Proses Menuju Kematian TKI

Prosesi pemakaman jenazah Adelina Sau, TKI asal provinsi NTT yang meninggal di Malaysia. (Foto: https://www.voaindonesia.com/courtesy)

Oleh Avent Saur

Salah satu hakikat manusia adalah ingin bertahan hidup lebih lama. Tetapi ujung-ujungnya, manusia akan mati. Ini juga menjadi bagian hakiki dari hidup manusia.

Karena itu, entah hidup itu singkat atau lama, persoalannya adalah bukan soal matinya manusia, melainkan bagaimana proses menuju kematian.

***

Data kematian 137 tenaga kerja Indonesia di luar negeri diangkat dalam rapat gabungan komisi DPRD NTT bersama Sekretaris Daerah NTT tengah pekan ini. Sejumlah 46 orang tahun 2016, 62 orang tahun 2017 dan 29 orang pada Januari-April 2018.

Yang diusut terhadap fakta kematian ini semestinya adalah bagaimana proses sampai 137 orang itu mati. Pengusutan itu diperlukan agar terhadap kematian yang tidak wajar, semisal kekerasan oleh majikan atau kecelakaan kerja, selanjutnya diusut secara hukum; bukan terima saja jenazahnya lalu memakamkannya.

Karena itu, adanya tenaga yang belajar khusus bertugas melakukan pengusutan, yang mungkin tidak seperti pengusutan kasus-kasus kematian tidak wajar di negeri kita, sangatlah diperlukan.

Nah ada satu pertanyaan. Adakah pengusutan itu sulit dilakukan lantaran sebagian besar TKI itu yakni 129 orang disebut tenaga ilegal?

Tidak. Sebab toh kematian bisa dialami oleh siapa pun.

Indikasi bahwa ilegalitas bukan menjadi kendala pengusutan adalah pemerintah tahu data jumlah TKI yang mati itu. Tinggal selanjutnya adalah usut.

Heran rasanya, ketika DPRD dan pemerintah (tentu juga masyarakat) menaruh keprihatinan terhadap fakta kematian 137 warga tersebut, tetapi toh yang menjadi substansi pembicaraan dalam rapat elite adalah bukan perihal strategi dan penugasan untuk mengusut fakta proses menuju kematian itu. Bukan juga (apalagi) untuk selanjutnya memikirkan bagaimana mengurangi jumlah kematian begitu.

Yang didalami dalam rapat tersebut justru perihal legal dan ilegalnya TKI serta beberapa hal lain semisal pengendalian moratorium dan kebijakan memperbanyak lapangan pekerjaan.

***

Dalam banyak kasus kematian TKI yang jenazahnya dipulangkan negara ke kampung asalnya, keluarga dibingungkan dengan sebuah larangan antik yakni jangan buka peti jenazah. Tidak ada penjelasan apa pun tentang larangan ini. Dikatakan secara sederhana bahwa ini urusan negara.

Pernyataan sederhana itu gampang dipahami tetapi tidak mudah diterima. Keluarga bertanya dan mempertanyakan, kenapa larangan itu muncul? Nah adakah sesuatu yang disembunyikan oleh negara terhadap kematian TKI?

Pertanyaan ini sangat mudah dijawab “ya”. Ini juga terindikasi dari tidak adanya pendalaman serius para petinggi daerah kita terhadap fakta kematian TKI itu.

Lebih lanjut, tidak seriusnya respons pejabat publik terhadap fakta kematian itu menandakan satu hal yang serius juga terkait dinamika hidup manusia yakni bahwa kematian TKI serasa tidak memiliki arti di mata pejabat publik.

Kiranya kita semua berpikir bahwa terlepas dari ilegal atau ilegalnya seseorang menjadi tenaga kerja di negeri orang, hidup dan matinya seorang warga negara adalah terutama tanggung jawab pejabat publik yang notabene pejabat itu “diberi makan-minum” oleh rakyat TKI itu.

Pandangan ini semakin mengentalkan penilaian publik bahwa jabatan publik yang dipangku oleh orang-orang elite bukan terutama untuk mengabdi pada kepentingan publik yang adalah pemilik kedaulatan jabatan, melainkan untuk menyejahterakan diri sendiri, keluarga dan kroni-kroninya.

Jadinya, demokrasi hanya akan menjadi sistem Republik yang tergaris secara dokumentatif dan tertulis kaku, sebaliknya bukan menjadi ruang civil society untuk mengalami kebaikan umum.

Mati di manapun tempatnya bukanlah sebuah persoalan. Tetapi mati dengan cara apa, itulah yang wajib dicaritahu oleh para penanggung jawab rakyat Republik ini.*** (Kolom “Bentara” Flores Pos, 5 Mei 2018)

Baca: http://www.nttonlinenow.com/new-2016/2018/05/03/tiga-tahun-terakhir-137-tki-ntt-meninggal-di-malaysia/

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s