Migrasi Kaum Muda Bermotif Ekonomi

Ilustrasi orang muda menuju tempat rantau.

 Oleh Frans Obon

Ruteng, Flores Pos Migrasi kaum muda keluar daerah (Flores) lebih bermotif ekonomi. Hal yang sama terjadi pada migrasi tenaga kerja dari Flores yang sering kali dilakukan tanpa dokumen resmi.

Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada STKIP Santo Paulus Ruteng, Romo Bone Rampung, mengatakan, tekanan ekonomi sering kali menjadi alasan, termasuk kaum muda untuk bermigrasi ke luar Flores.

“Kalau kita jujur mencermati fenomena yang ada, orang muda bermigrasi ke luar daerah justru dengan alasan ekonomis. Tekanan ekonomi menjadi alasan utama bagi mereka yang meninggalkan daerah termasuk orang muda,” kata Romo Bone, Selasa (4/7).

Menurut Romo Bone, Gereja Katolik Flores coba melakukan gerakan alternatif dengan mendorong perkembangan koperasi kredit agar orang-orang Flores memiliki akses pada finansial. Dengan itu, orang Flores bisa bebas dari jeratan rentenir.

“Orang muda harus bisa memanfaatkan gerakan koperasi untuk mendapatkan modal dalam berusaha. Untuk itu, sejak dini mereka harus diperkenalkan dan dibiasakan dengan pilihan menjadi anggota koperasi, berperilaku produktif dan bukan konsumtif,” kata Romo Bone.

Orang Muda Katolik (OMK), menurut Romo Bone, dapat menjadi wadah alternatif bagi kaum muda untuk mendapatkan motivasi religius dan ekonomis.

“Tidak ada yang mustahil kalau kita berbicara tentang manusia, apalagi tentang orang muda. Manusia punya akal dan kehendak, tahu membedakan yang baik dan yang buruk untuk menentukan pilihan yang tepat,” kata Romo Bone.

OMK, katanya, sebagai wadah pembedayaan, mengapa tidak? Mereka toh muda yang akan memberi respons positif sejauh itu diberi motivasi, didampingi dan dilengkapi dengan contoh dan cara kerja yang bukan saja benar secara metodologis dan teknis melainkan juga baik secara moral.

Semangat rohani atau spirit kerohanian tentu saja harus dijadikan sebagai titik api pelecut semangat kaum muda dalam memanfaatkan kekuatan dirinya untuk memuliakan hidup dalam cara kerja yang baik.

“OMK sejauh didampingi dan berjalan dalam alur pikir yang benar, tak perlu diragukan bahwa wadah itu memberi harapan dan pemikiran yang antisipatif dan solutif,” katanya.

Komitmen Politik

Menurut Romo Bone, komitmen pemerintah diperlukan agar sungguh memperhatikan kaum muda. Pemerintah harus mengikutsertakan kaum muda dalam kegiatan-kegiatan yang produktif.

“Kalau ditanya soal pilihan tindakan pemerintah mencegah migrasi tenaga produktif meninggalkan daerahnya, cukup membolak-balikkan rekaman janji dan komitmen politik pemerintah. Bukan rahasia bagi masyarakat kita kalau menjelang perhelatan politik sasaran yang paling banyak  ‘diobjekkan’ justru orang muda,” katanya.

Dalam rumusan standar, kata Romo Bone, istilah “pemilih pemula” selalu dipertalikan dengan orang muda. Janji-janji politik  tampaknya terlalu murah diiklankan di panggung kampanye sekadar membius rasa orang muda dalam menjatuhkan pilihan polilik.

Hal penting yang harus diambil pemerintah sesunggguhnya cukup menepati janji untuk mengikutsertakan orang muda dalam aneka kegiatan yang sifatnya produktif. Menciptakan dan menyediakan lapangan kerja dengan upah yang pantas dapat menjadi salah satu pemagar arus migrasi tenaga produktif ke daerah lain.

Selama lapangan kerja dan kesempatan kerja dengan upah yang pantas sebagaimana sering menjadi penghias panggung kampanye politisi tidak dipenuhi, tampaknya arus migrasi tidak terbendungkan.

Kaum muda mesti memiliki daya saing. Karena itu, mereka perlu dibantu dengan menyediakan dana untuk pemberdayaan dan pelatihan dengan mendatangkan praktisi dari berbagai bidang.

“Seharusnya pemerintah dan berbagai lembaga dalam semangat yang sama dan sinergis bertindak sebagai fasilitator yang menghadirkan para praktisi dari berbagai bidang untuk membantu kaum muda menngembangkan potensi diri dan daerahnya,” katanya.

Tak Perlu Keluar Flores

Sebagaimana diberitakan Flores Pos, Senin (3/7), mantan Ketua PMKRI Pusat, Gaudens Wodar dalam pertemuan dengan anggota PMKRI Cabang Manggarai, Kamis (22/6), mengatakan, orang muda Flores tidak perlu keluar daerah untuk mencari pekerjaan.

Arus tenaga kerja produktif yang keluar dari Flores akan sangat merugikan daerah karena Flores akan kehilangan tenaga kerja produktif. Kekosongan tenaga kerja produktif itu akan diisi oleh orang luar yang bermigrasi ke Flores.

“Saya ingatkan orang muda untuk melihat dan membaca dengan baik fenomena ini. Fenomena itu adalah arus orang keluar dan arus orang masuk ke daerah untuk mencari pekerjaan.”

“Saya berharap orang muda harus siap diri membangun kampung halaman dan daerahnya. Tidak perlu keluar daerah untuk mencari pekerjaan,” kata Gaudens.

Menurut Gaudens, pembangunan di Manggarai raya akan terus berlangsung. Jika tenaga kerja di Manggarai bermigrasi keluar, maka peluang itu akan diisi oleh orang dari luar yang juga hendak mencari kerja di daerah ini.

Gaudens mencontohkan Labuan Bajo. Sebagai daerah pariwisata, terdapat peluang kerja yang besar. Jika peluang pariwisata ini tidak dimanfaatkan, maka orang dari tempat lain datang dan bekerja di Labuan Bajo.

Fenomena serbuan tenaga kerja dari luar daerah ke Manggarai Barat, menurut Gaudens, sudah sangat terasa. Hanya sedikit orang lokal yang menangkap peluang tersebut.

Menurut Gaudens, kaum muda harus menyiapkan diri dalam pelbagai bidang yang dibutuhkan dunia usaha sehingga kita menjadi tuan di daerah sendiri.

Johny G Plate, anggota DPR RI dari Partai Nasional Demokrat mengatakan, kaum muda harus melengkapi dirinya dengan pengetahuan dan keterampilan.

Ke depan, banyak jenis pekerjaan yang membutuhkan tenaga kerja yang terampil, berpengetahuan dan mampu bersaing dengan tenaga kerja dari daerah lain dan bahkan dengan tenaga kerja asing.

“Kalau tidak menyiapkan diri, kaum muda kita tidak akan bisa bersaing dengan tenaga kerja terampil dan profesional dari daerah lain,” kata Johny.*** (Flores Pos, 6 Juli 2017)

Baca: Orang Muda Produktif

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s