Bukan Cari Panggung

Ilustrasi “bukan”

Oleh Avent Saur

Heran rasanya ketika kebaikan, misalnya, kegiatan sosial dipublikasikan di media massa dan media sosial, justru dinilai bahwa itu murahan dan pencitraan.

Itu juga dinilai angkuh dan mencuri perhatian, serta tidak jauh berbeda dengan karakter hidup kaum munafik sebagaimana dikisahkan dalam kitab tua yang dipakai agama mainstream (arus utama) hingga kini.

Penilaian kritis ini terutama muncul sebab dalam publikasi itu selain mengabarkan kebaikan, juga keburukan atau lebih sopan kekurangan atau juga kelalaian pelbagai pihak yang memiliki sangkut paut dengan hal sosial itu.

Misalnya, aksi sosial menolong orang telantar dipublikasikan. Bersamaan dengan itu, mengkritik pemerintah lantaran kurang memperhatikan orang telantar.

Sentilan Murahan. Dalam status di media sosial Facebook, saya memberikan komentar lebih pada sentilan ini. (SENTILAN Terima kasih Pa atau Bu Tao T (?) Kami sempat tergoda dengan anjuranmu, beruntung tak sampai tertimpa jatuh. Tak pernah terbersit dalam benak dan akal kami untuk mengikuti “Arus Panggung”. Bagi kami, ini semacam lapangan. Kalau sempat kotor kami coba bersihkan semampu kami. Kalau rumputnya meningggi, kami coba memendekkannya. Maaf, kami belum dalami secara baik dan benar ayat-ayat Kitab Suci. Tuhan pun mungkin akan tak suka kami. Tapi itu urusan-Nya. Urusan kami lain mungkin.)

Sekalipun tidak terlalu menyisihkan begitu banyak konsentrasi terhadap penilaian kritis tersebut, tetapi setidaknya, dari situ, diketahui bahwa pertama, selalu saja ada orang yang berupaya mengadang bergulirnya roda kebaikan sosial.

Sekalipun segelintir saja jumlahnya, itu bagai kerikil yang kadang menyakitkan serta melemahkan.

Kedua, penilaian kritis itu datang dari orang-orang yang tersangkut paut dengan kelalaian atau kekurangan yang terungkap dalam publikasi dimaksud.

Sebab bagaimana mungkin sebuah upaya militan demi kepentingan umum begitu mudah dipandang sebagai sesuatu yang murahan dan pencitraan, gambaran orang angkuh dan pencuri perhatian? Mustahil muncul tentunya tetapi toh ia benar-benar muncul dan ada senyata-nyatanya.

Karena itu, faedah (nilai positif) dari penilaian kritis itu sekalipun tidak seberapa, ada baiknya tetap ditimba untuk menambah kebijaksanaan bertindak, berpikir dan bertutur.

Bahwasanya penilaian itu setidaknya mengingatkan pelaku kebaikan untuk selalu bersikap waspada terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya kecondongan ke arah negatif (murahan dan pencitraan, angkuh dan curi perhatian) dalam setiap tindakan baik. Itu mungkin semacam rambu-rambu pengingat (sekalipun kadang dipandang tak perlu) agar selalu diingat sedemikian rupa, tetapi tentu bukan serasa diintai.

Kecuali orang yang memiliki kepentingan dangkal, aksi kebaikan demi publik selalu lahir dari kemurnian hati dan kejernihan pikiran orang-orang langka. Memang betapa diharapkan, orang-orang seperti ini jauh dari langka, beramai-ramai itu justru lebih baik.

Kemurnian hati dan kejernihan pikiran yang diikuti dengan aksi sosial nyata (ini mungkin disebut kepekaan moral) tidaklah lain dari pada pemahaman yang kurang lebih mendekati kebenaran tentang martabat manusia dan hakikat sosial yang melekat pada martabat itu.

Bahwasanya, sejak manusia terbentuk dan lahir di alam ini, martabat bahwa seseorang itu setara dengan orang-orang lainnya adalah sesuatu yang melekat pada manusia.

Karena itu, sebenarnya tidak boleh ada penghargaan terhadap manusia bergantung pada kualifikasi keadaan fisiknya, peran sosialnya, jabatan fungsionalnya, pengaruh politik dan agamanya, atau predikat-predikat lainnya. Terhadap siapa pun, ya tentu semampunya, saling memperhatikan dan saling mengisi kebutuhan sesama manusia adalah suatu kewajiban moral hakiki. Dan ini dilakukan semata-mata berdasar pada martabat tadi.

Namun dalam konteks politik dan agama serta sosial-budaya, tanggung jawab moral melekat secara lebih istimewa pada orang-orang yang dipercayakan untuk hal itu. Ya melekat secara lebih istimewa sebab orang-orang itu menjalankan mandat rakyat atau umat banyak.

Maka ketika tanggung jawab ini kurang diwujudnyatakan oleh orang-orang itu (pelayan publik), itu adalah pintu bagi munculnya kritik atau pengungkapan secara transparan atas kelalaian dan kekurangan mereka.

Dan ini wajar di ruang publik dan sungguh bermoral semasih itu bisa dipertanggungjawabkan agar penataan keadilan sosial itu perlahan-lahan terwujud bersama-sama. Bukan mencari panggung, istilahnya.*** (Kolom “Bentara” Flores Pos, 29 Juni 2017)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s