Warga Ende Tidak Setujui Pembangunan Sumur Bor di DPRD Ende

sumur-bor

Ilustrasi sumur bor

  • Abdul: DPRD Ende Tidak Perhatikan Rakyat

Oleh Silvano Keo Bhaghi

Ende, Flores Pos — Beberapa warga di wilayah Kota Ende tidak menyetujui proyek pembangunan sumur bor dalam senilai Rp365.500.0000 di halaman Kantor DPRD Ende. Warga menilai, pembangunan sumur bor tersebut sama sekali tidak menjawabi kebutuhan rakyat Ende akan air minum bersih dan hanya memenuhi keinginan anggota DPRD Ende.

Warga RT 05 RW 01,  Bhoanawa, Kelurahan Rukun Lima, Kecamatan Ende Selatan, Abdul Syukur Yahya, kepada Flores Pos di rumahnya, Jumat (18/11) mengatakan, pembangunan sumur bor itu tidak bermanfaat karena tidak menjawabi kebutuhan rakyat. Sebab sumur bor tersebut dibangun di pekarangan Kantor DPRD Ende.

Menurut Abdul Syukur, DPRD Ende mestinya tidak perlu membangun sumur bor lagi karena mereka sudah memiliki jaringan instalasi air dari perusahaan daerah air minum (PDAM).

“Kalau itu uang mereka, itu hak mereka. Kami mau bilang apa lagi. Namun, sebagai wakil rakyat, mereka mestinya memperhatikan kebutuhan rakyat juga,” katanya.

Abdul Syukur mengatakan, adalah lebih baik kalau sumur bor itu dibangun di lingkungan Bhoanawa. Sebab masalah utama yang sering dikeluhkan warga Bhoanawa adalah krisis air. Air dari PDAM di Bhoanawa sering macet.

“Dalam satu minggu, keluar hanya 3-4 kali. Itu pun hanya beberapa jam. Kalau diisi dalam drum besar tidak pernah penuh,” katanya.

Menurut Yahya, warga Bhoanawa menyiasati masalah krisis air dengan membeli air tangki. Harga satu tangki air berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp60 ribu. Satu tangki biasa memuat sepuluh drum dengan volume rata-rata 2000 liter.

“Selain beli air tangki, kami juga sering minta air di tetangga yang punya bak besar penampung air. Masyarakat tidak bisa harapkan PDAM,” katanya.

Yahya mengimbau, anggota DPRD Ende bisa melakukan koordinasi dengan PDAM Ende untuk memperhatikan masalah krisis air bersih yang menimpa warga. Selain itu, kalau memungkinkan, warga juga bersedia menunjuk beberapa titik lokasi sebagai tempat pembangunan sumur bor.

“Sebab tanpa air, kehidupan rumah tangga bisa repot,” katanya.

Keinginan DPRD Ende

Warga RT 08 RW 07, Lingkungan Worhonio, Kelurahan Kota Ratu, Nadus Bhanggu kepada Flores Pos, Jumat (18/11) juga menyatakan ketidaksetujuannnya terhadap proyek pembangunan sumur bor di pekarangan kantor DPRD Ende. Menurutnya, pembangunan sumur bor itu hanya memenuhi kepentingan anggota DPRD Ende.

“Mereka punya uang. Kami tidak punya uang. Tapi itu kan uang rakyat, uang negara,” katanya.

Nadus Bhanggu mengatakan, warga lingkungan Worhonio sering mengalami krisis air. Krisis air semakin parah kalau musim kemarau tiba.

“Air dari PDAM hanya keluar dua  kali dalam seminggu. Itu pun tidak sampai satu jam. Air yang ditampung tidak sampai satu  kubik,” katanya.

Menurut Bhanggo, warga Worhonio mengatasi masalah krisis air dengan membeli air tangki seharga Rp110.000. Air tangki itu digunakan hanya untuk keperluan masak dan minum. Untuk kepentingan mandi, cuci, dan kakus (MCK), warga biasa turun ke kali Nangaba.

Menurut Bhanggu, adalah kabar gembira bagi warga kalau setiap rukun warga (RW) memiliki satu sumur bor sebagaimana yang direncakan di kantor DPRD Ende sekarang. Pembangunan sumur bor di tengah pemukiman warga akan sangat membantu warga dalam mengatasi krisis air bersih.

“Kami juga berharap, para anggota DPRD mendorong pihak PDAM agar memperbaiki pelayanan. Dengan begitu, air bisa lancar lagi,” katanya.

DPRD Sudah Perhatikan

Diberitakan media ini sebelumnya, Selasa-Rabu (15-16/11), Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPRD Ende, John Pela kepada Flores Pos, mengatakan, dana pembangunan sumur bor dalam sudah dianggarkan sejak tahun lalu. Menurutnya, sumur bor dibangun karena air dari PDAM selama ini sering macet. Kebutuhan air para anggota DPRD Ende tidak terpenuhi.

“Sumur bor dibangun untuk melayani kepentingan anggota DPRD Ende untuk minum, mandi dan lain-lain. Lagi pula, di mana kita berada, kebutuhan akan air sangat vital,” kata Pela.

Menurut Pela, dari segi prioritas anggaran pembangunan, pembangunan sumur bor tidak ada masalah. Sebab DPRD Ende juga sudah memperhatikan kebutuhan masyarakat akan air dengan mengalokasikan dana untuk PDAM sebesar Rp3,5 miliar.

“Sebagai lembaga yang memiliki rumah tangga sendiri, kami juga butuh anggaran untuk membangun sumur bor. Kami juga sudah prioritaskan kebutuhan masyarakat,” katanya.

Pela mengatakan, kalau instansi lain meminta anggaran yang sama untuk membangun sumur bor, DPRD Ende siap mengalokasikan anggaran pembangunan sumur bor itu. Hal itu bisa dilakukan kalau anggaran APBD II Ende memungkinkan. “Kalau anggaran cukup, kami siap alokasikan,” tandas Pela.*** (Flores Pos, 22 November 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s