Tuhan dan Obat

odgj

ODGJ terpasung

Oleh Avent Saur

Praksis kepedulian terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang dimulai Kelompok Kasih Insanis (KKI) Ende sejak beberapa waktu lalu, kini diadang jalan buntu. Predikat ODGJ sebagai orang miskin yang terpinggirkan (banyak orang miskin lain yang diperhatikan negara) kini semakin menjadi-jadi.

Jalan buntu ini justru ada pada titik di mana secara kuantitatif (jumlah), orang dengan gangguan jiwa semakin meningkat. Yang terdata KKI, sudah 180 orang, itu hanya di Kabupaten Ende, yang dulu pendataannya dimulai dengan angka 3. Jika dihitung dengan penderita di daerah lain yang sempat direkam KKI, maka jumlahnya mencapai 200-an.

Jumlah ini dikatakan meningkat, bukan perihal semakin banyaknya orang yang didera sakit yang aneh ini, melainkan terutama orang-orang itu sudah sekian lama mendekam dalam diam deritanya tak diperhatikan (lantaran pelbagai faktor), kini berjubel mengapung ke permukaan kenyataan sosial.

Yang diandalkan dalam mengatasi persoalan ini, bukan perihal kunjungan ke rumah-rumah (termasuk pondok pasung) atau ke jalan-jalan umum. Bukan juga perihal dialog dengan orang dengan gangguan jiwa, dan bukan soal kata-kata berdaya ampuh yang meneguhkan dan menenangkan atau juga doa “sekadarnya”. Yang diandalkan adalah terutama obat-obatan, yang dalam bahasa medis, ini metode kuratif. Ini andalan, sangat diandalkan, sekalipun ada banyak anjuran untuk meneliti apa latar belakang hingga terjadinya gangguan jiwa.

Syukur, alhamdulillah, puji Tuhan, di antara ratusan orang itu, belasan orang sudah menghirup udara segar kesembuhan. Sejumlah lainnya, sedang dalam proses perjalanan untuk merengkuh kesembuhan. Sedangkan sebagian besar lagi sungguh membuat hati perih pedih, belum mendapatkan satu serbuk obat pun.

***

Sudah hampir sebulan ini, mendapatkan obat-obatan itu betapa susahnya. Pihak-pihak paramedis dan pihak terkait lainnya sudah menyatakan susah, maka kru KKI dan para simpatisan pun ikut bersusah, malah sedih, sekalipun bukan murung dan merunduk dalam diam yang pasif.

Inilah yang dimaksudkan dengan jalan buntu itu. Sungguh buntu rasanya, sekalipun sama sekali tidak berpengaruh pada kehilangan daya nalar untuk berkreasi memikirkan jalan alternatif, sekalipun juga sama sekali tidak melemahkan roh kepedulian dan nyali tanggung jawab moral sosial.

***

Yang lebih kental dan kentara pada adangan jalan buntu itu adalah tukikan refleksi seputar Tuhan dan obat. Dan tukikan ini hanya berlaku bagi orang-orang ber-Tuhan atau beragama (teis), bukan ateis (tidak ber-Tuhan, tidak beragama), apalagi agnostik (ada atau tidak adanya Tuhan tidak dinyatakan secara jalas, mungkin seperti kegalauan spiko-spiritual).

Tuhan dan obat, apa maksudnya? Diyakini dengan ketat (tiada celah) dan rapi bahwa Tuhan menyembuhkan orang dengan gangguan jiwa melalui obat (tentu dengan pihak-pihak terkait atau unsur-unsur lainnya, semisal perawat, industri, negara, kru KKI, keluarga, masyarakat, dan lain-lain). Obat itu semacam sarana.

Nah ketika obat tidak ada lagi seperti kenyataan kini, maka Tuhan kehilangan sarana. Kesembuhan pun menjauh, bahkan menghilang. Penderitaan melanggeng. Masalah semakin kusut untuk diuraikan, semakin kompleks untuk dibedah, semakin keras untuk ditabrak, semakin menjulang tinggi untuk dilampaui.

Dalam keadaan seperti ini, mengajukan pertanyaan apakah Tuhan menyembunyikan kepedulian-Nya (?) adalah hal yang mungkin dan wajar rasanya. Bahkan mempertanyakan keadidayaan Tuhan sebagai Sang Penguasa langit dan bumi ini, patut diutarakan kepada Tuhan yang transenden (ada jauh di seberang sana); pantas diperdengarkan kepada Tuhan yang imanen (ada dekat di dalam nurani dan akal manusia) itu. Di manakah kekuasaan-Nya?

Pertanyaan lain, apakah Tuhan dengan kekuasaan-Nya yang mahadahsyat tidak mampu menggugah nalar dan nurani para kapitalis untuk menghasilkan obat yang mencukupi? Apakah Tuhan dengan kemahakuasaan-Nya tidak berkutik di hadapan sistem kaku (rigor) yang diciptakan penguasa politik dunia ini?

Dan lagi, apakah Tuhan tidak menggunakan segala kekuatan-Nya untuk menggugat nurani dan nalar para ahli kesehatan agar secara serius memikirkan kemanusiaan orang dengan gangguan jiwa?

Tampak bahwa pertanyaan-pertanyaan yang langsung menggugat Tuhan terasa lahir dari sebuah keputusasaan dalam perjuangan seorang anak manusia di hadapan kebuntuan-kebuntuan hidup. Tidak! Sama sekali tidak!

Tentu bukan juga ekspresi dari perubahan paradigma ke arah sekularisme yang kini laris di dunia Barat dan negara-negara yang menganut sistem komunisme.

Pertanyaan-pertanyaan ini diajukan lahir dari sebuah pribadi beriman yang kritis yang menggunakan nurani untuk peka dalam merasakan dan menggunakan nalar untuk kritis dalam memikirkan, termasuk kritis terhadap pengalaman akan Tuhan. Arahnya adalah bukan melemahkan iman dan bukan menodai kepekaan sosial yang nyata, melainkan justru memperkuat dan meneguhkan iman serta mempertajam kepekaan itu.

Di tengah ragam pertanyaan gugatan yang bernuansa psiko-spiritual itu, dan di antara faedah dari pertanyaan itu, “kembali kepada kesadaran hakiki bahwa manusia memiliki kebebasan” (yang juga Tuhan berikan sejak awal) adalah kiranya penting dan harus.

Bahwasanya, manusia ciptaan Tuhan memiliki kebebasan yang pada awalnya mesti digunakan secara bertanggung jawab toh sekian sering disalahgunakan. Semisal yang kita tahu perihal kisah manusia pertama yang tidak mengendalikan diri pada godaan untuk mengandalkan kekuatan diri sendiri, yang mengabaikan penyelenggaran Tuhan (providentia Dei) atau yang meminggirkan keyakinan akan blessing in disguise (berkat yang tersamar).

Konsekuensi dari kesalahan menggunakan kebebasan hakiki itu jelas-jelas merugikan orang dengan gangguan jiwa pada satu pihak. Sementara konsekuensi dari kesalahan menggunakan kebebasan itu pada pihak pembuat kesalahan itu sendiri bukanlah urusan kita sesama manusia, melainkan itu adalah urusan Tuhan yang transenden dan imanen tadi. Sebagai orang beriman, kita mesti yakin akan hal itu. Mesti! Tetapi bukan kutukan lho. Ini masih rasional.

***

Lalu di tengah pergumulan sengit ini, berlanjut menuju sebuah kesadaran hakiki akan adanya segelintir orang yang tetap bertahan peduli dan tetap beriman adalah sebuah konsolasi (sukacita) yang patut dihargai. Keyakinan bahwa Tuhan masih peduli dan akan selalu peduli tanpa mengenal waktu dan ruang adalah andalan untuk tetap melangkah maju dan terus maju.

Apa pun hasilnya, harapan yang ditenun dalam keadaan kritis dan kepepet ini, kiranya akan bertumbuh subur bersamaan dengan mewujudnya harapan itu senyata-nyatanya.

Tuhan dan obat, adakah? Orang dengan gangguan jiwa pasti tetap menanti jawaban yang selalu tidak pasti datangnya.*** (Kolom “Kutak-Kutik”, Flores Pos, 1 Desember 2016)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s