Pencemaran Nama Baik atau Kekuasaan yang Tersinggung?

kursi

Oleh Gusty Fahik

gusty-fahik

Gusty Fahik, Pegiat pada Institut SOPHIA, Kupang

Bermula dari status di media sosial Facebook, tiga warga Ende diadukan bupatinya ke aparat kepolisian resor Ende untuk diproses hukum. Dasar laporan adalah bupati merasa nama baiknya sebagai bupati telah dicermakan/tercemar oleh warganya dalam bentuk tulisan di status media sosial Facebook (Pos Kupang, 5/1).

Lebih dari sebulan setelah pengaduan itu, salah seorang warga yang dilaporkan, Pater Avent Saur SVD (pendiri dan ketua Kelompok Kasih Insanis/KKI Peduli Orang dengan Gangguan Jiwa), mendatangi Kepolisian Resor Ende karena merasa kasus itu perlu segera diproses hukum dan dibuka ke publik agar publik tahu perkembangan kasus ini. Pater Avent sendiri mengaku belum menerima surat apapun dari kepolisian terkait pengaduan yang dilakukan bupati atas dirinya (Flores Pos, 22/2).

Melihat dua peristiwa yang saling terkait ini, hal pertama yang perlu dipersoalkan ialah terkait pencemaran nama baik lewat akun media sosial Facebook dan implikasi hukumnya. Dalam revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) Tahun 2016, salah satu poin menegaskan bahwa unsur pidana dalam ketentuan mengenai pencemaran nama baik dan fitnah mengacu pada ketentuan yang diatur dalam KUHP.

Jika demikian maka, yang perlu diperiksa adalah apakah status media sosial yang ditulis oleh Pater Avent telah “menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduhkan sesuatu hal, yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum” (pasal 310 ayat 1 KUHP). Selanjutnya, dalam ayat 3 pasal 310 KUHP, diterangkan bahwa tidak merupakan pencemaran atau pencemaran tertulis, jika perbuatan jelas dilakukan demi kepentingan umum atau karena terpaksa untuk membela diri.

Jika laporan dibuat pada akhir Desember 2016, maka status Facebook Pater Avent yang dianggap mencemarkan nama baik bupati Ende haruslah status yang ditulis sebelumnya. Akun Facebook Pater Avent sendiri: Avent Saur, masih bisa diakses untuk ditelusuri status mana yang dimaksud berisi pencemaran.

Hemat saya, salah satu status yang kemungkinan besar dilaporkan adalah status yang ditulis pada tanggal 16 Desember 2016. Status ini masih bisa dibaca karena tidak dihapus oleh pemilik akun.

Status Facebook yang ditulis Pater Avent ini diberikan semacam judul dalam kalimat tanya yang berbunyi Bupatiku Error? Selanjutnya, dalam isi status, pastor aktivis kemanusiaan ini mempertanyakan soal pengadaan videotron senilai 773 juta rupiah di tengah kondisi masyarakat yang lagi “sekarat” dan beberapa hal lain terkait rencana penataan puncak Gunung Meja yang menelan dana miliaran rupiah. Status ini lalu ditutup dengan semacam doa, yang memohon tuntunan Tuhan bagi Bupati.

Status Facebook: Pernyataan atau Pertanyaan?

Persoalan selanjutnya ialah apakah isi status yang ditulis itu mencerminkan maksud mencemarkan nama baik bupati, ataukah justru mengajukan pertanyaan terkait penyeleggaraan kekuasaan yang berhubungan dengan kepentingan publik Kabupaten Ende?

Hal ini bisa diperiksa dengan memastikan apakah isi posting terkait pengadaan videotron dan penataan kompleks Gunung Meja itu sekadar isu yang dibuat-buat oleh pemilik akun atau memang sesuai dengan apa yang ada dalam kenyataan?

Soal pemasangan videotron di Simpang Lima Ende dan besar dana yang dikeluarkan untuk itu bisa ditelusuri dalam berita-betirta di media-media massa lokal, entah media cetak maupun media online. Videotron yang memakan biaya 773 juta rupiah dan memerlukan pasokan tenaga listrik 10.650 watt ini bahkan sempat mengalami kemacetan selama 9 hari pada Januari 2017, sehingga dirasakan tidak memberi dampak signifikan bagi warga, selain menambah beban biaya operasional saja (FP, 6/1).

Sementara rencana penataan Gunung Meja yang sebutannya berubah-ubah seperti ditulis dalam status Pater Avent, sebelumnya mendapat penolakan dari masyarakat. Penolakan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa kebutuhan masyarakat Ende akan air bersih jauh lebih signifikan untuk dipenuhi daripada penataan puncak Gunung Meja yang hanya akan mengganggu lingkungan dan mengurangi pemasok oksigen bagi kehidupan warga Ende sendiri (lihat: http://kupang.tribunnews.com/2016/10/16/lmnd-ende-tolak-taman-toleransi-diatas-gunung-meja).

Melihat dua fakta yang terkait dengan apa yang disinggung status yang ditulis Pater Avent, dapat disimpulkan bahwa tidak ada maksud menyebarkan berita bohong atau fitnah dan atau mencemarkan nama baik. Justru yang ditulis Pater Avent tidaklah lain adalah bentuk pernyataan dan pertanyaan kritis warga negara yang punya hak untuk menyatakan pendapat di ruang publik.

Jika yang dipersoalkan adalah ungkapan error yang digunakan dalam status Pater Avent, sehingga mengesankan seolah-olah Pater Avent mengatakan bupati mengalami gangguan jiwa, saya kira perlu dilihat bentuk kalimat yang dipakai Pater Avent. Apakah itu bentuk pernyataan atau pertanyaan? Jika bentuk pernyataan yang dipakai, maka bisa dinilai sebagai tuduhan yang bisa jadi salah dan tidak sesuai kenyataan.

Namun, bila yang dipakai adalah bentuk kalimat pertanyaan, maka tidak ada tuduhan di sana, sebab Pater Avent sendiri sebenarnya sedang mengungkapkan keingintahuan. Dan sebetulnya kata error itu mesti ditelusuri dalam pelbagai referensi berupa kamus dan ensiklopedia yang formal, apakah artinya gangguan jiwa atau sinting ataukah memang ada lain in se kata itu.

Merujuk pada status yang ditulis Pater Avent, kata error ditulis sebanyak tiga kali. Saya kutip seperti tertulis dalam status: Bupatiku Error? (judul), Kau error kah? (kalimat ke-11), dan Tuhan, Bupatiku mungkin sdg error (kalimat ke-19). Dengan melihat status Pater Avent sebagai tulisan yang berisi fakta-fakta dan pertanyaan-pertanyaan, disertai semacam doa yang tidak secara tegas mengatakan sesuatu yang buruk tentang bupati Ende, apakah ini layak disebut sebagai sebuah pencemaran nama baik?

Pencemaran atau Kekuasaan yang Tersinggung?

Bupati Ende menganggap apa yang ditulis Pater Avent telah mencemarkan nama baiknya sebagai pejabat publik sehingga membuat laporan ke polisi. Jika demikian, proses hukum atas kasus ini memang patut dituntaskan, setelah hampir dua bulan pelaporan itu dilakukan.

Langkah yang ditempuh Pater Avent adalah tepat, sebab hukum memberi peluang bagi Pater Avent untuk membuktikan apakah yang ditulis dalam statusnya itu sesuatu yang mencemarkan nama baik pejabat ataukah tidak.

Hal ini tertuang dalam pasal 310 ay. 3 dan pasal 312. Bahwasanya sesuatu dianggap bukan pencemaran bila dilakukan demi kepentingan umum dan perlu dibuktikan kebenaran pernyataan itu jika terkait dengan tuduhan atas seorang pejabat dalam menjalankan tugasnya.

Apakah yang ditulis Pater Avent memang demi kepentingan pribadinya semata atau demi kepentingan umum, sebab fakta-fakta yang ditulis adalah yang berhubungan dengan urusan dan kepentingan publik Kabupaten Ende. Lagi pula apakah dalam status itu memang ada tuduhan negatif tertentu terhadap Bupati Ende sebagai pejabat publik?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk dijawab, dan perlu juga diketahui oleh publik sehingga publik tidak dibuat bingung oleh status hukum Pater Avent dan dua warga lainnya yang diadukan Bupati Ende sesuai informasi yang diberitakan media massa.

Publik tidak cukup diberitahu bahwa bupati mengadukan warga tertentu ke penegak hukum, tetapi perlu juga mengetahui perkembangan kasus dan status hukum yang disandang oleh mereka yang diadukan oleh bupati.

Kejelasan status hukum perlu diberikan agar mereka yang diadukan bisa menunjukkan bukti-bukti pendukung yang menunjukkan apakah memang mereka bermaksud mencemarkan nama baik bupati, atau sebaliknya mereka sedang memberi kritik yang bermanfaat bagi publik Kabupaten Ende.

Pada sisi lain, pihak bupati sendiri harus serius dengan pengaduan ini, agar memberi kesan bahwa mereka bertindak atas dasar kebenaran, bukan atas ketersinggungan sebagai penguasa yang anti kritik. Pembuktian hukum atas kasus ini penting untuk membuka ruang bagi publik mengetahui sejauh mana transparansi pengelolaan kekuasaan daerah oleh pejabat daerah dijalankan, dan sejauh mana publik dijamin kebebasannya untuk menyampaikan pendapat terkait hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan umum.

Kebebasan publik tidak bisa dimatikan oleh kekuasaan yang tersinggung ketika urusan-urusan publik dipertanyakan secara kritis oleh publik sendiri. Sebaliknya, kekuasaan perlu menaruh telinga kepada suara-suara kritis yang diajukan warga negara sebagai bentuk kontrol dan partisipasi dalam mengelola penggunaan kewenangan dan kekuasaan yang bersifat publik.

Mengapa bersifat publik? Karena yang mengadu adalah bupati, sebagai pejabat publik, bukan Marsel Petu sebagai pribadi.

Publik menanti perkembangan, pembuktian dan penyelesaian kasus ini. Sebab, pada akhirnya publik akan menilai, apakah pengaduan yang dilaporkan oleh bupati memang berdasarkan perasaan subjektif sebagai pejabat publik yang tercemar nama baiknya, ataukah hanya karena kekuasaan yang tersinggung oleh kritik di ruang publik.*** (Flores Pos, 4 Maret 2017)

Baca juga:

Polisi Mesti Segera Proses Hukum

Penjabat Publik Harus Terima Kritik

Kritik adalah Bentuk Partisipasi Rakyat dalam Pembangunan

Senja Kala Bupati Antikritik

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s