Malapraktik Kekuasaan

Ilustrasi

Oleh Avent Saur

Salah satu kecenderungan seorang penguasa adalah bahwa dengan kekuasaan yang dimilikinya sekalipun hanya sementara, akan memutuskan dan melakukan keputusannya seturut kehendaknya sendiri atau kelompoknya.

Kecenderungan ini bisa mewujud dalam dua rupa. Pertama, sekalipun sistem dan prosedur sudah tersedia rapi, tetapi dengan kekuasaan yang dipegangnya, seorang penguasa bisa bersiasat menyimpang dari sistem dan melampaui prosedur.

Kedua, penguasa menyimpang dari sistem dan melampaui prosedur demi mewujudkan kehendaknya sendiri atau kelompoknya, dan karena itu pula, mengabaikan kepentingan publik (masyarakat) yang notabene sebetulnya publiklah pemilik kekuasaan yang sebenarnya.

Etika politik pun dinodai. Kesejahteraan publik tersendat, demikian pula ketimpangan sosial antara elite kekuasaan dengan masyarakat bawah akan semakin lebar jaraknya dan semakin tinggi temboknya.

Praktik korupsi juga bakal semakin mendapat tempatnya, demikian juga kolusi dan nepotisme sebagai kawan-kawannya, serta diskriminasi dan primordialisme dan ketamakan.

***

Di tanah Congkae Sae, Manggarai, ada dugaan bahwa Bupati Deno Kamelus mengalihkan lokasi proyek irigasi “dari tempat ini ke tempat itu”. Apakah ini termasuk dugaan malapraktik kekuasaan, dan dengan itu juga dugaan korupsi?

Pada pekan ini, dugaan terhadap Kamelus Deno tersebut, oleh warga yang tergabung dalam Organisasi Masyarakat Setempat (OMS) Desa Gunung, dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta.

Turut dilaporkan, adalah Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Manggarai Vinsen Marung, dan Idar yang adalah Chapel Tim Survei lokasi tahap kedua dari Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT).

Dalam laporan itu disebutkan secara jelas bahwa Sang Bupati dan dua pihak tersebut, diduga mengalihkan anggaran proyek irigasi senilai Rp2 miliar dari lokasi Wae Wakat, Desa Gulung, Kecamatan Satarmese Utara ke Wae Wunut, Desa Rado, Kecamatan Cibal yang adalah wilayah asal Kamelus.

***

Sebagai sebuah laporan resmi, dugaan korupsi yang didasari oleh malapraktik kekuasaan tentu bukan tanpa bukti. Satu dan dua bukti tentu menggantung rapi pada tiang-tiang ingatan pelapor. Terlepas benar atau salahnya dugaan itu – Kamelus membantah dugaan itu – proses hukum adalah sebuah jalan pasti dan objektif di negara hukum ini.

Dan berdasarkan konsep malapraktik dan keberanian warga untuk membongkar dugaan kasus ini serta bantahan pihak-pihak terduga, sekurang-kurangnya tiga hal bisa kita petik.

Pertama, karena demikianlah sifat kekuasaan, maka malapraktik itu sudah sering terjadi. Sebersih-bersihnya sebuah pemerintahan, kalau pun tidak terbukti nodanya secara objektif di ruang pengadilan, setidaknya, sebuah dugaan terhadap malapraktik kekuasaan sudah sering terjadi.

Kedua, apresiasi terhadap kepala desa dan warga patut kita berikan. Bukan suatu hal baru, praktik korupsi itu sudah sampai pada pemerintah tingkat bawah. Kali ini, sebaliknya, pemerintah tingkat bawah berani menyatakan no corrupt. Atas dasar inilah, banyak pihak menaruh respek dan mendukung langkah pemerintah bawah ini.

Ketiga, sekalipun sebuah dugaan ketimpangan didukung dengan aneka bukti yang kuat, toh terduga sudah sering kali tidak dengan besar hati menyatakan diri sebagai orang bersalah, apalagi memaafkan. Membantah dugaan sekaligus menyebut Tuhan sebagai Sang Mahatahu, sudah sangat sering terlontar dari hati dan pikiran serta mulut terduga. Di sini integritas seorang penguasa sungguh dipertaruhkan.

Berdasarkan semua hal ini, arah perjuangan kita adalah kebersihan kekuasaan yang etikanya mesti selalu dijaga secara ketat. Penguasa dikehendaki untuk melawan arus kecenderungan malapraktik (kata tidak baku: malpraktik, KBBI), dan pada lain pihak, masyarakat diharapkan dengan militan mengawasi berputarnya roda kekuasaan. Say no to malpractice of power!*** (Flores Pos, 29 Juli 2017)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s