Gunung Meja Sialan

gunung-meja

Pemandangan Gunung Meja di Ende.

Oleh Avent Saur

Elite eksekutif di Ende tampak kompak, Rabu (7/12). Di Pondok Pesantren Walisanga Ende, mereka duduk bersama melakukan sosialisasi rencana proyek raksasa Taman Wisata Alam (TWA) di Gunung Meja.

Sebelumnya, pemerintah yang sama menggulirkan rencana proyek Taman Toleransi di gunung yang sama.

Soal rencana yang sebelumnya itu, elite eksekutif tampak kurang kompak sehingga elite yang satu mengatakan Bukit Kerukunan, elite yang lain bilang Taman Toleransi. Tetapi soal anggaran, orang tidak keliru menyebutnya. Sialan betul Gunung Meja.

Bukan cuma tidak kompak kesannya, kematangan dalam membuat rencana sangat jauh dari yang semestinya: tidak matang, dadakan, tanpa sosialisasi, tidak aspiratif (bukan berasal dari hasil musrenbangdes/kel), sekadar menjanjikan focus group discussion (FGD).

Ini baru kekurangan soal prosedur dalam membuat rencana proyek raksana. Belum terhitung soal pemahaman yang mendalam dan realistis tentang apa itu toleransi, bagaimana mengabdi dalam kerangka skala prioritas.

Demikian juga perihal apa substansi dari apa yang disebut anggaran, bagaimana membuat perbandingan antara urgensitas (kemendesakan) antara proyek raksasa itu dengan keperluan-keperluan primer rakyat.

Lailn lagi, apa makna diskusi dengan pelbagai kalangan (elite eksekutif pernah diundang untuk berdiskusi tentang proyek taman itu tetapi tidak satu elite pun yang datang). Dan hal-hal penting lainnya.

Belum pasti bagaimana nasib proyek taman toleransi atau bagaimana jawaban pemerintah terhadap pelbagai kritik masyarakat via media massa khususnya Flores Pos terhadap proyek tersebut. Tetapi kini lahir lagi rencana baru, yakni taman wisata alam.

Dalam sosialisasi tentang proyek TWA ini, para elite mengupasnya seturut porsinya masing-masing. Teoretis dan kontekstual, semuanya.

Di antara item-item yang dijelaskan, taman toleransi tetap muncul sebagai salah satu item di antara item-item besar.

Ada banyak jalan menuju Roma. Demikian bunyi sebuah pribahasa klasik. Ada banyak nama proyek menuju Gunung Meja. Demikian strategi pembangunan elite eksekutif di Ende.

Pengutara kritik rencana taman toleransi dengan pelbagai pertimbangan substansialnya tentu tidak mudah menerima strategi pembangunan yang dilakonkan elite seperti ini.

Justru dalam lakon dalam kerangka pribahasa klasik, kelemahan para elite dalam merancang pembangunan untuk memenuhi kebutuhan rakyat terlihat sangat jelas.

Dalam ilmu psikologi pembangunan terdapat teori ini: mengubah-ubah nama, bersasar pada tempat yang sama, yang ujung-ujungnya bagaimana merealisasikan anggaran yang sudah terlihat pada nafsu keserakahan, adalah hal yang utama, bukan pembangunan itu sendiri.

Mungkinkah ini yang ada di balik serbuan proyek terhadap Gunung Meja?

Sederhana saja, salah satu isi kritik masyarakat, “merawat bunga di taman berukuran beberapa meter depan kantor dinas saja sulit, apalagi merawat taman gunung Meja yang luasnya berhektaran”.

Ini suara kritis sederhana, tetapi menukik kan? Elite eksekutif semestinya lekas tersinggung, selanjutnya bukan mengekspresikan wajah merengut, melainkan mengubah diri, memperbaiki pengabdian, merefleksikan tanggung jawab, kembali kepada sumpah dan janji jabatan.

Itu baru namanya elite rendah hati, terbuka, bijaksana, dan berintegritas serta mengabdi. Jika tidak, ya akan susah dan menyusahkan.

Kembali kepada prioritas pembangunan adalah hal imperatif bagi elite eksekutif di Ende. Sebut saja salah satunya, masalah air minum yang melilit warga kota Ende sudah berlangsung lama, dan hingga sekarang serta entah hingga kapan, penyelesaiannya belum tuntas.

Malah menyelesaikan masalah yang satu menimbulkan masalah baru pada bidang lain. Memperbaiki jalan, misalnya, justru merusakkan pipa.

Ada banyak sekali masalah prioritas yang belum disentuh, dibiarkan begitu saja, kemudian malah merancang pembangunan baru yang tidak memiliki kaitan langsung dengan kebutuhan rakyat Ende.*** (Kolom “Bentara” Flores Pos, 13 Desember 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s