Kejahatan Tambang

Oleh Avent Saur

tambang-galian-c

Tambang galian C

Setelah sekian lama begitu sunyi, kini cerita tentang tambang muncul lagi. Di Kabupaten Sikka tepatnya, di Dusun Ratekalo, Desa Bhera, Kecamatan Mego.

Pertambangan galian C bermasalah lantaran penambang melakukan eksploitasi tidak sesuai dengan kesepakatan dalam izin usaha pertambangan (IUP). Area eksploitasi yang disepakati hanya 100 kali 30 meter, kini meluas menjadi sekitar 300 kali 100 meter. Tanda-tanda kerusakan lingkungan pun mulai muncul.

Atas dasar itu, warga Ratekalo menempuh hukum sendiri, memblokir jalan menuju pertambangan. Baru kemudian, pemerintah turun ke lapangan, entah bagaimana hasil pantauan dan pembicaraannya, hingga kini belum diketahui.

Tidak ada pihak lain yang paling bertanggung jawab terhadap persoalan ini selain penambang dan pemerintah. Kesalahan ini sangat fatal. Bayangkan, pelanggarannya sangat besar dan mahal. Sekitar 200 persen penyimpangan eksploitasinya. Beruntung warga tampak kritis, sekalipun terbilang cukup terlambat.

Penyimpangan ini bukan cerita baru. Di mana-mana, kapitalis dan pemerintah sering kali bersekongkol (busuk) untuk merengkuh keuntungan di atas kerugian warga. Padahal dalam investasi apa pun namanya, menjual kesejahteraan rakyat adalah suatu visi konstekstual yang selalu dikejar. Namun dalam kenyataan, justru selalu rakyat yang menjadi tumbal, rakyat selalu dijual murah untuk kepentingan elite kekuasaan politik dan kekuasaan ekonomi.

Sederhana (bukan menyederhanakan) saja sebenarnya, kalau pemerintah dan kapitalis sungguh benar-benar mau menginvestasi seturut izin atau kesepakatan, supaya penyimpangan terhindari. Batas area pertambangan, misalnya, ditentukan pada awal sebelum eksploitasi. Hanya sampai pada batas itulah, penambang beraktivitas.

Ketika tiba waktunya sampai pada batas itu, maka dengan sendiri berhenti, meninggalkan area dan melakukan pemulihan apabila memang sudah disepakati. Aktivitas pertambangan melampaui batas itu adalah sebuah kejahatan ekonomi dan pelanggaran izin yang mesti diberikan sanksi.

Demikian juga pada pihak kekuasaan politik. Elite kekuasaan sebenarnya kalau benar-benar mau bahwa eksploitasi tidak sampai destruktif dan tidak menyimpang, maka pemerintah mesti selalu melakukan pengawasan yang ketat dan rutin terhadap aktivitas pertambangan. Dengan begitu, kemungkinan pelanggaran dan perusakan bisa diatasi atau dikendalikan jauh-jauh sebelumnya.

Dalam konteks eksploitasi galian C di Ratekalo itu, sejauh mana pengawasan yang ketat dan rutin itu dilakukan elite kekuasaan? Munculnya penyimpangan dan kerakusan para penambang menunjukkan bahwa pengawasan itu jauh panggang dari api, jauh harapan dari kenyataan. Lebih miris lagi, apabila ketiadaan pengawasan dilatari oleh persekongkolan ekonomi destruktif (jahat) antara kekuasaan ekonomi dan kekuasaan politik.

“Teruskan saja. Toh warga tidak tahu banyak tentang hal-hal pertambangan.” Bisa jadi, ungkapan kesepakatan jahat seperti inilah yang ada di balik penyimpangan eksploitasi di mana saja.

Namun apa hendak dikata, semuanya bergantung pada kekuasaan. Kekuasaan memang entah sejak kapan dalam rentang usia bumi ini, selalu tampak kuat tak tertandingi. Demonstrasi dan aksi pemblokiran serta pengadangan, hanya itu-itu sajalah yang bisa dilakukan oleh warga yang notabene selalu lemah dan selalu menjadi tumbal. Lebih dari itu, warga tidak bisa melakukan apa-apa.

Menilik pertambangan selalu melahirkan kejahatan, pertanyaan bernada negatif selalu dengan sendirinya muncul. Apakah kerakusan melekat secara hakiki dalam diri kapitalis? Apakah kecenderungan pada uang berbaur dalam darah elite kekuasaan?

Semestinya, kekuasaan ekonomi bekerja bersama kekuasaan politik untuk mengangkat warga dari keterpurukan ekonomi dan ketidaksentuhan pengabdian politik. Tetapi hal yang semestinya ini selalu tidak spontan tampak ke ruang publik.

Bertolak dari sinilah, mayoritas warga memandang kekuasaan dan kapitalisme selalu negatif, sekalipun justru semakin banyak orang berlomba-lomba ingin meraih rezeki pada dua ladang ekonomi tersebut. Sebaliknya, sekalipun minoritas saja, warga yang berinisiatif menolak kejahatan pertambangan patut diapresiasi dan didukung.*** (Kolom “Bentara”, Flores Pos, 30 November 2016)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s