Menunggu Respons Bupati Matim

  • Soal Disintegrasi Daerah

Oleh Avent Saur

Yoseph Tote

Bupati Manggarai Timur, Yoseph Tote

Tiga warga desa di Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur (Matim) mengancam akan kembali bergabung ke induknya, Kabupaten Manggarai. Tiga desa di wilayah perbatasan selatan itu, antara lain Desa Nanga Lanang, Desa Lidi dan Desa Satar Lendang. Tiga warga dari tiga desa, adakah mereka itu secara objektif menjadi representan dari jumlah ribuan (?) warga tiga desa?

Ini agak kompleks untuk diselisik atau diselidik. Tetapi apakah suara ancaman mereka dikesampingkan? Tidak diperhitungkan? Menguap tiada jejak? Sabar dulu.

Ancaman tiga warga itu bukan tanpa alasan, bukan juga tanpa tujuan. Mereka mengancam (alasan) karena merasa (dan terbukti) diperlakukan tidak adil oleh pemerintah Matim. Mereka mengancam (tujuan) bukan untuk kepentingan diri dan keluarga atau kelompok tertentu, melainkan untuk kepentingan publik tiga desa.

Di mata mereka, pemerintah (bupati dan wakil bupati, juga wakil rakyat) tidak memerhatikan kebutuhan mereka, terutama jalan dan jembatan. Kondisi jalan memprihatinkan: jalan tanah dan batu susun. Ada aspal, tapi sudah reot, peninggalan Pemerintah Kabupaten Manggarai, tahun 1990-an. Jembatan tidak ada satu pun, baik di hulu maupun hilir Kali Wae Musur yang besar dan luas itu. Kondisi-kondisi ini menghambat lalu lintas dan kemajuan ekonomi warga.

Menurut warga, pemerintah yang sudah memimpin dua periode ini pernah menjanjikan pembangunan jalan dan jembatan di wilayah itu, tetapi hingga di ujung masa pemerintahan periode kedua ini, janji itu hanya tinggal janji, janji kosong, tiada arti.

Wakil rakyat dari wilayah itu juga pernah memerdengarkan janji yang sama tetapi sudah hampir sepuluh tahun usia DPRD Matim, janji itu hanyalah penipuan belaka.

Terhadap janji kosong dan tipu ini, mereka merasa muak. Bisa juga benci, tidak simpatik, bahkan ingin “lari” (disintegrasi). Mereka memertanyakan keadilan pemerintah dalam membagikan kue pembangunan sejak terbentuknya daerah otonomi baru (DOB) Matim pada 17 Juli 2007 silam. Mereka juga memerpertanyakan wujud nyata dari slogan cengka ciko (bongkar isolasi) yang diagungkan oleh bupati dan wakil bupati Matim.

Daerah otonomi Matim lahir atas dasar kesadaran dan cita-cita. Kesadaran akan fakta pembangunan yang belum maksimal. Cita-cita untuk mengubah keadaan, mendekatkan pelayanan kepada masyarakat dan cita-cita pemerataan pembangunan.

Sementara konsep politik cengka ciko berorientasi pada pembangunan yang dimulai dari desa. Tentu cengka ciko menyentuh pembangunan sarana transportasi dan mendorong masyarakat untuk memanfaatkan pelbagai potensi desa. Kesejahteraan yang diimpikan dalam pembentukan daerah otonomi pun bukan tidak mungkin akan terlaksana.

Namun nikmatnya daerah otonomi yang ditopang cengka ciko dari nahkoda dua periode Yoseph Tote dan Andreas Agas sama sekali tidak dirasakan warga tiga desa di wilayah perbatasan selatan tersebut. Nah wajar kalau mereka ingin say good bye dari daerah sepinya keadilan dan ingin bernaung di bawah sayap induknya.

Sebelum semua itu terjadi, lantas sikap politik apa yang segera diambil bupati Matim? Berjanji sekali lagi ataukah segera mewujudkan janji terdahulu? Ataukah juga membiarkan mereka mewujudkan ancamannya? Warga tiga desa menunggu respons Bupati Matim terhadap ancaman disintegrasi daerah tersebut.*** (Kolom “Bentara” Flores Pos, 2 November 2016)

Baca juga:

Warga Tiga Desa di Manggarai Timur Ancam Kembali ke Kabupaten Induk

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s