SSpS Flores Bagian Timur Gelar Seminar Seabad Pengabdian

seminar-100-tahun-ssps

Seminar dalam rangka seabad SSpS Indonesia. Tampak narasumber (kiri-kanan) Pater Hubert Thomas Hasulie SVD, Kepala pemerintahan Umum Setda Sikka Bapak Josef Benyamin, moderator Pater Ve Nahak SVD, dan Suster Ines Surat Lanan SSpS.

  • Berkarya di Indonesia Sejak 1917

Oleh Kristo Suhardi

pater-hubert-hasulie-svd

Pater Hubert Thomas Hasulie SVD

Maumere, Flores Pos — Kongregasi religius SSpS Provinsi menyelenggarakan seminar sehari dalam rangka merayakan seabad atau 100 tahun karya pengabdian di Indonesia bertempat di Aula Santa Teresia Avila, Maumere, Sabtu (26/11).

Seminar menghadirkan tiga orang narasumber, antara lain Suster Ines Surat Lanan SSpS, Pater Huber Thomas SVD dan Kepala pemerintahan Umum Setda Sikka Bapak Josef Benyamin. Tema seminar, “Dalam Sukacita Roh Kudus Bersyukur dan Melanjutkan Bakti, Karya Misi SSpS di Indonesia Kemarin, Hari Ini, dan ke Depan,” dengan moderator Pater Ve Nahak SVD.

Tiga Misi

Suster Ines SSpS dalam pemaparan materinya mengungkapkan fakta dan sejarah kehadiran dan pengabdian kongregasi SSpS di bumi Indonesia. Kongregasi SSpS telah sungguh menoreh sejarah, sejarah pengabdian dan keberpihakan kepada kejayaan harkat dan martabat manusia.

Kongregasi SSpS hadir dan menginjakkan kaki di bumi Indonesia, tepatnya di Lela pada tahun 1917. “Sejak awal kehadirannya di Indonesia, SSpS berkonsentrasi penuh pada tiga bidang karya misi, yaitu pendidikan, kesehatan dan sosio-pastoral,” kata Suster Ines.

Menurutnya, SSpS menyelenggarakan pendidikan untuk tujuan membantu mencerdaskan masyarakat. Pada masa-masa awal kedatangan SSpS di Indonesia, ada banyak orang yang buta aksara  dan tidak punya keterampilan dalam menopang hidup. Fakta demikian mendorong SSpS mengambil langkah serius pada misi di bidang pendidikan.

Di bidang kesehatan, SSpS menyediakan pelbagai sarana pengobatan seperti poliklinik dan rumah sakit. Tujuannya, membantu sebanyak mungkin orang memperoleh pelayanan kesehatan yang baik.

Sementara itu, di bidang sosial pastoral, kata Sr Ines, SSpS berkosentrasi pada aksi-aksi sosial karitatif. Membantu orang yang berkekurangan dan membutuhkan pertolongan.

Tantangan

Suster Ines juga mengungkapkan bahwa perjalanan karya misi SSpS di Indonesia tidak luput dari pelbagai tantangan dan hambatan. Sejak awal, pada masa kolonialisme Jepang, tidak jarang para suster ditawan dan dihalang-halangi. Dalam perjalanan selanjutnya tantangan-tantangan selalu saja menghantui, tetapi putri-putri Arnoldus tidak gentar. “Sebab kami bekerja dalam keyakinan penuh pada penyertaan Allah,” ujarnya.

Maka, merayakan 100 tahun karya misi, lanjutnya, adalah momen refleksi atas misi dan hidup. Sebuah momen untuk melihat profesionalitas dan terutama merupakan perayaan pembebasan bersama mereka yang tertindas dan terdiskriminasi dalam masyarakat.

Menilai dan Mengharapkan Peran SSpS

Pembicara lain, Josef Benyamin, menyampaikan bahwa siapa pun tentu boleh menilai peran dan sepak terjang SSpS di Indonesia, khususnya di Kabupaten Sikka. Di wilayah Sikka, SSpS telah terbukti sebagai sesama yang punya keberpihakan yang jelas dan sangat serius dalam upaya membantu dan memberdayakan kaum perempuan, kaum rentan yang banyak dibatas dan didiskriminasi dalam masyarakat.

Sejak awal kehadirannya di wilayah Sikka, para suster SSpS turun langsung ke ranah paling bawah di masyarakat, yaitu ibu-ibu dan perempuan-perempuan yang tidak tahu apa-apa.

“Para suster melatih mereka pelbagai keterampilan yang kemudian mampu menopang kehidupan ekonomi mereka,” katanya.

Lebih lanjut, Josef menyampaikan bahwa untuk misi di era global atau era keterbukaan seperti sekarang ini, SSpS mesti mampu menampilkan gaya baru yang tidak eksklusif dan sesuai zaman.

Misi Profetis dan Profesional

Pastor Huber Thomas dalam pemaparannya menyatakan, karya misi mesti didefinisikan secara tepat. Karya misi bukan sekadar usaha memperoleh keselamatan jiwa, bukan juga terutama memperbesar jumlah anggota atau kemegahan institusi, melainkan juga memberi kesaksian bahwa Allah itu baik.

Menurutnya, orientasi misi SSpS mesti tetap bersandar pada orientasi Gereja kultis, dalam pengertian yang benar yaitu adanya hubungan dialektis antara ibadah atau doa dengan karya.

“Dalam konteks misi profetis, SSpS tidak hanya membutuhkan anggota-anggota yang memiliki keterampilan tinggi tetapi juga berhati baik dan punya komitmen tinggi pada upaya membangun Republik Allah yang nyata di dunia,” katanya.

Bermitra dengan Pihak Lain

Dalam kaitan dengan upaya membangun Republik Allah, Paterr Hubert Thomas menyampaikan bahwa SSpS mesti tetap mempertahankan metode kerja berjejaring. SSpS dalam kerja sama dengan pihak lain bertugas menjadikan keluarga dan dunia sebagai shelter kecil, rumah aman bagi masyarakat.

Menanggapi pernyataan Pater Huber, seorang peserta seminar, Samson, menanyakan apakah mungkin visi dan misi serta renstra SSpS dapat diberikan kepada pemerintah agar kemudian dapat menyesuaikan atau disesuaikan dengan RPJMD sehingga kemudian agama dan negara dapat  bekerja sama dalam membantu rakyat?

Menjawabi hal ini, Pater Huber Thomas menyampaikan bahwa agama dan SSpS boleh-boleh saja bermitra dengan pemerintah tetapi tetap harus menjaga batas antara negara dan agama agar negara dapat menjalankan tugas konstitusionalnya dan agama menjalankan misi profetis.

Komitmen

Ketua Panitia Perayaan 100 Tahun SSpS Provinsi SSpS Flores Bagian timur, Suster Thomasin Beding SSpS pada bagian akhir acara menyatakan komitmennya.

“Kami sebagai SSpS akan terus berkarya mengemban misi Allah di dunia dalam keyakinan penuh akan penyertaan Roh Allah sendiri. Kami punya keyakinan bahwa kami adalah perempuan-perempuan profetis yang tangguh dalam menjalankan misi Allah. Maka, mari berjalan bersama kami dalam mengantar semakin banyak orang kepada Allah,”’ katanya.

Selain itu, Suster Thomasin juga menyinggung bahwa ada orang yang mengatakan SSpS kolot dan eksklusif. “Dengan tegas, kami menyatakan tidak! Kami hanya selalu berusaha konsisten dan tetap hidup berdasarkan spiritualitas kongregasi sebagaimana digariskan Bapa pendiri, Arnold Janssen.  Kami tidak eksklusif, sebab dalam formasi dan misi SSpS selalu ada dimensi dan ruang dialog dengan semua mereka yang beraliran lain,” tuturnya.*** (Flores Pos, 28 November 2016)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s