Larus

Pengemis

  • Cerpen Herman Barung

Magdalena terkejut sebab Larus mengetahui semua tentang hal itu. “Terima kasih Rus,” kata Magdalena, “hal itulah yang sebenarnya mau aku katakan kepadamu. Aku sudah mendengar tindakan mereka terhadap temanku yang memakai rumah di seberang jalan itu. Setelah mereka diterima, mereka pamit dengan ancaman, berani menagih kami akan menangkapmu dan membawamu ke penjara kota.”

Herman Barung, Misionaris SVD Tinggal di Meksiko

“Semalam, aku lagi di kamarku di jalan Lubang Buaya itu. Aku masih menunggu seorang yang mau datang. Tiba-tiba pintu didorong dengan paksa, dan aku melihat segerombolan pria dengan senjata pentungan masuk. Aku lari melompat dari jendela kamar mandi dan kabur dalam gelap.”

“Sepanjang hari, aku bersembunyi di rumah seorang nenek tua yang tinggal sendirian, dan dia mengenalmu dengan baik. Dari dia, aku mendapat informasi tentangmu, akhirnya aku menunggumu pulang dan mengikuti dari belakang.”

Larus angguk-angguk mendengar cerita perempuan itu. “Tetapi Malaikat Surga,” sahut Larus, “apakah kamu mengetahui siapa dalang dari peraturan ini? Apakah kamu mengenal Diana dan Tiara yang cantik itu? Mereka telah menjadi istri para penguasa itu, padahal mereka itu dahulu penghuni utama jalan Lubang Buaya itu.”

“Dari mana Larus mengetahui hal itu?” Potong Magdalena penasaran.

“Malaikat Surga,” Larus memotong. “Ingatlah, bukankah saya selalu berada di jantung kota setiap hari? Setiap informasi tentang kota aku dengar. Sebab persekutuan para pengemis ada di seluruh pelosok kota, dan itulah yang kami miliki bahwa seorang yang mengetahui sama seperti kami semua mengetahui. Sama seperti engkau yang ada saat ini di sini, seluruh anggota persekutuan pengemis mengetahuinya.”

“Itulah sebabnya mengapa kami selalu lolos dalam setiap pergolakan di kota, dan justru yang mati adalah orang-orang yang kamu anggap hebat itu.”

“Sahabat kami itu udara. Setiap udara yang kami hirup membicarakan sesuat. Demikian pula angin yang menerpa tubuh kami, akan membisikkan sesuatu yang perlu kami ketahui.”

“Apalagi dengan tanah. Setiap tanah yang kami injak akan memberitakan sesuatu kepada rekan kami yang lain tentang apa saja.”

Magdalena semakin dekat dengan pria tua itu. Semakin lama, semakin banyak pertanyaan yang dilontarkannya. “Apa alasan mereka memaksakan suami mereka menertibkan kehidupan malam?”

“Oh anak muda,” sahut Larus. “Ini alasan tua, tetapi mungkin masih bisa diterima, dan mungkin ini benar. Sejak mereka menjadi istri orang terhormat, mereka berubah menjadi terhormat. Itu sebabnya mereka memakai pakaian yang sopan, merias diri secukupnya saja, serta lebih dari itu mereka terbatas menjumpai orang.”

“Itu sebabnya mereka iri melihat kamu yang bebas dengan pria mana saja, dan berpuas diri dengan apa yang kamu peroleh. Sebaliknya, mereka hanya puas dengan penghasilan suami mereka sendiri. Mereka telah terbiasa dengan hidup untuk diri sendiri, tetapi dengan menjadi istri orang terhormat, mereka meninggalkan semua itu.”

“Tetapi kebiasaan mereka yang serba mewah itu telah memaksa suami mereka menambah penghasilan. Maka tidak jarang, suami melakukan hal buruk. Mencuri uang rakyat. Frustrasi mereka itu yang membuat mereka iri.”

“Bukankah begitu malaikat Surga?”

Magdalena angguk sambil dalam hati tiada henti memuji kebijaksanaan pengemis tua itu. Miris rasa hati Magdalena mendengar semua itu, dirabanya gelang di tangan hasil pemberian pria yang satu, dirabanya kalung yang melingkar di lehernya sambil membayangkan pria yang memberinya.

“Mereka ini pria terhormat,” bisiknya dalam hati. “Mereka mencintainya, namun tidak berani menikahinya. Apakah mereka itu yang menciptakan aturan itu?”

Magdalena kembali menuding Larus dengan pertanyaan lanjutan. “Sekarang, apa yang hendak kita perbuat Larus?”

Pertanyaan itu membangunkan Larus yang tertidur ketika Magdalena sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Aku sedih, Malaikat Surga. Sebab aku tidak sebebas dulu lagi bertemu teman-temanmu di kaki patung itu, dan kini aku berada di situ penuh  ketakutan. Padahal aku tahu, engkau dan teman-temanmulah yang memberi aku dengan tulus. Engkau dan temanmulah yang berani bercakap-cakap dengan aku. Engkau dan temanmulah yang tidak menutup hidung dan memalingkan muka dari padaku.”

“Sebaliknya mereka yang terhormat itu, memandang aku dari jauh dan menutup hidung serta membuang muka dari padaku.”

“Jika ada orang sederhana yang memberi, mereka akan mendahului orang itu. Tetapi wajah mereka tidak tulus. Namun sebagai pengemis, aku tahu menghadapi mereka. Berhadapan dengan mereka, mesti menampilkan wajah belaskasihan yang lebih daripada kepada orang sederhana. Berdoa untuk mereka mesti lebih lantang untuk bisa didengar oleh orang lain, agar orang lain berpaling padaku dan melihat mereka sedang memberi. Dengan itu, mereka akan tersenyum puas. Berdoa untuk mereka bukan untuk didengar Tuhan melainkan untuk didengar orang lain.”

“Itulah bedanya denganmu dan teman-temanmu. Doaku tanpa suara, tersenyum sebelum memberi sama cerianya dengan sesudah memberi.”

“Oh aku tahu Larus,” sahut Magdalena memotong monolog Larus. Sambil mengangkat muka memandang Magdalena, matanya menitikkan butir-butir bening di pipinya yang keriput. Magdalena memegang pundak pengemis tua itu dan memandang ke arahnya penuh kasih.

Ini kali kedua perempuan itu memegang pundak pria pengemis itu. Pertama kali terjadi ketika Magdalena masih kecil, tatkala melompati pagar untuk menerima pemberian seorang perempuan tua yang ada di balik pagar. Waktu itu, pundak itu masih tegar, kini mulai rapuh dan tulang-tulangnya mulai menonjol.

“Aku mau beralih profesi Rus,” kata perempuan itu.

Larus mengangkat muka dan memandang Malaikat Surga di hadapannya. Lebih cantik daripada masa kecil bersamanya dulu.

“Akan kubuktikan itu padamu Rus, apa yang telah kupelajari itu,” sambil melompat ke arah ketinggian bekas meja tembok mungkin tempat menata perlengkapan dapur.

Mulailah Magdalena meliukkan badan, melakukan gerakan demi gerakan dengan teliti serta mengingat detail demi detail sebagai kunci keindahan. Pada cela-cela gerakan, Magdalena memandang pria tua itu, tanpa ekspresi, seolah-olah tidak ada apa-apa yang disaksikannya. Gerakan terakhir dilakukan Magdalena dengan sungguh-sungguh, dan menutup gerakan dengan sempurna. Seluruh sejarah pembentukan kota itu dibawakannya dalam gerakan pantomim yang indah dan menarik.

Pengemis tua itu terkejut dan kagum, Magdalena telah belajar banyak untuk hidupnya.

“Engkau hampir membuat aku tersenyum karena gembira,” sahut pria tua itu. “Dan itu berarti aku melanggar statuta dalam perkumpulan kami. Peraturan kami para pengemis, segembira apa pun suasana hati seorang pengemis, dia tidak boleh menampilkan wajah gembira apalagi tertawa. Pertunjukanmu hebat. Aku nyaris melanggar hukum para pengemis itu. Aku yakin jika itu bakatmu, panggung-panggung kota akan siap menerimamu.”

Malaikat Surga itu tersenyum puas karena pujian itu, kendati pada awalnya hampir putus asa karena merasa tidak berhasil apa-apa.

“Rus, sampai kapan aku boleh menumpang padamu?” Itu pertanyaaan terakhir wanita itu kepada pengemis tua itu. Pria tua itu memandangnya, seolah yang dilihatnya kini gadis mungil yang tidak punya perlindungan. Pengemis tua itu memejamkan mata, merenung sejenak, lalu menatap Magdalena.

Dengan suara yang berat pengemis tua itu berbicara, “Sebelum engkau pergi Malaikat Surgaku, aku ingin engkau menyaksikan seorang pria bersama dua anaknya yang mengantar duka mereka ke tembok yang terbakar ini. Jika engkau mendengar tangisannya adalah memanggil namamu, pergilah bersama mereka.”

Maka ketika langkah itu mendekat, dua pasang mata dari dalam gelap menatap pria itu, langkahnya bersenandungkan kidung yang sama. Ketika hujan air mata itu berhenti, ditatapnya tembok itu dan suaranya bergaung memanggil nama “Malaikat Surgawi”. Larus tersenyum. Sepasang mata menatap pria itu dalam-dalam. Pergilah, berbahagialah Malaikat Surgaku.”*** (Flores Pos, 18 Juli 2017) – kembali ke bagian pertama

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in Cerpen and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s