Pemerintah dan DPRD Bertekad Tangani ODGJ

Foto berita Flores Pos, 7 Maret 2017

  • Seminar Setahun KKI

Oleh Anton Harus

Ende, Flores Pos — Pemerintah dan DPRD Kabupaten Ende bertekad untuk menangani masalah penderitaan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di wilayah Kabupaten Ende yang kini berjumlah 192 orang.

Tekad ini akan diwujudkan melalui pelbagai kebijakan baik yang dilakukan pemerintah melalui Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait maupun kebijakan politik di DPRD Ende.

Wakil Ketua DPRD Ende, Emanuel Erikos Rede

Inilah benang merah yang disimpulkan dalam seminar sehari bertema “Keberpihakan terhadap Orang dengan Gangguan Jiwa dan Kesehatan Jiwa”, yang digelar dalam rangka hari ulang tahun pertama Kelompok Kasih Insanis (KKI) Peduli Orang dengan Gangguan Jiwa, di Aula Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Pastoral Atma Reksa (Stipar) Ende, Sabtu (4/3).

Seminar ini adalah rangkaian kegiatan memaknai HUT Pertama KKI yang jatuh pada 25 Februari 2017.

Kegiatan lainnya, adalah kampanye kesehatan jiwa pada hari puncak HUT, dan siaran di pro 1 dan pro 2 RRI Ende dalam sepekan terakhir.

Dalam seminar tersebut, tampil sebagai pembicara Dosen Stipar Ende Wilfridus Deo Bey mengupas keberpihakan Gereja terhadap orang dengan gangguan jiwa.

Pembicara lainnya, Dosen Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat (STPM) Ende Bruder Pio Hayon SVD membahas kesehatan jiwa dari sisi psikologi dan Kepala Bidang Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial pada Dinas Sosial Kabupaten Ende Nini Wijaya Sumby memaparkan kebijakan pemerintah terhadap ODGJ.

Sementara itu, pada sesi diskusi tampil beberapa pembicara sekunder, antara lain Wakil Ketua DPRD Ende Emanuel Erikos Rede dan Kepala Bidang Pelayanan RSUD Ende dokter Heni Ratnawati.

Lainnya lagi, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan Ende Sislaus Bendu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ende Haji Djamal Humris dan Ketua Majelis Jemaat GMIT Syalom Ende Pendeta Melkisedek Sni’uth.

Dinsos Tetap Berupaya

Kepala Bidang Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial pada Dinas Sosial Kabupaten Ende, Nini Wijaya Sumby, mengatakan, Pemerintah Kabupaten Ende memiliki visi-misi membangun masyarakat dari desa ke kota, termasuk warga yang mengalami gangguan jiwa.

Karena itu, lanjutnya, pengabdian terhadap orang dengan gangguan jiwa mesti didasari oleh aspirasi dari bawah yang terungkap melalui kegiatan musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang).

Menurutnya, selama ini, masyarakat tidak menyalurkan secara khusus aspirasi tentang masalah orang dengan gangguan jiwa sehingga dinas sosial belum mengambil kebijakan yang signifikan terkait persoalan ini.

“Pihaknya terus mendorong masyarakat untuk salurkan aspirasi terkait ini,” katanya.

Sejauh ini, lanjutnya, dinas sosial sudah beberapa membantu Kelompok Kasih Insanis (KKI) terkait mengantar orang dengan gangguan jiwa ke panti, baik Panti Rehabilitasi Jiwa Santa Dymphna di maumere, maupun Panti Rehabilitasi Jiwa Renceng Mose di Ruteng.

Dinas sosial juga pernah bantu mengantar ODGJ ke Panti Phala Marta Sukabumi, Jawa Barat beberapa tahun lalu.

“Dalam tahun ini, kita akan mengantar dua ODGJ ke Panti Phala Marta. Dinas sosial juga akan tetap membantu KKI untuk mengantar ODGJ ke panti di Maumere dan Ruteng,” katanya.

Untuk sementara, katanya, dinas sosial belum memiliki anggaran khusus untuk biaya perawatan ODGJ di panti. Pihaknya tetap akan berupaya untuk terus mendorong masyarakat supaya berani menyampaikan aspirasi tentang ODGJ, dan terus mengajukan kepada DPRD supaya menyediakan anggaran khusus untuk mengatasi masalah ini.

DPRD Siap Tangani ODGJ

Wakil Ketua DPRD Ende, Emanuel Erikos Rede, mengatakan, perlu diakui selama ini, DPRD Ende belum mengalokasikan anggaran khusus penanganan masalah orang dengan gangguan jiwa.

Sebagaimana disinyalir oleh Dinas Sosial Kabupaten Ende, alokasi anggaran terhadap pembangunan masyarakat digelontorkan berdasarkan aspirasi dari bawah.

Namun, menurutnya, dengan data yang dipaparkan oleh KKI, masalah ODGJ di Ende terasa memacu DPRD untuk memikirkan solusi yang mengena.

Pembangunan panti ODGJ khusus di Ende, sekalipun membutuhkan waktu yang panjang, diharapkan akan lakukan sebagai penanganan yang kurang lebih tepat terhadap masalah ini.

“Kita akan undang pemerintah untuk membicarakan secara lebih serius tentang masalah ini. Sudah lama DPRD belum menyentuh masalah ini,” katanya.

Pada kesempatan itu, Erik Rede juga berjanji untuk mengalokasikan anggaran sebesar Rp50 juta sebagai kebijakan jangka pendek untuk membiayai perawatan ODGJ di panti rehabilitasi.

Pihaknya juga akan mendorong rumah sakit untuk menyediakan tenaga kesehatan untuk menangani masalah ini.

“Selama ini, biaya perawatan ditanggung oleh KKI. Semestinya ini tanggung jawab negara, termasuk wakil rakyat,” katanya.

Upaya RSUD dan Dinkes

Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan RSUD Ende, dokter Heni Ratnawati, mengatakan bahwa RSUD sedang menggalakkan kerja sama dengan dokter jiwa di Kupang. Pembicaraan dan keputusan tentang kerja itu hampir rampung.

Menurut dokter Heni, direncanakan bahwa dokter jiwa akan memberikan pelayanan di RSUD Ende selama sekitar satu atau dua minggu dalam dua bulan. Dengan adanya pelayanan dokter jiwa, maka RSUD akan menyediakan obat secara rutin terhadap para ODGJ.

“Kita belum bisa buka unit pelayanan kesehatan jiwa di RSUD Ende. Unit pelayanan jiwa bisa dibuka andaikan ada dokter tetap,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Ende juga, lanjut dokter Heni, sebetulnya sudah menyediakan anggaran untuk para pasien Jamkesda. Syarat untuk memperoleh Jamkesda bagi ODGJ tidaklah rumit. Nanti pihak RSUD akan menagih biaya perawatannya ke Dinkes Ende.

“Cukup lurah atau kepala desa berikan keterangan tentang warganya yang mengalami gangguan jiwa. Nanti surat keterangan itu ditandatangani oleh pihak dinas sosial. Ini kesempatan yang baik bagi ODGJ untuk dirawat di RSUD Ende,” katanya.

Tekad penanganan terhadap ODGJ juga disampaikan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan Ende Sislaus Bendu.

Menurut Sislaus, dalam Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang dulu disebut Satuan Kepegawaian Perangkat Daerah (SKPD), di Dinkes Ende kini ada seksi khusus yang menangani beberapa masalah termasuk orang dengan gangguan jiwa.

Kebijakan yang akan segera dilakukan pihak Dinkes, katanya, adalah sosialisasi tentang Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa.

Dinkes tentu akan bekerja sama dengan KKI untuk mencerahkan masyarakat terkait kesehatan jiwa dan penanganan terhadap ODGJ.

Selain itu, kata Sislaus, di beberapa Puskesmas, obat-obat untuk ODGJ sudah disediakan. Karena itu, ODGJ atau keluarganya bisa mendekati pihak puskesmas untuk mengurus dan mendapatkan obat itu secara gratis.

KKI Siap Bekerja Sama

Ketua Kelompok Kasih Insanis (KKI) Peduli Orang dengan Gangguan Jiwa, Pater Avent Saur SVD, mengatakan, KKI terus berupaya untuk peduli terhadap ODGJ dengan kemampuan seadanya.

Pemerintah dan DPRD tetap didorong untuk bersama-sama menaruh kepedulian terhadap ODGJ.

“KKI tentu bergembira, pada HUT pertama ini, banyak pihak menaruh kepedulian terhadap masalah ini. Saya berterima kasih kepada pemerintah dan DPRD yang telah menyatakan tekad untuk menolong ODGJ,” katanya.

Pater Avent berharap tekad pemerintah dan DPRD untuk membantu ODGJ di Kabupaten Ende akan terwujud pada hari-hari mendatang. Dengan ini, pemaknaan HUT pertama KKI akan berguna melalui pelbagai kebijakan yang akan diputuskan oleh para pengambil kebijakan di kabupaten ini.*** (Flores Pos, 7 Maret 2017)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s