Cahaya bagi Mereka yang Terpasung

Avent Saur dalam acara Kick Andy Show di Metro TV, 22 Desember 2017.

Catatan: Artikel ini dipublikasikan di mediaindonesia.com edisi Sabtu, 23 December 2017. Penulis: Suryani Wandari. Dipublikasikan di blog saya ini dengan satu-dua perubahan.

***

Berkeliling dari kampung ke kampung di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi kegiatan rutin bagi Avent Saur. Bukan saja untuk berburu berita, pria 35 tahun ini juga menyalurkan bantuan dan perhatian bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Aksi sosial ini memang bagian dari komitmennya sebagai pastor. Selain berprofesi sebagai wartawan di Flores Pos, Avent merupakan pastor yang biasa melayani umat di Paroki Roworeke dan beberapa paroki lain di wilayah Keuskupan Agung Ende, sejak 2011.

Pada 2014, ia mulai fokus melayani ODGJ, dan bahkan mendirikan organisasi sosial kemanusiaan bernama Kelompok Kasih Insanis (KKI) pada 25 Februari 2016. Kelompok ini khusus orang-orang yang inign menjadi relawan peduli terhadap orang dengan gangguan jiwa

Saat ini, KKI sudah memiliki sekitar 450 anggota yang tersebar dari berbagai wilayah di Indonesia, bahkan dari luar negeri, seperti Amerika, Australia, Jerman, Austria, Belanda, Thailand, Jepang, Hong Kong, Taiwan, Singapura dan Malaysia.

Mereka berkomunikasi via grup di Facebook dan aktif menggalang bantuan untuk menolong pengobatan orang-orang yang memiliki gangguan mental.

Keseriusan Avent pada misi itu membuatnya dijuluki sebagai Pastor Orang Gila. Berbincang di acara Kick Andy Show, Avent mengungkapkan bahwa kepeduliannya berawal dari pertemuannya dengan Anselmus Wara pada Februari 2014. Anselmus adalah OGDJ yang dipasung warga Kurumboro, Desa Tiwu Tewa, Kecamatan Ende Timur, Kabupaten Ende, karena telah membunuh salah satu tetua adat (mosalaki) di kampung itu.

Anselmus memang dikenal warga sebagai orang yang “kadang waras kadang error“. Saat waras, ia bekerja biasa seperti orang pada umumnya, tetapi saat sedang error ia bisa marah hingga berujung ke peristiwa tragis itu.

“Ketika saya datang ke sana, kondisinya mengenaskan. Sebagian kakinya sudah membusuk, bahkan termakan ulat. Ia meminta tolong untuk dilepaskan dari pasungan supaya kakinya diobati,” kenang Avent.

Upayanya mengevakuasi Anselmus mendapat penolakan warga, bahkan Avent terancam dibunuh. Tidak menyerah, Avent menulis laporan panjang di Flores Pos tentang kondisi Anselmus. Tulisannya yang berjudul “Memandang yang Terpasung” itu sekaligus menyentil kepekaan masyarakat soal masalah pembiaran terhadap umat yang sedang sakit. Avent berkeyakinan bahwa Tuhan tidak pernah membeda-bedakan umatnya, termasuk yang sakit jiwa sekalipun.

Avent juga menemui banyak pihak, baik Bupati dan DPRD Ende maupun Uskup Agung Ende untuk bergerak menolong Anselmus.

“Sekitar 3 bulan kemudian, usaha saya berhasil berkat perhatian pemerintah, dalam hal ini bupati, dan media massa Flores Pos. Namun, ia dilepaskan bukan untuk dibebaskan, lebih pada untuk mengobati kakinya yang membusuk itu,” jelas Avent. Setelah lukanya terobati, Anselmus dibawa ke Panti Rehabilitasi Jiwa Renceng Mose di Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai. Pada 2016, ia dipindahkan ke Panti Sosial Bina Laras Phala Martha Sukabumi, Jawa Barat.

“Saat ini kondisinya sudah sehat, kakinya sudah sembuh, kejiwaannya juga sudah pulih. Ia sekarang di panti Sukabumi. Dia harus tinggal di sana, maksimal 2 tahun,” jelas Avent.

Mendirikan KKI

Selain kasus Anselmus, Avent Saur juga sering mengunggah banyak foto dan cerita ODGJ di media sosial Facebook. Bermula dari sana, banyak pula orang yang melaporkan kondisi saudaranya yang bernasib sama untuk segera dibantu. Bahkan, beberapa orang ikut terpanggil untuk terlibat dalam kegiatan Avent Saur.

Akhirnya, pada 2016, ia  berinisiatif mendirikan Kelompok Kasih Insanis (KKI). Mereka yang ingin bergabung dengan grup harus memiliki kesamaan visi dengan KKI. Meski KKI dibentuk di Ende, cakupan kegiatan KKI juga ada di Maumere, Lembata dan Kupang. Setiap akhir pekan, relawan mendatangi ODGJ, baik di jalanan maupun di rumah termasuk yang terpasung di pondok-pondok dekat rumah.

Kepada para OGDJ yang tinggal di rumah, anggota KKI mengajak berkomunikasi dan mengecek perkembangan kesembuhan, serta memberi obat yang dititipkan keluarganya.

Sementara itu, untuk ODGJ yang tinggal di jalan, KKI membantu memberi makanan, minuman, dan memotong rambut, tetapi tidak memberi bantuan obat.

“Obat ini khusus untuk orang gangguan jiwa. Biasa kami dapatkan dari apotek setempat. Tetapi obat ini harus diserahkan bagi pasien yang ada di keluarganya. Kalau yang di jalanan, diberi obat, nanti siapa yang memastikan diminum rutin atau tidak. Jadi tidak kami berikan,” ucap Avent.

Tak hanya itu, Avent juga terus memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa dengan penanganan yang benar, maka penderita gangguan jiwa dapat disembuhkan.

Dengan begitu, gangguan jiwa tidak boleh dipandang sebagai aib apalagi dipasung. KKI mendata bahwa ada lebih dari 500 ODGJ di Flores, dan 300-an di antaranya ada di Ende. Angka ini diyakini belum menggambarkan keseluruhan jumlah yang sebenarnya karena jangkauan kegiatan KKI yang terbatas.

Selain berkeliling membantu memberi makanan dan minuman ODGJ, KKI juga beberapa kali mengantar ODGJ untuk dirawat di panti rehabilitasi jiwa.

“Jumlahnya ada belasan, di panti rehabilitasi Maumere ada 4, di Ruteng ada 9, dan di Sukabumi ada 3. Untuk perawatan di rehabilitasi khususnya di Ruteng, per bulan Rp1,5 juta untuk satu orang saja. Jadi, biayanya cukup besar, kadang kita punya uang, tetapi kadang juga utang dulu. Tetapi berutang demi kemanusiaan, saya kira itu jauh lebih penting daripada kemanusiaannya tidak terawat,” jelas Avent.

Saat ditanya, apa harapan Avent Saur ke depan, ia menandaskan, “Harapan terbesar saya adalah agar negara ini bertindak adil pada warganya, tidak terkecuali mereka yang sakit. Kalau sakit batuk, flu, dan lain-lain mereka bisa sediakan layanan, mengapa untuk orang dengan gangguan jiwa tidak?”

“Belum lagi dengan pemasungan. Ini jelas dilarang dalam Undang-Undang Kesehatan Jiwa. Tetapi di daerah pemerintah belum menerapkannya (melarang), dengan alasan yang bermacam-macam.”

Sementara itu, untuk masyarakat dan keluarga penderita ODGJ, Avent berharap semua orang memandang manusia dengan setara sebab semua orang sama di hadapan Tuhan, tidak terkecuali bagi mereka yang sakit.

“Tidak benar, manusia menindas manusia lain, dengan asalan karena manusia lain dianggap sakit jiwa,” tegas Avent. (M-3)

Sumber: http://mediaindonesia.com/news/read/137682/cahaya-bagi-mereka-yang-terpasung/2017-12-23

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA, FEATURE and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Cahaya bagi Mereka yang Terpasung

  1. Halo Pater, slm dari Papua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s