Lelaki Itu

Ilustrasi membaca.

  • Cerpen Ezra Tuname

Dia membencinya. Lelaku itu membencinya. Aku juga membencinya.

Dia sibuk mengurus sesuatu yang membuatnya sakit. Dia akan sakit bila mengurusnya. Kepalanya pening. Wajahnya berkerut. Matanya memerah. Dia hanya akan baik-baik saja apabila dia tidak mengurus sesuatu yang membuatnya sakit.

Ezra Tuname, nama pena Alfred Tuname, lahir di Ende, 20 Agustus 1983, pengampu Komunitas Sastra Air Pasang Borong, Manggarai Timur, Flores.

Hingga larut malam, ia hanya membaca dan menulis tentang sesuatu yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri. Ia menulis di bawah suram lampu pijar. Kadang ia berhenti menulis, lalu berjalan di luar rumah. Malam-malam. Asap terus terembus dari mulutnya.

Aku hanya berbaring di tempat tidur. Aku juga membaca buku kesukaanku. Meski aku suka buku yang kubaca, mataku sudah lelah mengikuti kata dalam kalimat buku cerita itu. Orang menyebutnya dengan novel. Ya, aku membaca novel.

Tetapi dia tak mengatakan apa yang kubaca ini bukan novel. “Hanya cerita-cerita populer berisi curhat dan terlalu banyak alur yang cengeng.” Begitu katanya saat aku baru memulai membaca buku itu. Aku membeli buku itu di sebuah toko yang bukan toko buku, sebab terlalu banyak alat tulis dan asesoris di toko itu.

***

Suatu ketika, lelaki itu datang. Ia duduk di kursi kayu kesukaannya. Kursi itu sejengkal lebih rendah dari meja tempat alat tulis dan kumpulan bukunya. Ia tidak menggunakan laptop, tetapi mesin tik antik untuk menulis buah pikirannya.

Bunyi mesin itu membuat aku tak bisa tidur. Ia sangat aneh. Unik di zaman yang sudah menggunakan teknologi canggih. “Bunyi mesin ini membuatku selalu terjaga dan bersemangat,” begitu katanya. Gairah menulisnya selalu membahana ketika huruf pertama mulai ditik.

Sudah ratusan kertas yang terbuang. Seperti ratusan ide yang tak pernah selesai ia bahasakan. Kertas itu menjadi sampah yang tidak ada gunanya sama sekali.

“Jangan terlalu banyak ide. Pikiran perlu fokus. Kalau kebanyakan ide, semuanya tidak akan terurai habis,” begitu usulku kepada lelaki itu.

Dia tak bersuara. Hanya diam. Jemarinya terus bergerak-gerak berirama. Aku tahu dia sedang tersinggung. Dia sulit menerima usulan. Aku tahu itu dengan baik, sebab sudah cukup lama aku bersamanya. Tetapi kalau dia tersinggung, aku bahagia. Itu berarti dia masih menganggapku ada. Aku ada baginya.

Namanya lelaki, semakin diomong, semakin dibuat. Kini sudah berapa kertas HVS yang terbuang. Ide patah di tengah jalan. Padahal jika aku menengok judul tulisannya, semuanya menarik. Itu menurutku. Ada tema sosial. Ada tema politik. Ada tema hukum. Ada tema lingkungan. Semuanya menarik.

Ia pernah putus asa karena tulisannya tidak pernah selesai. Hanya sepotong-sepotong seperti ketika orang menulis komentar politik di dinding media sosial Facebook. Tulisan sepotong, tidak tuntas lalu dibuang. Karena tulisan tak tuntas, ia mulai lelah. Matanya kian sayup.

Tak hilang akal, ia membuat kopi. Di malam larut, ia membuat kopi hitam kental tanpa gula. Dia lebih suka minum kopi pahit. Tetap saja, rasa lelah sudah menguasai dia. Idenya mandeg. Ia tertidur dengan meletakkan kepalanya di meja, meskipun kopi sudah hampir habis. Kafein dalam kopi ternyata tidak berpengaruh apa-apa untuk ketahanan mata. Kopi hanyalah teman malam.

***

Malam ini, ia memindahkan mesin tik dan kertas HVS entah ke mana. Aku berbaring di tempat tidur. Aku ingin tidur cepat. Sikap berdoaku tak bisa menghasilkan doa malam. Pikiranku terganggu saat melihat gerak-geriknya yang aneh.

Meja kerjanya bersih, berbeda dari biasanya. Semua yang ada di atas meja dipindahkan dan hanya meninggalkan satu buku. Bukan buku baru, melainkan buku lama yang tidak pernah dibaca. Ia pernah membelinya pada awal tahun, tetapi baru jelang libur Natal ini ia mulai membacanya. Sebuah buku novel. Aku masih ingat, dia pernah bilang,  “Ini baru novel, ini baru sastra, perempuan perlu baca sastra!”. Ketika itu aku hanya angguk kepala dan senyum.

Entahlah apa yang ada di kepala lelaki itu. Dia menyalakan lilin lalu membaca novel itu. Lembar demi lembar dibuka. Bacanya cepat. Sangat cepat menurutku. Situasi tenang membuatku bisa tidur cepat. Aku tahu besok pagi ia akan menceritakan isi cerita novel kepadaku. Itu sudah menjadi kebiasannya.

“Kamu belum tidur?” tanyaku. Dia  tidak menjawab, hanya menggelengkan kepala.

***

“Tidak tidur semalaman, kamu kenapa?” tanyaku dengan perlahan dan merayu.

Aku membelai rambutnya sambil merapatkan pipi di wajahnya. Perlahan aku menutup bukunya dan memindahkannya dari tangannya. Lelaki itu hanya terdiam. Dua tangannya merangkul pinggangku dan mencium keningku.

“Coba cerita, mengapa kamu sampai tidak tidur? Kan masih banyak waktu untuk membaca. Tidak mesti semua buku dihabiskan satu malam,” tanyaku dengan wajah ketus.

Aku mulai menatap wajahnya. Pucat. Matanya memerah. Cepat-cepat kubuatkan susu kental manis untuknya. Kupaksakan dia minum. “Terima kasih,” katanya. “Lalu?” tanyaku.

“Saya keliru selama ini. Ternyata sastra ini membuat imajinasiku semakin baik. Novel membuatku semakin berdaya semangat. Saya nyaman dan senang. Itu yang bikin saya lupa tidur,” jawabnya dengan senyum.

“Sekarang kamu harus istirahat. Meskipun tidak lama tetapi kamu harus tidur.”

Lelaki itu hanya senyum. Ia mulai beranjak ke tempat tidur. Aku membentangkan selimut di tubuhnya.

“Sastra sudah membuatmu jadi manusia lagi. Istirahatlah!” kataku dalam hati. Aku menemaninya beberapa saat. Embun pagi sudah mulai mengering. Lelaki itu pun tidur. Dia adalah lelaki itu. Ia kekasihku yang pernah membenci tulisannya sendiri sehingga aku pernah membenci sikapnya.*** (Flores Pos, 8 Agustus 2017)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in Cerpen. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s