Melakukan Demokrasi

Oleh Avent Saur

buku-demokrasi-minus-diskursus-judul

Demokrasi itu mudah dibicarakan bagi orang yang tahu substansinya (integritas intelektual). Apalagi kemampuan retorisnya memadai. Tetapi juga demokrasi kadang sulit dibicarakan mana kala orang kurang tahu substansinya, apalagi kemampuan retorisnya pas-pasan. Tentang orang yang kurang memadai ini, demi citra baik di mata publik, ia akan tetap tampil percaya diri dan menyatakan tahu.

Dalam kenyataan, orang yang integritas intelektualnya memadai ternyata sulit melakukan demokrasi. Apalagi orang yang integritas intelektualnya kurang memadai.

Mengapa sulit? Sekalipun tidak semuanya buruk (sedikit saja baiknya), kesulitan itu dilatari oleh maksud asli seseorang dalam mengejar kekuasaan. Kapital dan takhta (juga prestise) adalah penghambat utama bagi nyatanya kelakuan demokrasi.

Tidak perlu jauh-jauh mencari contoh yang sulit, sederhana saja. Misalnya, proyek pembangunan yang kualitasnya rendah. Kualitas rendah lantaran penguasa “menghadiahkan” proyek itu kepada para kapitalis yang saat suksesi pesta demokrasi menjadi sponsor. Sistem hadiah ini beriringan dengan kurangnya pengawasan pelbagai pihak terkait, entah dinas terkait dan legislator, maupun orang nomor satu itu sendiri. Kekompakan destruktif ini juga berjalan beriringan dengan mental kapitalis yang mengutakan keuntungan proyek daripada kepentingan-kebutuhan rakyat sebagai subjek pembangunan.

Mengapa hal pembangunan ini dikaitkan dengan demokrasi? Sudah diketahui secara luas bahwa hakikat demokrasi sebagaimana telah lama dikatakan Abraham Lincoln (Presiden Amerika Serikat 1861 sampai terbunuh 1865) adalah “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”. Bahwasanya kekuasaan yang telah direngkuh dan dimainkan (sering kali dipermainkan) oleh penguasa adalah bersumber dari rakyat yang dalam konteks Indonesia dengan sistem demokrasi langsung. Karena itu, penguasa mesti memperlakukan bukan sebagai miliknya, melainkan milik rakyat.

Karena itu pula, ketika penguasa menggunakan kekuasaan itu untuk memutuskan dan melakukan kebijakan pembangunan rakyat, keterlibatan rakyat adalah sebuah keharusan. Bahwasanya, kebijakan pembangunan mesti atas dasar kebutuhan nyata rakyat, bukan kepentingan sempit penguasa dan kroni-kroninya. Dengan cara inilah, demokrasi akan benar-benar disebut “oleh rakyat”.

Kalau kekuasaan itu dipahami dalam kerangka “dari rakyat” dan dijalankan secara nyata seturut demokrasi “oleh rakyat”, maka kekuasaan dan demokrasi “untuk rakyat” bukan tidak mungkin akan benar-benar menjadi nyata.

Namun kita semua harus jujur mengatakan bahwa kurangnya diskursus dalam melakukan hakikat demokrasi tersebut membuat demokrasi itu sangat ternoda, dan nodanya tidak main-main, memprihatinkan. Berikut noda demokrasi berakibat pada tidak majunya rakyat dalam beragam aspek. Dalam bahwa Silvi M Mongko dalam karya perdananya, “Demokrasi minus diskurs”.

Secara sederhana, kurangnya diskursus membahasakan kurangnya kebajikan nalar atau ratio dalam melakukan demokrasi. Kebijakan dan keputusan penguasa lebih diwarnai kepentingan kerdil dan sempit, lalu mengabaikan kepentingan lebih luas, publik, massa rakyat. Kerdil dan sempit kebijakannya, tetapi sekaligus jangkauan kekuasaannya diperluas oleh karena hak veto dengan mencampuradukan karakteristik penguasa dan kepentingan lain ke dalam kekuasaan yang sebenarnya berhakikat baik dan dedikatif.

Hal ini diperparah oleh adanya benteng kebal kritik. Atau bisa jadi, penguasa menyatakan dirinya dalam kata “tidak kebal kritik”, tetapi dalam kenyataan pernyataan itu sulit tampak. Kalau Santo Yakobus dalam Kitab Suci Katolik mengatakan, “iman tanpa perbuatan adalah mati”, maka dalam konteks kekuasaan politik, “pernyataan tanpa kenyataan adalah penipuan tingkat dewa, adalah sebuah kecelakaan” yang kalau disadari dengan baik mesti dipulihkan segera. Tetapi sering kali, terhadap kritik ini, selalu terdengar perkataan ini: “siapa peduli, apa hendak dikata”.*** (Kolom “Bentara”, Flores Pos, 1 Desember 2016)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s