Imam, Umat dan Iman

Paus Fransiskus

Oleh Avent Saur

Didukung oleh umat (termasuk keluarga, ada juga tidak didukung keluarga), seseorang maju untuk menjawab panggilan Tuhan yang terdengar pada kuping dan terasa dalam nurani.

Sekalipun didukung atau pun tidak, sekalipun juga sekian banyak orang yang maju, persis seperti kata Tuhan sendiri, hanya sedikit saja yang lanjut hingga usai (jadi imam), atau bahkan sudah melaju jauh dan usai, segelintir malah mundur.

Dukungan itu semestinya terus menguat (bukan malah berseberangan) bahkan semestinya semakin menguat, sekuat-kuatnya, agar imam tak tergoyahkan di hadapan amukan arus bergelombang yang dahsyat sekalipun.

Ini dukungan sosial-religius, sebab toh adanya imam itu untuk dedikasi terhadap umat dan kebutuhan religiusnya (baik administratif maupun sakramental dan sosial-budaya-ekonomi-politik, dengan pelbagai dinamikanya).

***

Namun sekalipun dukungan sosial-religius ini urgen (mendesak) dan penting serta kontinu (berkelanjutan, bukan cuma saat pesta tahbisan), “komitmen personal” imam yang memiliki hubungan istimewa (sebagai orang tertahbis) dengan “Tuhannya”, adalah jauh lebih utama.

Kepada Tuhan yang memanggil dan mengutusnya, dan yang ia berikan jawaban serta yang ia nyatakan kerelaan menjalankan tugas perutusan, imam menyatakan komitmen personal itu dalam kerangka tritunggal (satu-kesatuan) nasihat Injil: “murni, miskin dan taat” (bukan soal urutan).

Dikehendaki bahwa ia dituntut untuk konsisten pada kerangka nasihat itu (imperatif kategoris, harus, bukan fakultatif), baik dalam menjalankan tugas secara fungsional maupun tugas atas dorongan potensi pribadi dan kreativitas pribadi. Ya semuanya ini mengarah kepada penyelamatan manusia dan penjagaan alam semesta ini.

Dan setidaknya, serta seharusnya, bersamaan dengan jabatan serta derajatnya dalam komunitas Gereja sebagai lembaga religius, dan juga keistimewaannya sebagai orang tertahbis, iman imam harus lebih berkualitas, lebih agresif, lebih matang, dan lain-lain yang serupa agar sungguh menjadi contoh bagi sekian banyak mungkin umat.

Dan iman sekalipun dipahami sebagai sebuah tanggapan atau jawaban pasti terhadap panggilan Tuhan yang juga ada pada setiap umat; pada imam, iman itu seharusnya memiliki daya pengaruh lebih (menjadi contoh, misalnya. Bukan sombong maksudnya).

***

Nah sebagai lanjutan dari pandangan teologi sosial-religius (atau juga eklesiologi atau refleksi tentang Gereja) ini, akhir-akhir ini, bersamaan dengan peristiwa tahbisan diakon dan imam serta kaul kekal para biarawan-biarawati, Gereja dikejutkan dengan peristiwa yang meliliti umat Tuhan Keuskupan Ruteng.

Atas dasar peristiwa ini yang sekalipun kurang terlalu jelas di mata publik, apa yang dibilang “iman imam berpengaruh” pun menjadi lemah kekuatannya. Umat juga sering kali bimbang entah oleh tokoh mana, iman dan pewujudan imannya dipedomani, apalagi peristiwa kejutan tadi mengena pada pucuk paling ujung dari pemerintahan Gereja lokal.

Ini benar adanya. Namun apakah boleh refleksi tentang pengalaman kejutan itu dimaknai secara beraneka? Misalnya, pertama, dukungan umat terhadap imam semakin tergerus baik terwujud dalam sedikit saja kelakuan baiknya (kelalaian) terhadap imam atau Gereja secara hierarkis, maupun terwujud dalam ketidakpeduliannya terhadap imbauan yang baik dari pemimpin Gereja.

Kedua, egoisme umat yang ingin dilayani secara istimewa hingga mengikatkan imam pada kelakuan dan pandangan sempit, yang terwujud dalam tindakan godaan atau lekas digoda (sering kali tidak dirasakan sebagai godaan lantaran egoismenya begitu kuat dan dominan), apalagi misalnya, peristiwa kejutan tadi memiliki kaitan dengan umat (sekalipun umat tertentu).

Ketiga, peristiwa kejutan itu sebaiknya juga dipandang sebagai lemah dan rapuhnya konsistensi personal imam terhadap tritunggal nasihat Injil (kaul atau janji berdimensi tiga). Karena itu, betapa pun rapuh atau krisisnya iman imam, iman umat yang adalah tanggapan personal terhadap panggilan Tuhan hendaknya tetap tak tergoyahkan. Iman umat bukanlah jawaban terhadap panggilan imam atau tanggapan terhadap desakan imam, melainkan panggilan Tuhan dan desakan Tuhan sendiri.

Maka dari itu, Gereja sebagai umat Allah pun akan kokoh berdiri, dan pembaruan akan tetap terus dilanjutkan. Imam bersama umat dalam iman yang sama, akan tetap maju bersama.*** (Kolom “Bentara”, Flores Pos, 6 Juli 2017)

Baca juga: Imam Tak Boleh Jadi Hamba Uang dan Jabatan

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s