Videotron Sedot Pulsa Listrik Rp1 Juta Sebulan

Foto berita Flores Pos, 7 Maret 2017

  • Poto: Videotron Belum Hasilkan PAD

Oleh Silvano Keo Bhaghi

Ende, Flores Pos — Videotron senilai Rp773 juta yang dipasang Pemda Ende di Simpang Lima Kota Ende menyedot Rp1 juta per bulan untuk membiayai pulsa listrik prabayar. Meskipun biaya pulsa listrik sebesar Rp1 juta per bulan, hingga sekarang Pemda Ende belum mendapatkan tambahan penghasilan asli daerah (PAD) dari videotron.

Anggota DPRD Ende, Aleksander Sidi

Alasannya, Pemda Ende belum memiliki payung hukum khusus untuk dapat melakukan pungutan terhadap iklan atau reklame yang dipasang di videotron.

Hal ini disampaikan oleh Kabag Humas Setda Ende, Kanisius Poto kepada Flores Pos di ruang kerjanya, Jumat (3/3).

Belum Ada Dasar Hukum

Poto mengatakan, hingga sekarang belum ada dasar hukum untuk dapat melakukan pungutan terhadap setiap iklan atau reklame yang ditayangkan dalam videotron.

Menurutnya, sekalipun sudah ada Peraturan Bupati Nomor 33 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penghitungan dan Penetapan Nilai Sewa Reklame, peraturan itu tetap tidak bisa dijadikan sebagai dasar hukum karena hanya mengatur hal-hal yang bersifat umum.

“Memang ada pasal tentang videotron. Akan tetapi, Perbup itu hanya mengatur hal-hal umum. Perbup belum atur tentang sewa reklame videotron secara khusus,” katanya.

Poto mengatakan, hingga sekarang, pemerintah masih menanti surat keputusan bupati tentang tata cara pemungutan sewa iklan videotron.

Menurutnya, setelah bupati mengeluarkan surat keputusan itu, pihaknya akan segera melakukan pungutan.

“Kami masih menanti godokan badan pendapatan asli daerah (PAD). Sudah dapat sinyal dari badan PAD,” katanya.

Sudah Ada yang Pasang Iklan

Poto mengatakan, sejauh ini sudah ada beberapa pihak yang melakukan pemasangan iklan di videotron, antara lain dinas pariwisata, komisi pemilihan umum (KPU), dokumentasi humas, dan badan perencanaan pembangunan daerah (Bappeda).

Menurutnya, operasionalisasi videotron dikendalikan langsung dari server pusat di bagian Humas Setda Ende.

“Biaya operasionalisasi hanya beli pulsa listrik sebesar Rp1 juta per bulan. Kita pakai pulsa prabayar. Tenaga operator langsung dari pihak Humas. Biaya yang lain tidak ada. Seminggu sekali, kita lakukan pembersihan perangkat dalam videotron,” katanya.

Menurut Poto, sejauh ini, Pemda Ende belum pernah melakukan evaluasi keberadaan dan pemanfaatan videotron.

Videotron Mesti Hasilkan PAD

Anggota DPRD Ende, Aleksander Sidi via telepon kepada Flores Pos, Senin (6/3), mengatakan, videotron mesti mampu mendatangkan income atau pemasukan bagi pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Ende.

Menurutnya, jika hingga sekarang videotron belum bisa menghasilkan pendapatan apa pun bagi Kabupaten Ende, maka bisa disimpulkan, pengadaan videotron tidak melalui perencanaan yang baik.

“Saya sangat sesalkan jika Pemda Ende belum mendapatkan income dari videotronPemda Ende hanya tahu adakan videotron, tetapi tidak mampu melihat keuntungannya. Kalau tidak ada income, Pemda Ende hanya menghabiskan anggaran saja,” katanya.

Sidi mengatakan, belum adanya payung hukum khusus tentang videotron tidak bisa dijadikan alasan belum adanya pemasukan dari videotron bagi PAD Kabupaten Ende.

Sebab, menurutnya, Pemda Ende bisa memakai regulasi tentang retribusi daerah sebagai payung hukum untuk melakukan pemungutan.

“Pakai saja Perda tentang retribusi daerah itu sebagai payung hukum. Minimal ada pemasukan dari videotron untuk daerah,” katanya.

Belum Penuhi Janji

Sidi mengatakan, dulu DPRD Ende menyetujui pembelian videotron karena Pemda Ende menjanjikan akan ada pemasukan dari videotron.

Menurutnya, kalau pada akhirnya videotron tidak sanggup menghasilkan apa pun mestinya sedari awal tidak usah diadakan.

“Sekarang kami tanya janji Pemda Ende. Kenyataan yang kami lihat, Pemda rugi terus karena harus bayar beban listrik,” katanya.

Sidi mengatakan, tayangan videotron jangan terlalu monoton. Videotron bisa menayangkan ajakan wajib belajar dan taat pajak.

“Kalau hanya sekadar lihat tayangan yang itu-itu saja, masyarakat punya TV dan internet di rumah,” katanya.

Ada yang Lebih Urgen

Menurut Sidi, ada hal yang lebih urgen dari pada barang mewah videotron yang mesti diperhatikan Pemda Ende yakni kebutuhan warga akan jalan, air dan listrik (JAL).

“Imbauan saya, Pemda Ende secepat mungkin bisa mengupayakan agar videotron dimanfaatkan secara optimal. Pungut sewa iklan dari perusahaan-perusahaan swasta. Dengan demikian, rakyat tidak dirugikan,” katanya.*** (Flores Pos, 7 Maret 2017)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s