Air Kubangan

Timba Air: Warga Golo Muntas di Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai, Pulau Flores, Provinsi NTT, menimba air kubangan untuk memenuhi kebutuhan minum, cuci, kakus, dan lain-lain.

Oleh Avent Saur

Nurani siapa tidak terenyuh dengan kabar ini: “Warga Golo Muntas di Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai, Flores minum air kubangan.”

Satu lagi, “Warga Tengatiba di Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo, Flores minum air kotor dan berbau”.

Beberapa foto berkesan diikutsertakan dalam kabar itu. Beberapa warga Tengatiba duduk jongkok, mengelilingi sebuah kubangan kecil, mencelupkan gayung, lalu menuangkan air ke mulut jeriken. Bukan seperti sumur yang dalam, apa yang disebut kubangan pastilah dangkal. Setiap kali airnya digayungkan, yang tertinggal adalah keruhan.

Lain lagi dengan warga Golo Muntas yang selama sepuluh tahun pernah dipimpin oleh tokoh yang sama (dua periode, Christ Rotok), dan kini dipimpin oleh bupati yang dulu adalah wakil dari Rotok. Beberapa warga mengelilingi kubangan yang cukup lebar, mencelupkan jeriken hingga dipenuhi air. Yang tertinggal tentulah sama yakni keruhan, kotoran.

Air kubangan, kotor dan berbau tak sedap semestinya bukanlah untuk binatang berakal budi, melainkan untuk binatang berinsting. Sama-sama haus misalnya, binatang berinsting mencari air pelepas dahaga, kotor atau tak layak sekalipun. Sedangkan binatang berakal budi yakni manusia, mampu memilah antara air yang bersih dan yang kotor untuk memenuhi kebutuhan primernya.

Warga Golo Muntas dan Tengatiba menimba dan mengonsumsi (kata tidak baku: mengkonsumsi) air kubangan yang kotor dan berbau tak sedap bukan karena mereka tidak mampu memilah dan memilih, melainkan karena tidak ada pilihan lain.

Jadinya, mereka subhuman: kondisi memaksa mereka untuk hidup setara dengan binatang berinsting.

Bayangkan, Republik dengan usia kemerdekaan sudah setara kakek-nenek, kebutuhan primer sekian banyak rakyat belum terpenuhi sebagaimana mestinya.

***

Nah salah siapa?

Orang boleh berguyon begini terhadap warga Golo Muntas dan Tengatiba: “Makanya, jangan tinggal di puncak atau lereng bukit.” Atau, “siapa suruh tinggal jauh dari sumber air”.

Guyonan ini bukanlah semata-mata sinis yang menguap begitu saja tanpa bekas. Ini adalah sebuah pelecehan dan penghinaan terhadap manusia sebagai pribadi, selain terhadap budaya yang sudah mendarah dan mendaging dalam diri mereka secara integral.

Melecehkan budaya, sebab oleh karena kebudayaanlah, maka mereka berupaya sekuat tenaga dan nurani untuk mencari dan menemukan air (bagaimana pun kondisi air itu) dengan meninggalkan rumah. Mereka mengambil air untuk dibawa ke rumah, bukan sebaliknya mereka memindahkan rumah dan tempat tinggal ke area dekat sumber air.

Guyonan itu juga adalah sebuah perendahan terhadap keadaan mereka sebagai pribadi. Sebab siapa pun orangnya, keadaan itu pasti tidak dikehendaki. Maka semestinya mencari solusi secara bersama adalah sebuah kewajiban moral siapapun, terutama para pelayan publik. Nah kepada pelayan publik inilah jeritan rakyat di dua tempat itu mesti diperdengarkan.

***

Ada dua bukti kecil bahwa pelayan publik ingin selesaikan persoalan akut warga di dua wilayah tersebut.

Pertama, eksekutif. Entah kapan tahunnya, sebuah proyek air minum bersih pernah ada di Golo Muntas dengan anggaran miliaran rupiah dari APBD Provinsi NTT.

Manfaat proyek itu hanya dirasakan oleh warga di beberapa kampung, sementara warga kampung-kampung lainnya hanya menerima semacam kabar burung.

Tidak ada hal yang kita duga perihal sebab dari kurangnya kegunaan proyek ini, selain dugaan mafia dan sepinya pengawasan dari pihak terkait.

Entah kapan lagi proyek itu diadakan lagi? Gubernur Frans Lebu Raya sudah dua periode, dan hampir usailah sudah massa. Tahukah ia tentang jeritan warga ini?

Kedua, wakil rakyat sudah tahu baik tentang jeritan warga tersebut lantaran beberapa kali reses dan mendengarkan keluhan warga. Namun reses tinggallah reses, keluhan tinggallah keluhan.

Reses kali ini boleh jadi untuk menitip janji baru kepada warga bahwa “jika kalian pilih saya lagi, maka akan saya perjuangkan sungguh-sungguh solusi atas keluhan ini”.

Janji politik itu tentu sangat kita perlukan, tetapi tiadanya realisasi adalah sebuah kebohongan terbuka. “Dosa kamu lho.”

Dan kita tahu bahwa air kubangan akan menjadi cerita klasik konsumsi para pelayan publik jelang pesta demokrasi. Tetapi air kubangan akan tetap dikonsumsi rakyat yang telah menitipkan kedaulatannya kepada pelayan publik: sebuah sengkarut sosial, ekonomi dan politik yang selalu menjadi substansi kegelisahan kolektif para pencari keadilan.*** (Kolom Bentara, Flores Pos, 25 Mei 2018)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s