Politik Kepekaan

dprd-ende

Gedung DPRD Ende, Flores.

  • Sentilan untuk DPRD Ende

Oleh Avent Saur

Ketika DPRD Ende menggulirkan rencana pembangunan sumur bor di pelataran gedung wakil rakyat itu dengan anggaran yang aduhai Rp360 juta lebih, di tengah keadaan masyarakat (kota bahkan kabupaten) Ende yang dirundung krisis air, rasanya risih.

Lantas kualitas politik kepekaan wakil rakyat itu terhadap rakyatnya patut dipertanyakan.

***

Seberapa penting dan urgennya (mendesaknya) dan seberapa tepat gunanya sumur bor itu? Apakah sumur bor itu sedikit menopang kelancaran dan kualitas pengabdian wakil rakyat terhadap rakyatnya?

Apakah selama ini, ketiadaan sumur bor cukup berpengaruh signifikan terhadap kurang lancarnya atau rendanya kualitas kerja wakil rakyat?

Lainnya lagi, apakah solusi terhadap ketiadaan sumur bor selama ini lalu mendatangkan air dari luar cukup memboroskan keuangan negara sehingga dengan adanya sumur bor, wakil rakyat bisa menghemat uang negara?

Dan sejauh mana DPRD Ende telah secara nyata dan berhasil nyata memperjuangkan pengadaan air bersih yang cukup bagi pemenuhan kebutuhan rakyat?

Kalau metode the debunking philosophy (filsafat penelanjangan) diutarakan dalam konteks ini, maka muncul pertanyaan, apakah pembangunan sumur bor hanyalah sebuah proyek dadakan dan diada-adakan (sekalipun penting, tetapi tidak urgen dan tidak prioritas)?

Apakah proyek sumur bor dengan anggaran yang aduhai (di luar kewajaran harga pembangunan sumur bor yang diketahui umum) diadakan terutama supaya duit bisa dicairkan, terutama supaya saku-saku kosong pribadi atau kelompok tertentu bisa terisi?

Lebih dari itu, untuk memenuhi hasrat keserakahan memiliki sesuatu secara sistematis-yuridis (tetapi tidak wajar) dan memenuhi karakteristik kekuasaan otoriter pengetuk palu?

***

Mungkin akan ada banyak litani pertanyaan kritis terhadap proyek itu. Tetapi sekali lagi ketika proyek itu bergulir di tengah keadaan rakyat yang selalu mengeluh bahkan merintih dengan caci maki terhadap pengelola dan pemerintah termasuk DPRD, rasanya proyek itu bukan cuma membangkitkan rasa risih, melainkan juga mendorong akal sehat untuk mengkritiknya, bahkan menuntut DPRD untuk tidak perlu merealisasikannya.

Dalam keadaan ini, wakil rakyat dikehendaki untuk menampilkan politik kepekaan sosial terhadap rakyat yang diwakilinya. Dalam politik kepekaan, wakil rakyat mesti merasa senasib sepenanggungan dengan rakyatnya, “menangis bersama orang yang menangis”, sebaliknya bukan bertawa ria di atas tangisan orang.

Senasib sepenanggungan bukan berarti wakil rakyat beralih menjadi rakyat kekurangan air, melainkan bersama rakyat, wakil rakyat mencari air secara bersama dan konsumsi bersama.

Sebaliknya, wakil rakyat bukan hanya menyampaikan aspirasi rakyat kepada pihak PDAM supaya PDAM mendatangkan air kepada rakyat, melainkan mengecek apakah air itu sudah betul-betul sampai pada rakyat atau belum.

Dengan demikian, politik kepekaan sosial melampaui politik anggaran (sekadar merealisasikan anggaran, tanpa perhatikan prioritas dan urgensitas), melampaui politik program dan politik kebijakan tertulis, melampaui kesepakatan formal dan diskusi panjang-lebar yang menuai polemik, melampaui bantuan sosial yang sudah digariskan dan ditetapkan bersama.

Pelampauan ini bersifat imperatif (keharusan moral) yang tidak boleh tidak, harus diwujudkan. Dan pelampauan dalam politik kepekaan mengandaikan pintu kepedulian (hati) yang tertutup dibuka, kerakusan dibongkar, sistem yang kaku dibarui, pemikiran egois dicerahkan, kenyamanan diganggu, dan kelambanan diberikan militansi.

Sulit dibayangkan kalau ternyata politik kepekaan ini tidak diwujudkan DPRD Ende, kalau proyek pembangunan sumur bor tetap dilanjutkan, kalau jeritan rakyat yang krisis air didengarkan tanpa bukti nyata, kalau sukacita DPRD meriuh di antara keluhan-keluhan bertubi rakyat Ende.

Itu semua sulit dipahami akal sehat, sulit dirasakan oleh orang-orang yang sadar, dan dengan demikian, sikap DPRD terkait itu semua tidaklah lain dari pada sebuah olokan cukup serius kepada rakyat Ende.*** (Kolom “Bentara” Flores Pos, 17 November 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s