Air Mata Duka untuk Anci

Foto koran cetak Pos Kupang, edisi Senin, 27 November 2017.

  • Mengenang ODGJ yang Tewas Tertembak Polisi

Oleh Avent Saur

Beberapa media massa pada awal pekan lalu mengabarkan berita duka perihal tewasnya orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kampung Nontol, Desa Golo Ncuang, Kecamatan Cibal, Manggarai. Ia tewas usai peluru milik polisi Polsek Cibal menerjang tubuhnya.

Tanpa mengabaikan pelbagai alasan di balik penembakan, serta tanpa mengesampingkan kondisi dan ulah orang dengan gangguan jiwa bernama Anci, saya dan kawan-kawan yang baru (tahun 2014) memulai peduli terhadap orang dengan gangguan jiwa di Kabupaten Ende dan beberapa kabupaten di Pulau Flores dan Lembata serta Kupang dan Timor Tengah Utara (TTU), dengan tegas menyatakan prihatin dan kutuk terhadap peristiwa penembakan tersebut.

Di dalam keprihatinan dan kutuk tersebut, ada sebuah duka yang mendalam. Duka ini bukan cuma atas kehilangan Anci sebagai orang yang semestinya diperhatikan oleh pelbagai pihak – lantaran ia adalah orang sakit –, melainkan juga duka mendalam perihal kemanusiaan dan politik atas jalan pendek yang ditempuh polisi Polsek Cibal serta atas alpanya Negara. Ya pengabdi negara kita, antara lain Gubernur NTT, Bupati Manggarai, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Rumah Sakit dan Puskesmas.

Pihak-pihak ini alpa di hadapan persoalan kemanusiaan rakyatnya, orang dengan gangguan jiwa. Dan “gila” (sebagaimana tertera dalam judul berita media tersebut), sudah semestinya kata ini tidak dipakai lagi dalam pemberitaan media massa dan penggunaan harian masyarakat. Sebab kata ini tidak ada dalam kamus kesehatan. Jadi “gila” bukan sebuah jenis sakit, sementara orang bernama Anci tadi adalah orang dengan gangguan jiwa, sebuah sakit yang bisa diatasi secara medik.

***

Kiranya ada beberapa poin yang perlu kita telaah.

Pertama, pemahaman tentang orang gangguan jiwa. Tanpa mengabaikan pandangan yang komprehensif tentang gangguan jiwa dari sisi psikologis dan hukum atau undang-undang negara kita, bisa ditegaskan bahwa orang dengan gangguan jiwa apapun bentuk ulahnya tidak boleh dinilai sebagai kriminalitas.

Ulahnya termasuk pembunuhan sekalipun tidak bisa dijerat dengan pasal-pasal kriminalitas. Karena itu, biasanya, kalau orang dengan gangguan jiwa berbuat ulah atau mengganggu kenyamanan masyarakat, dan dilaporkan kepolisian, maka polisi tidak berani (dan sebenarnya mesti tidak boleh) memproses orang dengan gangguan jiwa tersebut.

Dalam konteks kasus di Manggarai tadi, justru hal sebaliknya yang kita saksinya, yakni polisi dengan berani dan beringas menembak mati orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Nah yang disebut benar-benar kriminalitas adalah aksi penembakan oleh polisi terhadap ODGJ tersebut. Namun mustahil polisi diproses secara hukum, sebab ulahnya itu dilindungi undang-undang. Dan boleh jadi juga bahwa sekalipun ulah tersebut memiliki celah melanggar undang-undang, saya kurang yakin bahwa proses hukum atasnya berjalan baik-baik saja. Mengapa? Sebab akan ada kemungkinan tentang menjaga nama baik korps kepolisian.

Yang paling mungkin kita katakan dan lakukan terkait ulah polisi tersebut bersama pemimpin yang memerintahkannya adalah mengutuk keras terhadapnya. Bahwasanya dari sisi moral kemanusiaan, penembakan mati tersebut sama sekali tidak dibenarkan.

Maka ketika kabar tentang penembakan mati itu saya ekspose ke media sosial Facebook, ada kawan berkomentar begini: “Semoga Tuhan membalas jasa polisi itu di akhirat kelak”. Komentar ini merupakan sinyal tentang ketidakberdayaan masyarakat dan kelemahan keluarga serta kelompok peduli orang dengan gangguan jiwa di hadapan moncong senjata para penegak keamanan.

Kedua, polisi keliru dalam bermetode. Bagaimana menangani orang dengan gangguan jiwa termasuk yang beringas sekalipun, semestinya dipelajari oleh kepolisian. Bagaimana mungkin metode yang biasa digunakan untuk para pelaku kriminalitas, polisi terapkan pada orang dengan gangguan jiwa, semisal tembakan peringatan?

Bagaimana mungkin metode yang biasa digunakan untuk para teroris, polisi pakai untuk orang yang sering saya sebut sebagai “orang belum kalah”?

Kematian orang dengan gangguan jiwa itu tentu bukanlah sebuah kekalahan entah baginya maupun baik saya dan kawan-kawan yang peduli terhadap kondisi hidup mereka. Di akhirat, juga di sini dan kini, kiranya dia akan menang, sebaliknya polisi akan kalah pada waktunya, demikian juga masyarakat. Jadi mereka belum kalah.

Ketiga, alpanya negara. Entah sejak kapan negara ini kurang peduli bahkan pada mayoritas daerah di Republik ini samasekali tidak peduli terhadap masalah orang dengan gangguan jiwa.

Baru pada tahun 2014, ketika Nova Riyanti Yusuf (anggota DPR RI Fraksi Demokrat saat itu) bersusah payah berargumentasi di forum wakil rakyat agar Undang-Undang tentang Kesehatan Jiwa segera disahkan, perhatian pemerintah terhadap persoalan orang dengan gangguan jiwa mendapat kerangka hukumnya.

Dan sudah beberapa tahun setelah undang-undang itu disahkan, kira-kira berapa daerah yang mulai mewujudkan kepedulian terhadap masalah ini? Jumlahnya tak sampai jari-jemari satu tangan: Provinsi DKI, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur. Provinsi lainnya? Entahlah.

Provinsi kita, Nusa Tenggara Timur coba memulai kepedulian itu melalui empat poli jiwa pada rumah sakit bersama (hanya) tiga dokter ahli jiwa, tentu bukanlah hal yang patut dibanggakan, sangat jauh dari kebutuhan masyarakat kita, sekalipun kita terus mendorong agar sedikit demi sedikit melangkah maju.

Provinsi kita juga coba membangun rumah sakit jiwa di Naimata, pinggir kota Kupang, tetapi proses pembangunan tersebut diwarnai dugaan korupsi yang hingga kini diam seribu bahasa proses hukumnya.

Bisa kita membayangkan bahwa rumah sakit itu dibangun sejak 2007 baru diresmikan pada 2017 (10 tahun), dan hingga kini belum beroperasi sekalipun secara struktural, dokter dan perawat sudah ditugaskan pada rumah sakit jiwa tersebut.

Setiap hari para petugas pergi ke rumah sakit untuk bekerja, tetapi tak satu pun pasien yang dirawat di dalamnya. Saya kurang tahu, kata apa yang cocok untuk keadaan seperti ini?

Alpanya negara terhadap persoalan orang dengan gangguan jiwa, praktisnya gubernur dan bupati dengan pelbagai perangkatnya di daerah, serta lembaga wakil rakyat, mengakibatkan semakin bertumpuknya jumlah orang dengan gangguan jiwa dan membuat semakin patennya metode masyarakat untuk mengatasi masalah gangguan jiwa seperti pemasungan, praktik perdukunan dan gaya beriman instan (mendatangi atau mendatangkan pendoa).

Dan yang terbaru dalam konteks kasus di Manggarai adalah aparat keamanan memakai metode tembak peringatan, kemudian penembakan mati.

***

Nah pertanyaan yang amat penting adalah sampai kapan negara ini alpa terhadap persoalan orang dengan gangguan jiwa, terutama negara di daerah? Kasus pemembakan itu hanya sebuah contoh. Kasus lainnya adalah pemasungan sadis hingga mati di kayu pasungan, pemasungan di alam bebas (tanpa atap dan tanpa dinding pelindung), pemasungan kemudian dibiarkan tidak makan-minum hingga meregang nyawa, pembakaran ODGJ yang berkeliaran di jalan-jalan, penyerempetan di jalan-jalan umum hingga tewas dan juga kasus bunuh diri pada orang dengan gangguan jiwa.

Kita berharap pemerintah daerah segera mengambil sikap: menyusun kebijakan nyata dengan didukung oleh kebijakan anggaran di lembaga wakil rakyat, serta didukung semampunya oleh lembaga sosial kemanusiaan, semisal Kelompok Kasih Insanis (KKI) yang khusus peduli terhadap orang dengan gangguan jiwa.*** Rumah Retret Belo, Kupang, 29 November 2017)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s