Membentuk Karakter, Agama Mainkan Peran Sentral

  • Seminar HGN di SMAK dan SMKK Syuradikara Ende

Oleh Silvano Keo Bhaghi

Ende, Flores Pos — Agama memainkan peran sentral dalam proses pembentukan karakter (character building). Sebab tugas agama ialah membentuk akhlak orang, mendidik manusia agar hidup sesuai prinsip-prinsip moral dan tanggung jawab.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dosen STFK Ledalero, Maumere, Pater Otto Gusti SVD

Hal ini disampaikan oleh Dosen Filsafat Politik STFK Ledalero, Pater Otto Gusti Madung SVD dalam seminar pendidikan karakter bertajuk “Pendidikan Karakter dalam Perspektif Religius Kebangsaan” memperingati Hari Guru Nasional (HGN) Ke-71 di Aula SMAK Syuradikara Ende, Jumat (25/11). Hadir dalam seminar tersebut civitas academica SMAK-SMKK Syuradikara Ende.

“Pertanyaannya ialah agama atau spritualitas model mana yang sanggup memberikan kontribusi bagi pembentukan karakter manusia dalam pengertian ketangguhan moral ketika berhadapan dengan godaan kekayaan untuk tidak korupsi, selalu hidup berdasarkan nilai-nilai fundamental seperti kebebasan, persamaan, keadilan dan hak-hak asasi manusia?” katanya.

Pater Otto mengatakan, “kita sering menyaksikan fenomena paradoksal. Di satu sisi, kita adalah masyarakat religius dengan tempat ibadat yang selalu dipenuhi oleh orang-orang yang khusyuk berdoa. Di lain sisi, korupsi, praktik intoleransi, kekerasan, ketidakadilan sosial, dan kemiskinan jamak kita jumpai di ruang publik. Doa menjadi kesalehan pribadi yang steril terhadap masalah sosial”.

“Mengapa doa dan praktik keagamaan tidak berdampak pada kualitas moralitas publik? Salah satu penyebabnya adalah pandangan yang cenderung menempatkan agama sebagai urusan privat tanpa relevansi sosial dan pertanggungjawaban publik,” katanya.

Menurut Pater Otto, akar dari hal ini adalah tendensi sekularisme yang mendomestifikasi agama bahkan Allah di ruang privat. Allah yang dikurung di ruang privat adalah Allah yang tidak diberikan kemungkinan untuk mengganggu atau menggugat kemapanan pribadi,” katanya.

Pater Otto mengatakan, doa tanpa tindakan kasih dan keterlibatan sosial adalah sebuah bentuk pelarian. Doa hanyalah salah satu aspek kehidupan spiritual.

“Paus Fransiskus pun menekankan aspek revolusioner dari spiritualitas dan doa. Ini sejalan dengan adagium klasik: lex orandi, lex credendi dan lex convivendi. Artinya cara kita berdoa menentukan cara kita beriman dan menjalin relasi sosial. Keterputusan dari relevansi sosial akan membuat doa rentan dimanipulasi dan mudah disusupi oleh kepentingan politik kekuasaan,” katanya.

Agama dan Konteks Kebangsaan Multikultural

Menurut Pater Otto, peran publik agama hanya mendatangkan kebaikan bersama jika ia tetap menghargai prinsip kebhinekaan dalam tatanan sosial. Artinya di ruang publik, pesan agama tetap taat pada roh pencerahan dan ilmu pengetahuan dengan menunjukkan sikap terbuka terhadap filter kritik publik.

“Kiprah publik agama dalam masyarakat plural juga harus berpijak pada prestasi-prestasi yang telah dicapai sekularisasi seperti diferensiasi sistem-sistem sosial, pengakuan paham hak asasi manusia, pemisahan antara hukum dan negara konstitusional demokratis di satu sisi dan agama di lain sisi. Tanpa taat pada prinsip ini, kehadiran agama di ruang publik lebih mendatangkan banyak kutuk ketimbang berkat bagi kemanusiaan,” katanya.

Menurutunya, peran publik agama yang memperhatikan semangat kebhinekaan sesuai dengan semangat kebangsaan Indonesia yang multikultural. Bangsa Indonesia didirikan bukan sebagai ethnic nation, melainkan civic nation. Artinya bangsa ini tidak dibangun berdasarkan ikatan emosional kesamaan darah, agama atau keyakinan.

“Konsep bangsa Indonesia sejalan dengan ide tentang bangsa sebagai komunitas bayangan Ben Anderson. Bayangan pada tempat pertama mengungkapkan gambaran mental yang mengikat anggotanya. Lebih dari itu, bayangan juga merupakan gambaran mental yang mampu mengkonstruksikan sebuah realitas politik,” katanya.

Menurut Pater Otto, dengan memperhatikan prinsip civic nation dan prinsip kebhinekaan peran agama di ruang publik akan menjadi sumbangan besar bagi formasi karakter bangsa dalam arti ketangguhan moral.

Tiga Unsur Kebudayaan

Sementara itu, Dosen Universutas Flores, Simon Sira Paji, dalam makalahnya yang bertajuk “Pendidikan Karakter dalam Perspektif Sosiokultural” mengatakan, terdapat tiga hal dalam kebudayaan yang memengaruhi pembentukan karakter seseorang, yakni norma sosial, pengaruh teman sebaya dan lembaga sosial. Menurutnya, pendidikan karakter mesti dimulai dari keluarga sebagai dasar pendidikan karakter anak.

“Keluarga kemudian memercayakan pendidikan anak lanjutan kepada lembaga pendidikan formal yang memberikan pengetahuan dan keterampilan hidup modern kepada anak,” katanya.

Menurut Paji, lembaga pendidikan formal mesti mengambil bagian dalam pendidikan karakter anak bangsa. Dalam lembaga pendidikan formal, proses pewarisan budaya meliputi tiga aspek, yakni pengetahuan, keterampilan dan sikap.

“Pembentukan karakter di sekolah tidak boleh dilaksanakan dalam bentuk mata pelajaran atau mata kuliah, tetapi melalui keteladanan dalam lingkungan. Dalam hal ini, sekolah menjalankan peran ganda, yakni mengajarkan pengetahuan dan keterampilan di satu sisi dan melaksanakan pembangunan karakter di sisi lain,” katanya.

Menurut Paji, sekolah tampaknya lebih menekankan pengajaran tentang pengetahuan dan keterampilan dari pada pendidikan karakter. Menurutnya, pembentukan karakter mesti menjadi muara dari proses pendidikan formal.

“Seluruh perilaku guru di dalam kelas akan menjadi bahan dalam pendidikan karakter. Oleh karena itu, guru harus memiliki integritas karena ia adalah model bagi anak didiknya,” katanya.*** (Flores Pos, 26 November 2016)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s