Air Mata untuk Said

Bapa Said, orang dengan gangguan jiwa yang selama puluhan tahun bergelandang di Kota Ende dan sekitarnya. Ia ditemukan warga, Sabtu, 17 Juni 2017 pagi, tergeletak tak bernyawa di salah satu titik Jalan Gatot Subroto Ende. Polisi dan keluarga mengevakuasi dan menyemayamkannya di rumah keluarga, Lorong Ganyo Ende.

Oleh Avent Saur

Sekalipun tak sempat meneteskan air dari mata ini, setidaknya mata sanubari yang tersembunyi di kedalaman diri berlinangkan air duka mengiringi kepergianmu, Bapa Said.

Sabtu pagi itu, di kuping kami yang sering menjumpaimu berkelana di kota Pancasila ini tak tentu arah, terdengar kabar kepergianmu itu. Engkau tergeletak di salah satu titik jalan, ditemukan pagi oleh warga yang mulai menikmati indahnya akhir pekan.

Agak lama sebenarnya warga itu mengenalmu entahkah engkau pergi betul-betul untuk selamanya, sebab tergeletak begitu sudah sering engkau lakukan dan betapa tidak warga memandangnya dengan sebelah mata.

Kali ini, engkau benar-benar meyakinkan semua mata bahwa jiwamu benar-benar terpisah dari tubuhmu yang kurang disentuh kasih sesama. Membujur kaku, tiada desahan, nadi tak berdenyut, hidung tinggal lubang semata. Ya engkau tidur lelap, dan usailah sudah derita jiwamu puluhan tahun.

Engkau sembuh abadi oleh obat anugerah kematian yang Mahapencipta sediakan sejak awal mula saat engkau jadi warga Tanah Air fana ini.

***

Kawan-kawan mengenangmu begini. “Ah, semalam, ketika kita melintasi jalan itu mengantar teman usai siaran di radio online Gomezone FM di Hotel Flores perihal realitas hidup gangguan jiwa, ia mondar-mandir persis di titik jalan tempat ia ditemukan berbujur kaku.”

Kawan bilang, “beri dia makan ya”. “Tak usah. Besok kan akhir pekan. Kita akan jumpai dia lagi.”

Dan betapa hati kami tersayat, benar kami menjumpai engkau besoknya itu, tetapi bukan lagi saat engkau bergelandang di trotoar-trotoar kota, melainkan di ruang tamu rumah keluargamu tempat engkau lelap diam seribu bahasa.

Kami berduka nan mendalam. Kami berluka nan memerih. Ahhhhhhhhhh… Bapa Said. Teganya, kau menggores-goreskan ini pada kelemahan kami.

Engkau sendirian menghitung langkah-langkahmu detik demi detik. Dan tak lelah sedikit pun. Dan kau sendirian juga mengembus napas pada detik terakhir langkah ziarah panjangmu. Sendiri, engkau sendirian.

Dan juga, malam, malam duka itu, sesamamu sedang mencumbui malamnya begitu lelap dengan mimpi di atas mimpi menuju pagi.

***

Rumah, engkau dibaringkan! Di dalam rumah, juga di luar, kami saksikan begitu banyak kawan-kawan dan sanak keluargamu. Beberapa Ibu berbusana khas keagamaan, duduk mengelilingi jasadmu, seakan-akan inginkan engkau segera bangun. Sesekali terdengar mereka berbisik-bisik, seolah-olah hendak menghentikan mimpimu dalam lelapmu. Wajah mereka sayup, sisa-sisa air dari mata mereka mengental.

Di luar, teras rumah itu diduduki sesama penduduk bumi kita. Kursi berjejeran di halaman dan penuh terisi. Bahkan itu tak cukup, warga meluapi kursi, berdiri pada beberapa titik sambil bersendagurau serta berkisah sepotong-potong tentang petualanganmu.

Bapa Said, bangunlah! Geraklah badanmu. Bukalah matamu, juga telingamu. Apakah engkau kenal semua mereka ini, Bapa Said? Yang bersarung keagamaan ini semua, engkau kenal kah?

Mereka semua kompak di sini karena mengenalmu. Ya mencintaimu bahkan sekuat-kuatnya mencinta. Apakah cinta yang kuat ini engkau pernah rasakan dahulu, sebelum napas terlepas dari ragamu, sebelum hayat pamit dari badanmu? Mereka mencintai hidupmu ataukah mencintai matimu, Bapa Said?

Tak tahu kami menjawab semua ini, Bapa Said. Kami sungguh-sungguh tak tahu. Seiota pun, tidak.

Namun kami tidak habis bicara, Bapa Said. Kesendirian dalam lekak-lekuk petualanganmu yang tak terarah itu, puluhan tahun lamanya, memberitahu kami bahwa engkau benar-benar ketiadaan cinta sesama dalam hidupmu. Dan di liang lahat kepunyaanmu itu, engkau pun tetap sendirian, ya sebab napas terlepas dari raga atau hayat pamit dari badan, adalah misteri yang sedikit pun tak pernah kita tahu kan? Cinta mereka semua rupanya hanya pada matimu, bukan pada hidupmu.

***

Nah coba diingat-ingat, entah kapan detiknya kami mengenalmu dalam kesendirian itu? Siang terik rupanya ketika itu, engkau mengayun langkah tak tergesa-gesa, kalem, di trotoar kota. Tubuhmu berpayungkan langit dengan sinar raja siang. Kepalamu berbalut rambut putih pirang berminyakan lumpur mengering. Wajahmu berhiaskan keringat menebal, tampak indah dengan bulu wajah terurai tak tersentuh pisau cukur. Engkau tak berkaca pada matamu, hingga bilur-bilur putih kentalan debu meleleh di celah-celah bulu matamu.

Meniru orang-orang elite yang mencintai tradisi, engkau masukkan ke dua tanganmu gelang-gelang kain lusuh buangan anak-anak yang engkau pilih di jalanan. Gelang-gelang kawat tua berkarat, kau pakaikan juga sebanyak-sebanyaknya engkau pilih.

Setiap kali jumpa, semua itu kami singkirkan. Buang jauh. Akankah kau ikuti dan pilih lagi mana kala kami sudah pamit? Entahlah.

Tak berganti bajumu yang lusuh juga. Ya juga sarungmu, setia menjaga sekujur tubuhmu. Peci putih buram daki bertahun-tahun mungkin, menjadi padanan indah pada mata kami. Jelaslah bagi kami, kau Muslimin sejati, yang mungkinkah engkau berpikir bahwa bergelandang itu adalah upaya mencari Rumah Ibadah Agung tempat suci engkau bersujud pada Tuhamu?

***

“Orang tua engkau hendak ke mana?” Cuma pandang kau balas. “Tak lelah berjalan?” Engkau berhenti sejenak. “Kau lapar? Kau haus.” Tak sedikit pun menjawab, tetapi dua tanganmu yang menyorong terbuka pertanda kau lapar, kau haus, kau lelah, kau tak berarah jalanmu. Lalu kau duduk, dan perlahan nan pasti hingga tuntas rezeki siangmu.

Begitu terus kami melakukan itu saban-saban akhir pekan. Lebih dalam kami menanyaimu. “Siapa namamu?” Atau juga “siapa namanya?” kepada orang-orang di sekitar. Juga “di mana keluargamu?” Dan “di mana rumahmu?” Selain engkau tak sedikit pun bertutur, juga orang-orang itu tak tahu satu pun jawabannya.

Lalu “Said”, dari siapa dan di mana kami mengenal namamu? Bukan lagi di trotoar kota ketika itu. Baru pertama kali kami menjumpai engkau di pasar tradisional Wolowona, ujung timur kota ini. Selagi kami mengerumuni engkau di pasar yang sangat jauh dari kebersihan itu, kami mendengar teriakan seorang Ibu, pelaku pasar: “Namanya Said”. “Asalnya?” “Saya kurang tahu.”

Semenjak itu, kami selalu menyebut namamu, “Said”. Dan kamu terus memanggilmu, “Said”. Ya Said, Said dan Said. Hingga malam saat engkau pamit pergi untuk selamanya, kami menyebut nama, “Said”. Hingga jasadmu berbujur kaku di rumah itu, kami tetap memanggilmu Said, entah engkau tak mendengar.

Kalau jika rumah ini kami kenal semenjak dulu, mungkin kami bisa sedikit menunda kepergianmu. Dalam diammu mungkin engkau pernah memberitahu kami rumahmu ini, tetapi kami tidak berbeda dengan organ-organ badanmu, ya pancaindra kita sama, dan sama-sama tak mampu menangkap isi diammu itu.

Namun doa-doa kami mengiringi kepergianmu, juga air yang meniris membasahi mata nurani moral kami, kiranya menandakan bahwa kami belum begitu terlambat mengenalmu. Selamat jalan ya Bapa Said. Salam buat Tuhan kita di Tanah Air Surgawi kita. Dan kami masih di sini bersama pusaramu ini.*** Kolom “Kutak-Kutik” Flores Pos, 22 Juni 217

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s