Jabatan Publik

kursi

Setiap jabatan ada kursinya.

Oleh Avent Saur

Jabatan publik diduduki untuk diabdikan kepada kepentingan publik. Pada jabatan itu terdapat kebijakan, anggaran, otoritas, dan kemungkinan akan adanya kebijakan-kebijakan baru yang progresif dan konstruktif.

Hal-hal ini mesti tertuju kepada kepentingan publik, antara lain kebutuhan-kebutuhan yang nyata pada rakyat.

Imbalan untuk orang yang menduduki jabatan itu adalah integritas diri, kualitas diri, diteladani, dan tentu aspek ekonomi, dan hal-hal baik lainnya.

Jabatan ini bersifat panas. Karena itu, ia direbut-rebut. Maka lahirlah pesta demokrasi, muncullah fit and proper test.

Melalui demokrasi dan test, jabatan itu diduduki oleh orang yang memperoleh suara mayoritas dan kualitatif. Tentu dengan proses yang sehat. Semuanya itu ada kaidah yuridisnya.

***

Namun sekian sering, entah sejak kapan dalam sejarah peradaban manusia, jabatan itu disalahgunakan; bukan untuk mengabdi pada kepentingan rakyat, malah untuk kepentingan diri sendiri, keluarga dan kelompok sendiri. Egoisme dan primordialisme golongan atau juga agama, sebutannya.

Jabatan itu ditimpangkan; bukan untuk mengawasi dan memberikan kepercayaan kepada bawahan, malah untuk tampil otoriter dan totaliter sekalipun tidak sekentara pada era Orde Baru.

Jabatan itu dipandang sebagai celah untuk melakukan cela; bukan mengurusi rakyat yang dari padanya jabatan itu berasal, malah untuk memperkaya pribadi dengan tahu dan mau.

Mengingat jabatan itu bersifat publik, maka terhadap praktik dan karakter negatif ini, perlu dikoreksi. Kebebasan bersuara mendapat tempat di dalamnya.

***

Orang yang menjabat pun hendaknya tidak kebal kritik. Bukan cuma tidak kebal kritik, melainkan juga mendengarkan kritik dan mengabulkan isi kritik.

Pejabat sering kali lebih menerima koreksi kalau disampaikan secara empat mata atau beberapa mata saja. Mengapa? Ini memungkinkan adanya kompromi yang memperlemah koreksi dan korektor.

Lalu dalam hal ini, sifat publik dari jabatan dan sifat publik dari sebuah koreksi akan menguap. Pejabat ingin menghindar dari sifat publik supaya cela-cela dan ketimpangannya dibuat sekian sehingga tidak diketahui publik lebih luas.

Gilirannya adalah terhadap koreksi, sering kali pejabat tidak mudah mendengarkan, menerima apalagi mewujudkan isi kritik. Sebab rasanya koreksi itu panas yang menimbulkan rasa sakit.

Tetapi hendaknya disadari bahwa adalah lebih sakit kalau koreksi tidak didengarkan. Hendaknya juga disadari bahwa koreksi adalah bantuan rakyat untuk memperbaiki pelaksanaan jabatan, bukan malah dipandang negatif.

***

Nah apa dimaui pejabat itu? Yang paling menonjol dalam jabatan itu adalah kekuasaan kursi dan kekuatan ekonomi.

Lalu, untuk apa semuanya itu? Kiranya diingat, dalam Kitab Suci Kristen, Sang Guru asal Nazaret itu pernah mengutarakan perumpamaan ini.

“Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar.”

Kata-Nya lagi, “Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!”

“Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?”

“Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu” (Injil Lukas 12:15-20).

***

Orang kaya yang disebutkan dalam perumpamaan itu bukanlah pejabat publik. Yang membuat perumpamaan ini memiliki kaitannya adalah kebahagiaan palsu atas kepemilikan kekayaan ya kebahagiaan palsu atas kepemilikan jabatan dan ekonomi.

Orang kaya yang bodoh (sia-sia) ya pejabat yang bodoh tentunya. Keluar dari kerangkeng kebodohan ini adalah suatu perintah etis.*** (Kolom “Bentara” Flores Pos, 19 Desember 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s