Fransiska, Negara dan Agama

fransiska-diaz

Fransiska Diaz (lansia 81 tahun), warga RT 07/RW 03, Postoh, Kelurahan Postoh, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur, duduk di kursi sofa yang sudah tidak layak lagi diduduki dan dalam rumahnya yang rusak berat sambil bercerita dengan wartawan, Sabtu (25/2).

Oleh Avent Saur

Nama Fransiska Diaz diperkenalkan media Flores Pos dalam beberapa edisi terakhir. Ia berasal dari Flores Timur, Kecamatan Larantuka, Kelurahan Postoh, Kampung Postoh. (Baca: Masalah Sosial Fransiska Diaz Perlu Tanggapan Serius).

Ia muncul ke permukaan wacana publik lantaran keadaannya yang memprihatinkan. Mungkin ada sakit fisik atau sakit lainnya, tetapi yang sungguh jelas adalah bahwa sudah setengah abad ini, sejak 1960-an (bayangkan saja, usianya kini 81 tahun), ia tinggal sendirian di rumah reot yang belum lama ini diguncang dan dihancurkan angin kencang.

Tampak jelas juga bahwa selama ini, ia yang adalah salah satu warga dari negara yang luas ini dan kata banyak orang negara “kaya” ini, tak tersentuh oleh tangan-tangan, pikiran-pikiran dan nurani-nurani para pelayan negara, pun pelayan agama.

Dalam tahap demi tahap proses pemilihan kepala daerah yang barusan lewat, Fransiska berada di luar jangkauan bantuan dadakan kampanye.

Padahal, misalnya, memberikan bantuan kampanye berupa apa pun yang dibutuhkan Fransiska jauh lebih bermoral dan berperikemanusiaan kalau bantuan berupa bola voli dan netnya diberikan kepada para pemuda.

Karena itu pula, keadaan-keadaan yang mungkin mirip dengan Fransiska pun mungkin jauh dari penglihatan para pemenang pilkada. Tentu bukan hanya pesta demokrasi kali ini, melainkan juga beberapa kali ulangan pesta demokrasi sejak 1960-an itu.

Demikian juga agama, Gereja misalnya. Pelbagai diskusi kebijakan pastoral digelar dan hasilnya tentu disusun rapi. Dan pengambil kebijakan pastoral puas lagi lega rasanya kan?

Namun sejauh mana Fransiska dan orang-orang yang setara dengannya mendapatkan hasil nyata yang senyata-nyatanya dari kebijakan sosial pastoral agama?

Tentu kita sekalian tidak bisa menipu, sebaliknya harus menepuk dada bahwa tak menyentuh dalam hal apa pun adalah kenyataan tak terbantahkan terkait keadaan Fransiska.

***

Sejak Fransiska dengan segala harta bendanya diterjang bencana angin kencang itu, namanya terdaftar sebagai korban. Sebelumnya tidak! Padahal korban ketimpangan sosial adalah kenyataan tak terbantahkan sudah setengah abad ini ia alami dengan tangguh.

Namun sekalipun demikian, negara dalam hal ini penangan bencana daerah Flotim tidak serta merta mengakomodasi Fransiska ke dalam korban istimewa. Maka seperti korban bencana pada umumnya, Fransiska mendapatkan bantuan negara dengan kuantitas dan kualitas standar: beras 10 kilogram, terpal, sarimi, minyak goreng, gula, kompor dan kuali.

Dinilai oleh siapa pun, kecuali mungkin oleh negara di daerah Flotim, bantuan yang didapatkan Fransiska tentu tidaklah cukup. Yang istimewa, itu sebuah keharusan.

Lantas dua wakil rakyat Flotim yang salah satu rakyatnya adalah Fransiska mengemukakan sebuah permintaan keras kepada negara. Bahwasanya, keadaan Fransiska itu semestinya tidak hanya dipandang sebagai korban musiman bencana, melainkan terutama korban ketimpangan sosial dan ketidakpedulian negara (ya termasuk dua wakil rakyat itu sendiri) yang urgen untuk segera ditangani.

Penanganan itu juga mesti seserius mungkin. Ya sebuah tanggapan dan penanganan yang serius, bukan musiman, bukan dadakan, bukan juga sekadar politik kepentingan vulgar.

Bagi kita ini, kalau negara mewujudkan keseriusan itu secara istimewa terhadap Fransiska, maka kita mungkin berpikir bahwa baru kali itu nanti Fransiska merasakan bahwa negara sungguh ada untuknya.

Tetapi mesti sebaliknya, Fransiska merasakan bahwa demikianlah keadaan negara Republik di mana ia menjadi salah satu warganya. Ya keadaan sebagaimana ia alami selama lebih dari setengah abad ini, entah sampai kapan, lantaran usianya semakin senja menuju gerbang penghabisan di balik gubuk reotnya.

Nah demikian jugalah Fransiska memandang agama yang dianutnya.

Kita berharap di penghujung usianya, ia merasakan hal-hal lain dari negaranya dan agamanya. Ya perubahan atas keadaannya.*** (Kolom Bentara, Flores Pos, 4 Maret 2017)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s