Komitmen Mengabdi

seminar-100-tahun-ssps

Seminar dalam rangka seabad SSpS Indonesia. Tampak narasumber (kiri-kanan) Pater Hubert Thomas Hasulie SVD, Kepala pemerintahan Umum Setda Sikka Bapak Josef Benyamin, moderator Pater Ve Nahak SVD, dan Suster Ines Surat Lanan SSpS.

  • Satu Abad Pengabdian SSpS Indonesia

Oleh Avent Saur

Pengabdian tidaklah lain dari pada upaya memenuhi kebutuhan. Secara sosial dan politis, atau dalam kerangka agama, secara misioner atau dakwah, kebutuhan itu diidentifikasi dengan dua cara. Pertama, orang yang memiliki kebutuhan menyatakan kepada sesamanya bahwa ia membutuhkan pengabdian (pertolongan). Kedua, sesama merasa dan melihat bahwa orang di sekitarnya memiliki kebutuhan yang perlu diisi.

Pada poin kedua, yang berinisiatif memenuhi kebutuhan itu adalah sesama (pengabdi), dan boleh jadi ada dua reaksi: menerima pengabdian atau menolak pengabdian. Tetapi inisiatif dan penawaran pengabdian hendaknya selalu ditunjukkan. Entah ditolak atau diterima, itu bukan persoalan utama.

Entah poin pertama ataupun poin kedua, upaya memenuhi kebutuhan sama sekali bukan sekadar membuat orang lapar menjadi kenyang, misalnya, lalu tidur, kemudian menunggu lapar dan kenyang berikutnya. Bukan!

Setelah orang kenyang, semestinya kekenyangan itu menjadi sebuah kekuatan untuk mengusahakan secara bersama memenuhi kelaparan berikutnya, atau bahkan bersama dengan orang kenyang itu memenuhi kebutuhan orang lapar lain di sekitarnya.

Ini disebut pemberdayaan. Dan ini pulalah yang dinamakan solidaritas: merasa sepenanggungan, mengalami bersama kelaparan dan kekenyangan, menikmati hidup secara bersama. Sebab toh kita homo sociale.

Berdasarkan ini, maka homo sociale bukan diwujudkan sekadar dengan relasi untuk komunikasi tukar-menukar informasi, memberikan dan menerima ilmu baru, saling menatap dengan senyuman dan saling mendengarkan dengan penuh perhatian. Bukan!

Homo sociale hendaknya diaktualisasikan sampai pada tindakan saling memenuhi kebutuhan dasariah, saling memberdayakan. Karena itu pula, dalam pengabdian yang didasari oleh hakikat homo sociale, kewajiban moral adalah ekspresi terlampau penting.

Pengabdian yang dijiwai kewajiban moral (apalagi ditambahkan dengan moral religius), ada dua hal praktis yang melekat erat. Pertama, pengabdian yang kuat sekaligus murni dijalankan bukan karena orang menuntutnya kepada kita. Kalau orang sampai menuntutnya pada kita, itu berarti sebelum penuntutan, kita telah lalai atau bahkan kurang atau tidak peka. Term ekstremnya, kita adalah diri yang eksklusif, tertutup. Sebelum orang menuntut, kita mesti lebih dahulu melakukannya.

“Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu” (Lukas 19:5). Mungkin seperti kata Sang Guru kita itu.

Kedua, pengabdian yang kuat sekaligus murni mesti melampaui kewajiban formal yang tergaris dalam program dan kebijakan sistematis. Jika tidak melampaui ini, maka “pengabdi yang standar” adalah salah satu poin dalam litani keluhan orang-orang yang kepadanya kita mengabdi. “Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu?” (Lukas 6:33).

Kongregasi misi Abdi Roh Kudus (Servae Spiritus Sanctus atau SSpS) yang didirikan Santo Arnoldus Janssen 8 September 1889 dan yang hadir di Indonesia pada 1917 (kini bulan-bulan terakhir mencapai satu abad), kurang atau lebih mesti mewujudkan kewajiban moral religius ini.

Dengan cara misi seperti ini, “kesaksian hidup bahwa Allah itu baik”, sebagaimana disinggung Pater Hubert Thomas dalam seminar seabad pengabdian SSpS, dialami secara sungguh oleh siapa pun. Demikian juga, hubungan dialektif antara ibadah dan misi, kontemplasi dan aksi, kultus dan praksis, sungguh mendapat tempat dalam para SSpS pengabdi.

Kalau konsep misi bersama komitmennya sudah dijalani selama seabad ini, pantaslah disyukuri. Kalau tidak ataupun cuma sedikit atau masih ada kekurangan, maka memperkuat komitmen dan aktualitasnya adalah sebuah keharusan yang tidak boleh ditunda.*** (Kolom “Bentara”, Flores Pos, 29 November 2016)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s