DPRD Ende Janjikan Rp50 Juta untuk ODGJ

Foto berita Flores Pos, 7 Maret 2017

  • Bantuan Jangka Pendek

Oleh Anton Harus

Ende, Flores Pos — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Ende berjanji akan mengalokasikan dana sebesar Rp50 juta untuk menangani masalah penderitaan orang dengan gangguan jiwa di Kabupaten Ende.

Alokasi dana ini terbilang bantuan jangka pendek yang akan segera direalisasikan oleh DPRD Ende.

Wakil Ketua DPRD Ende, Emanuel Erik Rede

Wakil Ketua DPRD Ende, Emanuel Erikos Rede, mengatakan ini dalam seminar sehari bertema “Keberpihakan terhadap Orang dengan Gangguan Jiwa dan Kesehatan Jiwa”, Sabtu (4/3).

Seminar digelar dalam rangka hari ulang tahun pertama Kelompok Kasih Insanis (KKI) Peduli Orang dengan Gangguan Jiwa, di Aula Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Pastoral Atma Reksa (Stipar) Ende.

Hadir sebagai narasumber, Dosen Stipar Ende Wilfridus Deo Bey mengupas keberpihakan terhadap orang dengan gangguan jiwa dan Dosen Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat (STPM) Ende Bruder Pio Hayon SVD membahas kesehatan jiwa dari sisi psikologis.

Hadir juga Kepala Bidang Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial pada Dinas Sosial Kabupaten Ende Nini Wijaya Sumby memaparkan kebijakan pemerintah terhadap ODGJ.

Erik Rede mengatakan, seturut data yang dipaparkan oleh KKI, jumlah orang dengan gangguan jiwa di Ende cukup banyak, 190-an orang. Boleh jadi, akan ada penambahan jumlah ODGJ.

“Harus diakui secara jujur bahwa selama DPRD Ende belum mengambil kebijakan terkait penangan masalah ini,” tuturnya.

Karena itu, lanjut Erik, untuk jangka pendek, DPRD Ende akan mengalokasikan anggaran Rp50 juta untuk penanganan masalah ini, antara lain untuk biaya perawatan beberapa pasien di panti yang selama ini ditanggung oleh KKI.

“Ini kewajiban kami sebagai wakil rakyat dan kewajiban pemerintah. Dalam waktu dekat, pemerintah terkait akan kami undang untuk bicarakan secara serius tentang masalah ini,” katanya.

Menurut Erik, rumah penampungan ODGJ atau panti rehabilitasi jiwa dinilai mendesak untuk dibangun di Ende mengingat jumlah ODGJ yang lumayan banyak.

Di RSUD juga semestinya ada dokter ahli jiwa tetap atau perawat jiwa tetap agar penanganan ODGJ benar-benar intensif dan efektif.

“DPRD akan pikirkan tentang tenaga dokter jiwa. Kami juga berharap usai seminar ini, KKI membuat sebuah rekomendasi untuk diberikan kepada DPRD dan pemerintah agar berdasarkan rekomendasi itu, kami bisa mengambil kebijakan politis,” katanya.

Aspek Psikoreligus

Ketua MUI Ende Haji Djamal Humris dan Ketua Majelis Jemaat GMIT Syalom Ende Pendeta Melkisedek Sni’uth yang hadir sebagai pembicara sekunder dalam seminar tersebut, sama-sama berpandangan bahwa masalah orang dengan gangguan jiwa juga mesti ditangani secara psikoreligius.

Pendampingan rohani terhadap ODGJ, tutur dua tokoh agama ini, adalah sesuatu yang perlu dilakukan baik oleh tokoh agama, keluarga, maupun anggota KKI.

“Mungkin tak usah mengundang pendoa untuk mendoakan ODGJ secara khusus. Cukup melatih ODGJ untuk berdoa dan sama-sama berdoa. Sebab dari segi Islam, mereka mengalami gangguan kerohanian,” kata Haji Djamal.

Sementara Pendeta Melkisedek mengatakan,  Gereja Protestan terutama GMIT belum menaruh perhatian khusus terhadap ODGJ. Dengan adanya KKI, Gereja juga didorong untuk memperhatikan umat yang menderita gangguan jiwa.

Gali Kubur Sendiri

Sementara itu, teolog dari Stipar Ende Wilfridus Deo Bey mengatakan bahwa selain pemerintah, Gereja semestinya menaruh kepedulian terhadap orang dengan gangguan jiwa yang dalam teologi Katolik, mereka disebut orang-orang kecil.

“Kalau Gereja tidak peduli terhadap mereka, maka Gereja semacam gali kuburnya sendiri,” katanya.

Menurutnya, Gereja mesti kontekstual, bukan hanya berkutat dengan liturgi, peraturan dan administrasi. Gereja mesti keluarga dari kenyamanannya dan berani melangkah untuk mendekati orang-orang kecil seperti ODGJ.

“Gereja mesti mendapat simpati dari umatnya. Kalau hanya berkutat dengan ritus, maka Gereja akan ditinggalkan oleh umat. Itu yang dimaksud dengan Gereja gali kuburnya sendiri,” tegasnya.

Aspek Psikologis

Dalam seminar itu, psikolog dari Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat (STPM) Ende Bruder Pio Hayon SVD, mengatakan bahwa ada aneka sebab masalah gangguan jiwa, antara lain faktor keturunan, ekonomi, sosial, religius, dan lain-lain.

Menurutnya, pelbagai pihak mesti bersama-sama mengatasi sebab ini agar orang terhindar dari gangguan jiwa.

“Kita semua memiliki potensi untuk alami gangguan jiwa. Karena itu, kalau ada persoalan, hendaknya hal itu dibicarakan dengan pihak lain agar jalan keluarnya bisa dicari dan ditemukan,” tuturnya.*** (Flores Pos, 7 Maret 2017)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s