889 (Hari Pendidikan Nasional), wafat di Yogyakarta 26 April 1959, usia 69 tahun, pahlawan nasional kedua dalam sejarah gelar kepahlawanan Bangsa Indonesia.

Dari orang hebat ini, diperoleh sembonyan luhur berbahasa jawa: ing ngarsa sung tuladha (di depan memberikan contoh), ing madya mangun karsa (di tengah memberikan semangat), tut wuri handayani (di belakang memberikan dorongan). Dengan sembonyan ini, Ki memahami pendidikan bukan hanya semata perihal ilmu baru melainkan terutama soal pembentukan kepribadian manusia.

Dengan begini, tanggung jawab guru tampak berat, seberat arti harfiah kata “Guru” dalam bahasa Sanskerta, bukan semata-mata tentang profesi berfaedah ekonomi.

Jadi pada Hari Guru Nasional, penghormatan dan tanggung jawab melekat satu sama lain.*** (Kolom “Bentara”, Flores Pos, 28 November 2016)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s