Meminta Maaf kepada Rakyat

maaf

Oleh Avent Saur

Mungkin sudah ada banyak pemimpin politik yang meminta maaf kepada rakyat setelah melakukan kesalahan. Entahlah!

Kabar teranyar, orang nomor satu di Nagekeo dengan terbuka, ketika masyarakat berkumpul dalam forum musyarawah perencanaan pembangunan (Musrenbang), meminta maaf kepada rakyatnya setelah dana DAU dan DAK terpotong seratus satu miliar rupiah.

Ia meminta maaf tentu bukan hanya dia sebagai pribadi, melainkan dia sebagai pemimpin setempat, bahkan sebagai perwakilan dari para pemimpin di Ibu Kota Negara.

***

Ada beberapa kesalahan yang dilakukan Negara dalam konteks ini. Pertama, dana itu terpotong lantaran estimasi pendapatan negara jauh lebih besar daripada pendapatan riil negara. Dana yang terpotong digunakan untuk mengisi celah pendapatan negara. Kesalahan menghitung!

Bukan cuma masalah penghitungan dan pemotongan. Masalah lainnya (kedua), adalah terlambatnya pencairan dana. Pencairan terlambat lantaran pengiriman petunjuk teknis dari pusat yang mesti diikuti daerah juga terlambat. Maka pada daerah juga, masalah pun timbul. Keterlambatan bertubi-tubi.

Dua hal ini terkait sistem dan gerak lambat, bisa juga kekeliruan pemimpin dalam mengelola keuangan negara atau daerah. Tetapi yang jauh lebih substansial adalah bahwa minta maaf pemimpin kepada rakyat lebih pada akibat yang ditumbulkan dari dua masalah di atas.

Akibat apa? Bahwasanya, pelbagai (sekalipun tidak semua tentunya) kebijakan pembangunan yang dirancang daerah terhadap rakyatnya pasti tak akan diwujudkan secara maksimal karena ketiadaan anggaran. Bahkan bukan mustahil akan ada kebijakan yang tidak dijalankan.

Ya tentu terlepas dari ada atau tidak adanya masalah-masalah baru yang bakal muncul bersamaan dengan bagaimana negara atau daerah mewujudkan kebijakan itu nanti secara konkret, semisal, mungkin ada penyelewengan sana-sini.

***

Namun jauh lebih mendalam dari semuanya dan terlepas dari apa item kesalahan yang dilakukan pemimpin politik, permintaan maaf pemimpin politik terhadap rakyatnya adalah sebuah kesadaran pengabdian politik yang patut diapresiasi.

Bahwasanya, dilatari oleh kekeliruan atau apa pun jenisnya, dan mengena pada objek kekeliruan apa saja, seorang pemimpin politik seharusnya berani menyatakan permintaan maaf kepada rakyat yang notabene telah mendudukkan dia pada kursi kekuasaan. Kedaulatan rakyat dalam sebuah kekuasaan politik di sini benar-benar disadari dan kemudian kesadaran akan hal itu benar-benar ditunjukkan kepada rakyat.

Maka betapa disayangkan, kalau terhadap pemimpin yang melakukan kekeliruan apalagi kesalahan, suara kritis yang disampaikan rakyatnya justru dikriminalisasi atau ditanggapi sebagai pencemaran nama baik dia sebagai penguasa.

Semestinya, yang pertama-tama dilakukan pemimpin adalah menyadari kekeliruan atau kesalahannya, lalu memperbaiki kebijakannya. Bahkan usai menyadari itu, semestinya ia meminta maaf kepada rakyat. Tetapi toh nyatanya kesadaran akan hal itu jauh dari yang diharapkan, apalagi harapan akan adanya permintaan maaf.

Di antara banyak pemimpin politik dan di tengah pelbagai gaya kepemimpinan politik, permohonan maaf yang diutarakan orang nomor satu di Nagekeo saat ini kepada seluruh rakyat di wilayahnya patut diapresiasi dengan tulus, sembari mengharapkan perbaikan atas kinerja pengabdiannya terhadap rakyat.

Dan tentu ruang terbuka untuk terus berharap akan adanya pemimpin demikian di antara pemimpin politik di daerah-daerah kita masing-masing adalah sebuah kemestian.

Maka keputusasaan yang mungkin sempat timbul dari rasa ketidakadilan rakyat karena kekeliruan dan kesalahan pemimpin yang mungkin tidak prioritas bahkan mementingkan diri dan kelompok tertentu, semestinya tidak boleh lagi terjadi.

Itu adalah salah satu bentuk partisipasi rakyat terhadap pelbagai rancangan kebijakan pembangunan untuk kemakmuran negara atau daerah.*** (Flores Pos, 25 Februari 2017)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s