Larus

Pengemis

  • Cerpen Herman Barung

Bangunan itu tersisa tembok-tembok hitam legam. Itulah bekas rumah dan toko. Seberkas cahaya masuk melalui cela tembok pada bagian jendela samping yang sudah terbakar. Pemilik rumah itu telah pergi, setelah menguburkan istri dan anaknya yang masih bayi yang hangus terbakar bersama kekayaannya.

Herman Barung, Misionaris SVD Tinggal di Meksiko

Sesekali tuan rumah itu datang mengunjungi tembok hitam itu, mungkin sekadar membangkitkan kenangan akan istri dan anaknya yang tercinta. Kadang ia sendirian, kadang bersama dua anaknya yang luput pada hari nahas itu. Seorang lebih tua, perempuan, seorang lagi anak laki-laki yang masih kecil. Di depan tembok itu, air matanya tercurah bagaikan hujan di musim panas, namun melegakan hatinya yang pilu dan kering oleh kedukaan.

Kebahagiaan yang terbakar dan hangus kini meninggalkan puing-puing hitam yang membangkitkan memori lagu nestapa. Kini tempat itu menjadi hunian seorang pengemis tua, yang berhasil menemukan tempat yang aman itu dengan instingnya yang tajam sebagai pengemis kawakan, terlahir dalam dunia para pengemis. Dialah kepala pengemis di Kota Lara itu. Mungkin karena terkenal dangan sopi araknya, atau karena banyaknya nama tempat berakhiran dengan kata ara.

Larus, si pengemis tua itu, terbangun dari tidurnya. Bunyi langkah itu semakin mendekat, dengan irama yang sudah akrab di telinganya. Tidak akan pernah salah menduga, sejak ia menemukan tempat itu dan menjadi penghuni tunggal ruang gelap itu, ia tahu persis hal itu.

Itu langkah pertama selepas aspal, langkah itu melagukan kesedihan, dalam dentumannya langkah kedua terdengar bunyi penyesalan, pada dentuman langkah ketiga terdengar bunyi cinta yang terbakar, pada dentuman langkah keempat terdengar bunyi kerinduan yang mendalam.

Begitulah Larus mengenal langkah kaki itu, disertai pula suara pesan pada telinganya.

Pada langkah keempat ini, deraian air mata sang pria paru baya itu tercucur. Di tempat sang pemilik rumah berhenti terakhir, pada langkahnya yang keempat, langkah deraian air mata itulah, Larus selalu mengebaskan debu kota yang melengket setelah seharian menyeretkan tubuhnya merangkak menuju jantung kota.

Kepada setiap insan yang menyorongkan tangan dan memberi, dia selalu mendoakan yang terbaik. Sebaliknya, kepada dirinya sendiri ditaruhkannya kutukan demi kebaikan orang itu. “Biarlah tuan dan nyonya diberkati dari Langit serta mengalami nasib baik, dan biarlah segala yang buruk dan kutukan ditimpahkan pada hamba.”

Demikian doa itu menusuk tajam di telinga yang mendengarnya serta melegakan si pemberi. Dengan itu, si pemberi merasa bahwa ia telah melakukan hal yang besar bagi keberhasilannya. Demikian doa yang sama disampaikan sebagai tanda terima kasihnya.

Selama dua pekan terakhir, Larus gelisah. Setiap orang yang datang dan pergi, selalu berbicara mengenai ketertiban kota pada malam hari. Peraturan baru pemerintah kota, yang telah disahkan di DPR dan akan diberlakukan. Setiap orang yang berkeliaran malam hari tanpa tujuan dan tanpa surat-surat identitas yang lengkap, bakal ditangkap.

Larus memahami peraturan itu. Larus tersenyum perih, ditatapnya tembok di sekelilingnya, peti-peti kaleng bekas terbakar, serta tumpukan kertas yang terbakar sebelahnya.

Pikirannya melayang kepada pemilik toko itu, bagaimana jika semua dokumen tentang dirinya bersama keluarganya terbakar di rumah ini? Ya tentu dia juga akan ditangkap jika dia datang ke rumahnya ini pada malam hari.

Batin Larus kini mulai bergejolak. “Ah… aku memang sial. Batinku hanya berpikir tentang orang lain, sedangkan diriku sama halnya. Aku tak punya kertas-kertas itu, tak ada kartu keluarga, tak punya KTP, tak punya apa-apa. Akulah sasaran penangkapan itu. Aku sepantasnya tak dilahirkan di sini. Adakah bumi yang menerima orang tanpa identitas tertulis ini?”

Hatinya tak menjawab apa pun. Pertanyaan itu bagai bumi tak berujung, dari kaki langit menuju kaki langit, semua tak bertepi.

Ditatapnya kertas itu sekali lagi dan berkata dalam hati, “identitas itu selalu berupa kertas, bagaimana jika jatuh di kolam atau terbakar? Apakah orang itu menjadi seperti saya? Tidak punya identitas?”

Demikian batin Larus bergelora. “Apa perlunya bagi saya ini? Aku memang tak beralamat, seluruh sudut kota adalah alamatku, dan jantung kota adalah tempat kerjaku. Oh… Santa Lasarus doakanlah kami, orang-orang yang tak beridentitas di bumi, semoga di surga nanti kami tak perlu lagi kertas-kertas itu.”

Sudah dua hari ini Larus tidak ke luar dari gua tembok itu. Persediaan makanannya hampir habis. Jika Larus tidak berani keluar dan meminta di kota lagi, napas Larus bakal terembus habis.

Setelah dikumpulkannya keberanian, Larus bertekad untuk kembali ke jantung kota. Sudah dua malam ronda para pengawal kota berjalan. Larus beringsut dengan hati penuh kewaspadaan. Ia takut kepada pengawal kota yang mungkin akan menganggapnya sampah lalu membuangnya jauh di luar kota yang membuatnya bisa mati di tengah jalan sebelum sampai di kota lagi.

Hanya kota jadi harapannya. Sebab di kota ada hidup. Hidup dari kebaikan orang dermawan, juga hidup dari kebaikan orang yang mencari popularitas.

Ketakutan Larus menjadi buyar ketika menyaksikan keramaian di kota yang bertambah selama aturan ronda itu berjalan. Banyak orang bertahan nongkrong di jantung kota sampai larut malam. Mereka ini orang-orang yang memiliki identitas entah berupa kertas atau apa saja. Keramaian bertambah tetapi tidak seberapa hasil kemis yang diperolehnya, namun semua itu disyukurinya. Itulah hukum bagi pengemis.

Setelah kota mulai lengang, Larus mulai menyeret kembali tubuhnya menuju tempatnya. Di dalam ruang gelap itu, Larus beringsut-ingsut mencari posisi yang pas untuk meletakkan badannya dan menopang kepalanya.

Tiba-tiba bayangan muncul di depannya dan menyapanya “Larus”. “Larus.” “Larus”. Larus terkejut. Seorang wanita muda berdiri di depannya menyapa dengan namanya. Padahal ia tahu, nama itu hanya terkenal di kalangan mereka yang sesama pengemis.

Dari mana perempuan muda ini mengetahui nama itu? Apakah dia dari kalangan kami juga? Larus berpikir sejenak. Perempuan itu mencari-cari posisi agar dia dikenal oleh Larus.

Sedepa dari Larus terdapat sorotan cahaya, yang masuk di cela tembok hitam itu. Mukanya di taruh pada cahaya itu sambil berharap Larus mengenalnya, namun sejurus kemudian Larus menatap wajahnya sambil berkata, “wajahmu tidak membangkitkan ingatanku akan namamu, mungkin kamu telah banyak berubah.”

“Larus memang tepat, aku telah banyak berubah,” kata perempuan itu dalam hati. “Aku Magdalena.”

Larus coba mengingat nama itu. Pelan tetapi pasti bayangan masa lalu gadis itu pun muncul. “Oh Malaikat Surga.” Magdalena tertegun ingat nama itu. Itulah nama kecilnya dulu ketika masih dipelihara pengemis tua itu. Bagi Larus, perempuan itu pemberian langit yang menggembirakan, namun tak selamanya Larus merasakan itu. Perempuan kecil itu tak selamanya kecil. Ia harus melepasnya pergi ke tengah dunia, karena perempuan yang bertumbuh dewasa adalah milik dunia.

Larus angkat bicara. “Aku telah mendengar situasi kota, dan aturan baru yang mereka terapkan. Tidak ada lagi orang yang boleh jalan di kota pada malam hari bagi yang dianggap mengganggu ketertiban kota, terutama mereka yang tidak punya kartu identitas.”

“Tetapi aku heran sudah dua malam ini, situasi kota bukannya tambah tertib, malah tambah ramai dan hiruk pikuk. Toko-toko dibuka sampai pagi karena melayani kebutuhan mereka yang ronda malam. Dan mereka yang membawa serta kartu pengenal seenaknya nongkrong di pinggir jalan. Tetapi mereka tidak dianggap bersalah.”

“Mereka tidak perlu ditertibkan. Yang ditertibkan adalah mereka yang nongkrong di rumah-rumah atau di lorong-lorong gelap tanpa kartu identitas. Pengganggu ketertiban adalah kita yang tidak punya kartu identitas. Ya ketertiban kota malam hari bukan soal ribut, gaduh atau perkelahian, melainkan gangguan dari mereka yang tidak punya kartu identitas.” .”*** (Flores Pos, 11 Juli 2017) – lanjut ke bagian kedua

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in Cerpen and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s