Empat Oknum Polres Ende Aniaya Tukang Ojek

demo-di-polres-ende

Puluhan warga Ippi, Kelurahan Tetandara, Kecamatan Ende Selatan, melalukan demonstrasi di halaman Polres Ende untuk menuntut pengusutan kasus dugaan penganiayaan empat oknum polisi kepada warga Ippi, Rabu (4/1).

  • Jenal: Saya Dipukul hingga Pingsan

Oleh Silvano Keo Bhaghi

Ende, Flores Pos Empat oknum Kepolisian Resor (Polres) Ende menganiaya Jenal (41 tahun), seorang tukang ojek asal Ippi, Kelurahan Tetandara, Keca­matan Ende Selatan, Kabupaten Ende, hingga ping­san di Ndao dan Nangalala, Selasa (3/1).

Penganiayaan dilakukan mu­lai di Ndao di dalam mobil berno­mor polisi EB1240B hingga di Nangalala. Penganiayaan dilaku­kan dengan cara meninju, menyo­dok dan menyiram tubuh korban dengan air hingga pingsan.

Oknum polisi juga mengeluarkan tembakan peringatan sebanyak tiga kali untuk menakut-nakuti korban. Penganiayaan bertujuan untuk memaksa korban agar mengakui bahwa dia mencuri uang seorang warga Ippi asal Madura.

Pengakuan ini disampaikan oleh korban penganiayaan, Jenal, kepada Flores Pos usai pemeriksaan di Jalan Patimura, Kelurahan Potulando, Rabu (4/1). Jenal didampingi oleh Ketua RT 05 RW 02, Musalin dan tokoh pemuda Ippi, Rachman.

Modus: Polisi Tumpang Ojek

Jenal mengatakan, kasus peng­aniayaan bermula pada saat ia mengantar seorang penumpang yang ternyata adalah seorang oknum polisi pada pukul 07.00 wita dari Ippi ke Ndao. Tiba di Ndao, tepatnya di tugu dekat sebuah warung makan,  tiga polisi sudah menunggu di dalam mobil Avanza EB1240B.

“Saat saya tiba, dua orang datang tarik saya untuk masuk ke dalam mobil. Saat itu, saya baru tahu kalau penumpang yang saya bonceng adalah seorang polisi yang sedang menyamar,” katanya.

“Awalnya, saya sama sekali tidak curiga. Saya kenal dua oknum, yakni Kamal dan Dayat, sedangkan dua oknum lainnya tidak saya kenal,” lanjutnya.

Dipukul

Jenal mengatakan, selama per­jalanan dari Ndao ke Nangalala, ia dipukul di dalam mobil. Ia ditem­patkan di bawah jok mobil, diapiti oleh dua oknum polisi, dan di­hujani dengan pukulan demi pu­kulan.

“Selama di mobil, saya bi­lang, kalau saya bersalah, bawalah saya ke Polres Ende. Namun mere­ka semakin garang saja memukul,” katanya.

Jenal mengatakan, tiba di Na­ngalala, ia dipukul dan disuruh mengaku telah mencuri uang dari salah seorang warga Ippi.

Menu­rutnya, ia bukan hanya dipukul, te­tapi juga disirami dengan air dan diberikan peringatan dengan tembakan pistol ke arah langit sebanyak tiga kali. Pemukulan dan peng­aniayaan dilakukan selama tiga (3) jam mulai dari pukul 08.00-11.00 wita.

“Saya akhirnya ping­san. Mereka bangunkan saya, menyiram dengan air. Saya te­tap bertahan bahwa saya tidak mencuri. Saya bahkan bersumpah dengan cara makan pasir laut. Melihat saya makan pasir laut, mereka kaget dan katakan bahwa saya gila,” katanya.

Makan Pasir

Menurut Jenal, setelah ia nekat makan pasir untuk bersumpah, empat oknum polisi member­sih­kan mulutnya, mengajaknya ma­kan, menyuruhnya pulang, dan me­larangnya agar tidak pernah boleh menceritakan peristiwa yang me­nimpa dirinya kepada orang lain ter­masuk istri, anak, keluarga, po­lisi dan masyarakat.

Menurutnya, tidak satu pun saksi yang melihat kejadian penganiayaan tersebut.

“Mereka kasih saya uang Rp10 ribu. Mereka minta saya agar membantu mereka mencari dan mengungkap pelaku pencurian uang Mas orang Madura itu. Saya pu­lang pakai motor sendiri,” katanya.

Jenal mengharapkan, Polres Ende bisa melakukan proses hu­kum kepada empat oknum polisi dan melakukan pemecatan terha­dap mereka.

Menurutnya, tindakan yang mereka lakukan adalah tin­dakan yang biasa dilakukan oleh para preman.

“Selain itu, saya juga berharap, Polres Ende mengung­kap, siapa yang melaporkan dan menyuruh polisi untuk menangkap saya. Saya tidak hanya dianiaya, tetapi nama baik saya juga dice­markan,” katanya.

Bukan Pengayom Masyarakat

Ketua RT 05, RW 02, Kelurahan Tetandara, Musalin mengatakan, perilaku oknum polisi sama sekali tidak mencerminkan peran mereka sebagai pengayom masyarakat.

Menurutnya, polisi mesti mengusut tuntas, siapa yang menyuap dan berapa jumlah uang yang diperoleh oknum polisi dari penganiayaan itu.

“Jenal adalah warga lugu yang hanya tahu cari makan. Ia hanyalah seorang tukang ojek, sesekali pen­jual ikan, dan buruh pelabuhan. Istrinya seorang penjual makanan kecil-kecilan. Mereka adalah orang sederhana. Jenal tidak pernah buat masalah,” katanya.

Momen Pembelajaran

Tokoh pemuda Ippi, Rachman mengatakan, tahun baru mestinya menjadi momen pembelajaran bagi kepolisian untuk membenahi diri. Namun fakta yang terjadi di Ende, polisi tak ubahnya seorang preman.

“Kami akan surati Kapolda NTT, Komnas HAM dan lembaga lain yang peduli untuk memerha­ti­kan kasus ini. Polisi itu mestinya jadi budak masyarakat lho. Biaya kehidupan mereka kan diongkosi oleh uang rakyat,” katanya.

“Pekerjaan mereka adalah memberikan pelayanan sedemikian rupa sehingga masya­rakat bisa aman, damai dan tertib. Kami minta, pada momen tahun baru, polisi jangan jadi preman,” lanjutnya.

Menurut Rachman, polisi mesti segera menangani kasus ini karena berpeluang menggeser menjadi isu suku, agama, ras dan antargo­long­an (SARA). Para pelaku mesti di­proses secara hukum dan dikenai sanksi yang tegas.

“Orang yang ke­hilangan itu kan orang Madura. Sa­ya takut, kalau polisi tidak sele­saikan kasus, isu SARA akan ber­kembang di tengah masyarakat,” katanya.

Belum Bisa Berikan Keterangan

Wakapolres Ende, Johanis M Kobis mengatakan, ia belum bisa memberi keterangan tentang kasus penganiayaan terhadap tukang ojek oleh empat ok­num Polres Ende.

Menurut Johanis, ia baru bisa memberi keterangan pers kalau su­dah mengantongi izin dari Kapolres Ende, AKBP Ardyan Mustaqim.

Dikabarkan, Kapolres Ende, AKBP Ardyan Mustaqim masih mengikuti acara pelantikan Kapolda NTT yang baru di Kupang.

Demonstrasi

Pada saat berita ini ditulis, puluhan warga Ippi melakukan demonstrasi di halaman Polres Ende. Massa menuntut pengusutan dugaan penganiayaan Jenal oleh empat oknum polisi Polres Ende.*** (Flores Pos, 5 Januari 2017)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Empat Oknum Polres Ende Aniaya Tukang Ojek

  1. Johan says:

    Sebaiknya di berikan sanksi yang berat kepada pelaku,, sehingga tindakan kurang profesional polisi tidak terjadi lagi. Kasus seperti itu harusnya ada penyelidikan dan pengsutan yang mendalam baru mengambil kesimpulan. Jangan hanya mengahakimin sendiri tambah bukti yang jelas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s