Warga Tiga Desa di Manggarai Timur Ancam Kembali ke Kabupaten Induk

sungai

Warga melintas di jembatan darurat di Sungai Wae Laing, Desa Golo Lembur, Kecamatan Lambaleda, Kabupaten Manggarai Timur.

  •  Ke Kabupaten Manggarai

Oleh Albert Harianto

Borong, Flores Pos — Warga masyarakat Desa Nanga Lanang, Desa Lidi dan Desa Satar Lendang, Kecamatan Rana Mese, berencana akan kembali bergabung ke kabupaten Induk yakni Kabupaten Manggarai jika Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur tidak membangun jembatan penyeberangan di Kali Wae Musur.

Maksimus, Yosef dan Alfino mengatakan ini kepada Flores Pos di Pasar Borong, Senin (31/10). Tiga warga ini mengaku sudah muak dengan janji manis Pemerintah Manggarai Timur yang berencana membangun jembatan di Kali Wae Musur. Hingga tahun 2016, tidak ada satupun jembatan di Wae Musur baik hilir maupun hulu.

Dalam waktu dekat, kata warga, mereka akan mendatangi pemerintah Manggarai untuk meminta ketiga desa tersebut akan bergabung kembali ke kabupaten induk, Manggarai.

Warga masyarakat tiga desa tersebut menilai bahwa delapan tahun Manggarai Timur sudah otonom, namun daerah perbatasan Manggarai Timur dan Manggarai bagian selatan tidak pernah diperhatikan. Jembatan dan jalan yang menjadi kebutuhan warga tidak pernah dipenuhi.

Anehnya, di Kali Wae Bobo, di keluharan Rana Loba, sudah terbangun empat jembatan. Pemanfaat empat jembatan tersebut sangat kurang, hampir tidak ada. Sebaliknya, warga tiga desa di sebelah Kali Wae Musur justru tidak diperhatikan.

Diskriminasi

Kue pembangunan tidak dibagi rata sebab proyek lebih banyak ke daerah Kecamatan Kota Komba dan Kecamatan Borong, sementara di Kecamatan Rana Mese hampir tidak ada. Jalan yang ada masih jalan lama saat masih bergabung pada Kabupaten Manggarai.

Sering kali warga meminta pemerintah untuk membangun jembatan itu dengan pertimbangan bahwa selama ini kendaraan sulit melintasi Kali Wae Musur hilir.

Pada musim hujan kendaraan nyaris tidak ada yang melintasi jalan itu karena takut terjebak banjir. Kondisi itu yang menghambat lalu lintas kendaraan. Kendaraan dari Borong menunggu banjir menyusut baru bisa melintas.

Menurut warga, setiap tahun pada saat reses DPRD bahkan janji bupati untuk pembangunan jembatan tidak pernah ditepati. Semua itu hanya tipu dan menghibur warga pada saat kampanye. “Warga di sebelah Kali Wae Musur merasa irihati melihat jalur di kampung tetangga, misalnya, Iteng Timur dengan kondisi jalan dan jembatan yang bagus.

Pemerintah Tutup Mata

Menurut Maksimus, pada musim hujan tiba, warga kembali mendapat ancaman bahkan pertarungan nyawa karena harus melintas di daerah kali dengan airnya sangat deras. Walaupun tidak hujan, air tetap sangat besar, apalagi kalau musim hujan.

“Pada musim hujan, nyawa kami terancam karena bertarung dengan derasnya air,” katanya. Setiap tahun warga mengalami kejadian nahas, namun pemerintah terkesan tutut mata melihat penderitaan rakyat,” katanya.

Maksimus juga menilai bahwa DPRD Manggarai Timur bahkan dari Dapil Borong dan Rana Mese tidak menjalankan tugasnya sebagai lembaga yang mendengar aspirasi rakyat. Akibatnya, masyarakat tidak tahu ke mana aspirasi mereka disalurkan. Padahal pembangunan jembatan Wae Musur merupakan hal yang utama dan paling penting.

“Pemerintah berpangku tangan dan memandang ini sebelah mata. Konsepsi Cengka Ciko yang sering didendangkan Pemerintah Manggarai Timur hanya slogan belaka,” katanya.

Kondisi ketidakadilan pembangunan sangat mengganggu kehidupan warga sebab pro dan kontra waktu pemilihan tahun 2014 lalu masih menjadi bahan olokan di tengah masyarakat. Beberapa warga tiga desa bahkan sudah sepakat akan mendatangi Pemerintah Kabupaten Manggarai untuk kembali bergabung, jika Pemerintah Manggarai Timur tidak segera membangun jembatan dan jalan di tiga wilayah pedesaan tersebut.*** (Flores Pos, 1 November 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s