Bapak RT

Orang dengan gangguan jiwa yang ditelantarkan oleh Bapak RT-nya. Ia dipedulikan oleh Pak RT tetangga.

Oleh Avent Saur

Sekalipun agak pilu mendengar kabar tentang orang dengan gangguan jiwa yang terpasung baru sepekan lalu, tetapi mendapatkan informasi tentang adanya tambahan data adalah sesuatu yang kurang lebih menggembirakan.

Pertimbangannya begini. Mengetahuinya lebih awal adalah lebih baik dibandingkan setahun atau beberapa tahun kemudian baru diketahui. Tentang orang dengan gangguan jiwa yang sudah demikian lama mendekam dalam pasungan merupakan sesuatu yang sudah biasa kita dapatkan selama ini.

Tentang yang baru ini ya sama sekali baru. Makanya rasa gembira itu muncul spontan sekalipun itu tadi, ada rasa pilunya.

***

Ia dikunjungi Selasa pekan kemarin, sedang berbaring di tenda (panggung atau berkolong) berupa pondok beratap tanpa dinding sedikit pun.

“Ini dibuat mendadak,” begitu tukas warga dan kakak sepupunya.

Dua kaki pria yatim piatu ini menjulur di lubang kayu pasungan, potongan kayu kelapa tua. Permukaan kayu kelapa yang kasar menyebabkan kulit kaki mantan perantau Kalimantan Barat itu sedikit berluka gores.

Bukan cuma pondok yang mendadak dibuat, melainkan juga tentunya kayu pasungan itu. Ia dipasung malam. Itu sebabnya, dua kakinya tidak menjulur persis lurus, selurus-lurusnya, sebab dimiringkan seturut model lubang pasungan.

“Ini mesti dibongkar,” tegas saya.

“Betul, harus dibongkar. Ini sangat menyiksa dia,” ikut beberapa warga yang berhimpun spontan.

Mendegar itu, kakak sepupunya membisikkan satu poin penting yang setidaknya patut dipertimbangkan.

“Boleh bongkar, tetapi mesti beritahu Bapak RT dulu.”

“Silahkan panggil beliau,” desak saya.

***

Berempat termasuk saya berkumpul di halaman rumah dengan kursi seadanya a la kampung pinggir kota Ende dengan tata letak rumah-rumah yang jauh sekali dari rapi.

Agak panjang dan begitu lebar, beberapa pencerahan tentang kesehatan jiwa dan kepedulian terhadap orang dengan gangguan jiwa diutarakan saat itu. Sedikit juga perkenalan perihal KKI, sebuah kelompok sosial kemanusiaan yang baru keluar dari kepompongnya 25 Februari 2016 lalu.

Semua pencerahan itu diterima dengan kepala mengangguk Pak RT, ya termasuk sentilan tentang bongkar pasung dan anjuran buat pasungan baru yang lebih baik.

Ya sekalipun entah pasungan tampak lebih baik atau tidak baik, semuanya tetap tidaklah manusiawi. Namun apa boleh buat. Beginilah keadaan sosial dan negara kita yang sudah tua renta ini, 72 tahun.

Beres rasanya. Yang tersisa hanya tempo eksekusinya.

Namun semua keberesan ini tampak dipatahkan dua detik saja oleh Pak RT.

“Saya bukan RT-nya. RT-nya itu di sana.” Haaaa? Saya menganga seketika!

“Lalu orang tua satu ini bukan Pak RT?”

“Saya Pak RT. Tetapi saya bukan Pak RT-nya!”

“Bagaimana mungkin yang sudah kita omong-omong tadi panjang dan lebar itu bisa beres?”

“Kami sudah temui Pak RT-nya. Tetapi Pak RT bilang takut orang gila. Atur saja, katanya.”

Maka sambil mengekspresikan penyesalan akan Pak RT lain itu, saya menjabat lagi tangan Pak RT yang ini.

“Bapak mantap. Mari kita bersama-sama mencari solusi.”

Maka juga pencerahan baru tentang kedudukan RT setahu saya dibongkar lagi dari wadah memori saya.

“Pak RT itu adalah pejabat negara tingkat terbawah. Sekalipun kecil, ia toh digaji oleh warga.”

“Kalau kepada Pak RT dilaporkan tentang keadaan warganya yang seperti ini, gangguan jiwa, terpasung, maka Pak RT merespons laporan itu bukan dia sebagai pribadi, melainkan dia sebagai pejabat negara.”

“Kalau mungkin dia secara pribadi, dengan karakternya yang khusus takut terhadap orang gila, maka tentu terlalu cepat kita katakan jangan jadi Pak RT, maka adalah kewajiban fungsionalnya (lebih dari itu kewajiban moral kemanusiaan) untuk memikirkan atau bertukar pikiran serta mencari solusi atas keadaan warganya.”

Toh bukan hanya tentang orang dengan gangguan jiwa itu, melainkan ini kepentingan semua warga se-RT, keamanan dan kesejahteraan hidup sosial warga. Pak RT harus menjamin hal ini.

Itu yang kita tahu secara spontan, pengetahuan berdasarkan pengalaman dan kesaksian kerja Pak RT. Pengetahuan aposteriori mungkin sebutannya dalam dunia filsafat.

Selebihnya, tahu secara formal dapat kita bongkar dan baca Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 2007. Dan semua Ketua RT bukan hanya wajib baca, bukan hanya wajib tahu, dan bukan hanya wajib paham perihal regulasi ini, melainkan juga wajib melakukannya.

***

Saya ingat baik apa yang ditegaskan Wakil Bupati Ende Achmad Djafar Oktober 2016 lalu. Ketika itu, beliau memimpin pembongkaran pasungan orang dengan gangguan jiwa di salah satu kampung di Ende Timur.

“Kades dan lurah mesti tahu baik warganya termasuk yang terpasung begini. Masa orang dari luar kelurahan lebih tahu.”

Nah kalau kepada kades dan lurah dimestikan dengan tugas ini, maka apalagi Pak RT, entah itu RT-nya Ibu atau Bapak. Pak RT mesti lebih tahu sebab sangat dekat dari sisi jarak dengan warganya, bukan?

Kemestian tugas buat Pak RT tentu bukan sekadar “mengetahui”. Mengetahui kondisi warganya, sekaligus mengetahui bagaimana cara yang baik agar warganya keluar dari kondisinya, semisal kondisi terpasung.

Yang terjadi pada Pak RT milik orang dengan gangguan jiwa tadi adalah setelah mengetahui (karena diberitahu), ia bukan berdiskusi mencari jalan keluar atau menyaksikan keadaan warganya, melainkan malah menghindar.

Bahasa asyiknya adalah “cuci tangan”, dan ini bukan pakai air dan sabun, melainkan lumpur dan air raksa. Tangannya dicuci, hasilnya malah kotor bahkan beracun pula. Tidak boleh, sebenarnya, bukan?

Kita tentu prihatin terhadap kondisi ini, terhadap Pak RT-nya orang terpasung itu, dan sekaligus apresiasi yang tinggi terhadap Pak RT tetangga.

Atau apakah ini namanya merebut ladang kerja pejabat lain? Kalau “merebut”, silahkan gugat. Senjata moral sosial-kemanusiaan akan menjadi taruhannya.*** (Flores Pos, 21 Agustus 2017)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE, OPINI and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s