Pahitnya Maumere Manise

Orang dengan gangguan jiwa di Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, NTT, yang terpasung dalam tiga tahun terakhir di dapur rumah orang tuanya.

Oleh Avent Saur

Ini bukan soal penyeleweng dana pembangunan Pasar Alok di Maumere, Flores, yang sudah masuk bui. Ini juga bukan perihal koruptor dana hunian pengungsi Gunung Rokatenda. Bukan juga litani pelaku kasus demi kasus lainnya di sana.

Semuanya ini memang pahit rasanya lantaran kasus-kasus ini dilakukan di atas derita sekian banyak warga kampung yang kecil dan sederhana.

***

Ya ini perihal kisah liburan Idulfitri belum lama ini.

Ada kabar bahwa tujuh orang dengan gangguan jiwa sudah diketahui datanya oleh sebuah kelompok sosial kemanusiaan di kota itu. Pada liburan Idilfitri itu, bersama kelompok peduli itu, kami coba berkunjung, sekadar menghibur lalu memberikan beberapa obat.

Dalam celah-celah kunjungan, kami mendengar kabar tambahan tentang adanya penderita yang sama. Jadinya, mereka berjumlah bukan lagi 7, melainkan 17.

Dalam sejarah Kelompok Kasih Insanis (KKI) Peduli Orang dengan Gangguan Jiwa yang berpusat di Ende dalam setahun terakhir sejak berdirinya 25 Februari 2016, pengalaman seperti ini belum pernah terjadi. Di Bajawa, Ibu Kota Kabupaten Ngada pernah terjadi, tetapi sekali kunjung cuma atas 4 orang yang pada awalnya cuma ada satu.

***

Dalam perjalanan kunjungan selama dua hari, pagi hingga malam, di tempat berbeda dengan jarak yang lumayan berjauhan, kawan-kawan memang tersenyum bahkan tertawa. Tetapi tampaknya itu bukan menandakan kegembiraan, melainkan sinisme. Mereka mengeleng-gelengkan kepala.

Juga bertanya retoris, “Kalau begini nyatanya Kabupaten Sikka, dengan Maumere ibu kotanya, di manakah manisnya Maumere itu sebagaimana biasa khalayak bilang Maumere Manise?”

Senyuman dan tertawa sinisme serta pertanyaan itu berdasar bukan hanya pada adanya 17 penderita gangguan jiwa yang secara perinci 7 terpasung, 2 gelandangan, 8 berdiam di rumah, melainkan juga berdasar pada perkiraan logis. Bahwasanya kalau pada awalnya kawan-kawan tahu 7 penderita, lalu dalam perjalanan kunjungan lantas 10 juga terdata, nah kalau 17 orang pada awalnya, maka lantas akan terdata berapa tambahannya? Bukankah menjadi sekitar 40-an orang?

Namun senyuman dan tertawa tadi tidak 100 persen (murni) bernuansa sinisme semata. Bergembira tentunya, sekalipun mata berkaca-kaca saat menemui mereka di rumah dengan keadaan yang memprihatinkan. Sebab toh mereka dibongkar ke ruang publik sekurang-kurangnya terwakili dengan kelompok sosial kemanusiaan ini setelah belasan bahkan puluhan tahun terbelenggu derita jiwa di persembunyian rumah-rumah dan pondok-pondok mereka.

Namun perlu kita ingat bahwa bukan dengan kunjungan kelompok sosial kemanusiaan ini, mereka lantas langsung bangkit dari tidur dan bebas dari pasungannya serta pulih segera jiwanya, melainkan setidaknya pertama, ada sebuah solusi yang ditawarkan setelah keluarganya jenuh berusaha dengan pertolongan dukun kampung dan pendoa kudus.

Bahwasanya, stigma orang gangguan jiwa sebagai pribadi yang kemasukan roh jahat yang notabene hanya mungkin diusir dengan kekuatan kerajaan setan (beelzebul) yang lebih besar atau kekuatan kuasa Tuhan yang dahsyat sebagaimana pernah terjadi dalam kisah-kisah Kitab Suci, seharusnya segera berlalu dalam budi dan keyakinan kita.

Sesingkat-singkatnya, gangguan jiwa itu sebuah penderitaan yang bisa diatasi dengan upaya medis. Dan kelompok sosial kemanusiaan ini menawarkan solusi medis ini.

Kedua, bukan juga sukacita yang dibawakan oleh pengunjung sosial kemanusiaan ini kepada keluarga penderita, melainkan justru terutama sebuah ajakan untuk “menderita lebih serius” lagi, sedikit lebih serius daripada perasaan derita sebelumnya. Ya harus semakin serius menderitanya agar upaya-upaya yang dimulai secara bersama-sama itu dilakukan secara serius pula.

Sekian sering, dijumpai bahwa “seadanya saja” keluarga memperhatikan penderita gangguan jiwa. Menyorongkan nasi sepiring dan air segelas misalnya, entah kemudian penderita makan atau minum, itu urusan penderita.

Demikian juga perihal kebersihan tempat pasungan, baik soal kotoran maupun soal pakaian atau terutama keadaan pondok pasungan yang memprihatinkan.

Karena itu, kunjungan itu adalah juga sebuah upaya membangkitkan sebuah semangat baru untuk melakukan hal-hal baru dengan sebuah cara pandang baru terhadap penderita gangguan jiwa. Bukan lagi seadanya saja, melainkan semampu-mampunya kita melakukan hal-hal baik demi menghormati martabat manusia yang notabene nilainya sama baik pada mereka maupun pada kita.

Ada semacam rasa manis solidaritas di dalamnya yang kurang lebih berarti bahwa marilah kita menanggung bersama jalan derita ini agar ringan rasanya, agar segera berlalu alaminya, agar hakikat sosial kita dirasakan bersama-sama, agar kita tidak merasa sendirian, agar juga tidak merasa sepi di tengah hiruk-pikuk semakin banyaknya manusia (dan semakin mederennya ilmu pengetahuan serta teknologi kini).

***

Ketika kita kembali ke kasus-kasus awal tadi lalu bersamaan menyaksikan fakta derita gangguan jiwa, betapa pahit rasanya hidup sosial kita. Ketimpangan sosial dan ekonomi begitu mudah menebal dalam hidup masyarakat kita.

Bukan hanya soal moral sosial pada umumnya, melainkan terutama para pengabdi negeri ini yang mendasarkan visi-misinya pada etika sosial-politik atau juga para pelayan masing-masing agama yang mendasarkan kebijakan misinya pada teologi salib misalnya, semestinya menaruh rasa dan upaya terhadap fakta orang dengan gangguan jiwa.

Dinas sosial ada, demikian juga dinas kesehatan. Semuanya ada sebagai wadah politik untuk menaruh rasa dan upaya itu secara sistematis, terencana dan rapi serta menyeluruh.

Kiranya kunjungan kelompok sosial kemanusiaan di Maumere yang dilakukan secara amatir dan yang belum dibentuk secara rapi, menjadi ketukan awal bagi sekian banyak warga dan sekian banyak pengabdi negeri di daerah ini, untuk berarak dan bergerak bersama mengatasi pengalaman rasa pahit ini.

Jika tidak, manisnya Maumere, di manakah?*** (Kolom “Kutak-Kutik” Flores Pos, 13 Juli 2017)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE, OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s