Penelantar Istri Divonis 5 Bulan Penjara

istri

Air mata penelantaran

Oleh Willy Aran

Ende, Flores Pos — Terdakwa kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) penelantaran istri atas nama Stephanus Hendri Libriantoro divonis hakim Pengadilan Negeri Ende lima bulan penjara. Sidang putusan kasus ini dilaksanakan pada Rabu (23/11) lalu di Pengadilan Negeri Ende.

Atas putusan hakim ini, Forum Peduli Kesejahteraan Masyarakat Kecil (FPKMK) menilai bahwa putusan ini dapat memberikan efek jera kepada masyarakat khususnya bagi laki-laki agar tidak melakukan kejahatan dalam rumah tangga.

Sekretaris Forum Peduli Kesejahteraan Masyarakat Kecil (FPKMK), Adrianus So, mengatakan bahwa putusan yang dijatuhkan kepada terdakwa Stephanus Hendri Libriantoro dalam kasus tersebut akan berdampak pada efek jera bagi orang lain. Namun forum menilai bahwa putusan tersebut terlalu rendah atau ringan.

Adrianus meminta agar ke depannya, dalam menangani kasus seperti ini, pihak penegak hukum harus lebih profesional karena kasus seperti ini masuk dalam tindakan pidana khusus.

Adrianus juga mengatakan bahwa setelah putusan tersebut, PT Hexpham Jaya tempat terdakwa bekerja diminta mengambil tindakan tegas terkait dengan hal ini.

“Forum melihat bahwa hukuman yang diberikan oleh hakim Pengadilan Negeri Ende dinilai terlalu ringan. Kasus ini masuk dalam tindak pidana khusus kekerasan dalam rumah tangga. Namun dengan kepastian hukum seperti ini setidaknya dapat memberikan efek jera bagi orang lain,” katanya.

Tegakkan Keadilan

Sementara itu, Koordinator Solidaritas Perempuan Flores (SPF), Martha D Wangge, sebelumnya mengatakan bahwa tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang kasus ini pada Kamis (27/10) lalu dengan tuntutan delapan bulan dinilai terlalu rendah.

Martha meminta agar ke depannya jika ada kasus seperti ini yang dibawa ke ranah hukum agar dapat dilihat dengan baik. SPF dalam seruan moralnya juga meminta agar pihak penegak hukum menegakkan keadilan hukum dan HAM bagi kaum perempuan.

“Setiap kasus mempunyai nilai rasa yang berbeda meskipun pelanggarannya sama yakni KDRT penelantaran istri. Dalam kasus-kasus seperti ini, penegak hukum mesti melihat dan memikirkan posisi kaum perempuan,” katanya.

39 Kasus

Dikatakannya bahwa kasus seperti ini merupakan salah satu dari beberapa kasus yang terjadi dan dibawa ke ranah hukum. Saat ini, SPF telah menangani dan mendampingi sekitar 39 orang dengan kasus serupa.

Karena itu, menurutnya, para korban diminta jangan takut dan tidak mendiamkan kasus jika mengalami masalah atau kasus  serupa. Kasus-kasus seperti ini mesti dibongkar demi menegakkan keadilan dan kebenaran.

“SPF terus mendampingi korban jika ada pengaduan terkait dengan kasus-kasus seperti ini. Jangan diamkan jika mengalami masalah seperti ini karena kasus seperti ini harus diungkapkan untuk mendapatkan perlindungan hukum,” katanya.*** (Flores Pos, 1 Desember 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s