Keyakinan Korban dan Korban Keyakinan

Ilustrasi kehancuran terorisme.

Oleh Rofinus Pati

Rofinus Pati, Alumnus STF Driyarkara Jakarta

Kejadian bom bunuh diri di Surabaya yang menewaskan dan melukai puluhan orang beberapa waktu masih belum pergi dari ingatan kita semua. Media cetak dan elektronik menyajikan berita bahwa aksi mengakhiri hidup sendiri dan hidup orang lain bertolak dari sudut pandang agama juga.

Aksi ini merupakan sesuatu yang wajib hukumnya agar keanggotaan seseorang di dalam lembaga agama menjadi sah. Lebih dari itu, imannya baru sah kalau padanya tumbuh kebencian, dan kebencian itu menjadi pemicu aksi bom bunuh diri.

Aksi teror seperti ini hanya dilakukan oleh oknum-oknum tertentu dalam Islam (karena keyakinan Islamnya secara pribadi) dan tidak berarti bahwa semua orang Islam adalah teroris. Banyak sekali orang-orang Islam yang mengutuk aksi jahanam ini dan menyampaikan belasungkawa mendalam bagi keluarga korban. Indoktrinasi sistematik membuat orang-orang yang sebelumnya baik-baik saja bisa menjadi gelap hatinya dan buntu pikirannya.

Seperti dirilis Tempo, pelaku terorisme berani bunuh diri dan orang lain dengan bom disebabkan oleh indoktrinasi. Yudi Zulfachri, mantan narapidana kasus terorisme angkat bicara. Menurut Zulfachri, pelaku terorisme melakukan sesuatu sebagai pembuktian imannya. Walaupun sudah mengucapkan syahadat Islam, pelaku belum sah menjadi seorang beragama kalau belum mengingkari Thogut, seperti kepolisian RI dan TNI.

Pengingkaran Thogut ini dilakukan dengan tahu dan mau agar terhindar dari label ‘kafir’ dan boleh memasuki gerbang surga bersama-sama. Bahwa generasi pelaku terorisme saat ini bisa juga mengajak anak-anaknya untuk melakukan bom bunuh diri dapat dimengerti dari ucapan Yudi Zulfachri: “Bila dia mati sendiri, anaknya berbahaya. Bisa kafir kalau ditinggalkan. Jadi, anaknya diajak, supaya sama-sama ke surga,” demikian ujar Zulfachri.

Tribun News Bogor, edisi Jumat, 18 Mei 2018, menyentil mantan teroris Al Qaeda, Sofyan Tsauri, yang mengacu kepada pasangan Dita Oepriyanto dan Ruji Kuswari. Suami istri itu mengajak 4 anaknya melakukan aksi bunuh diri.

Tsauri mencontohkan indoktrinasi yang diberikan ibu kepada anaknya. Misalnya, “Nak, mau nggak ikut Abi dan Umi ke surga? Cuma tinggal pencet tombol ini, maka kita sudah terbang dan kita ke surga.”

Menurut pengakuan ketua RT di tempat mereka bahwa sehari sebelum kejadian itu, dua anak ersebut shalat di musala dan saling tangis-menangis. Mungkin anak-anak tak bersalah itu merasa takut mati juga, namun mereka tidak menyadari penipuan paling licik dari seorang ibu yang tega.

Keyakinan Korban

Kalau ditilik dari sisi korban, maka aksi pelaku sekaligus korban bom bunuh diri di Surabaya bagi banyak orang barangkali bertolak dari keyakinan yang absurd. Namun, bagi para pelaku bom bunuh diri, tindakan itu rupanya menjadi solusi hitam putih untuk menggapai jaminan surga di seberang sana sehingga ‘mati suci’ menjadi harga mati.

Kebencian dijadikan landasan untuk beraksi, bahkan dengan memusuhi dan membenci kepolisian RI dan TNI. Sebab bagi pelaku bom bunuh diri, kepolisian RI dan TNI menegakkan hukum pemerintah (duniawi) yang sedang dan selalu dibalut kompleksitas permasalahan yang ditandai pergeseran nilai-nilai hampir di segala bidang kehidupan manusia.

Kebencian membidik 2 sasaran. Pertama, para pelaku bom bunuh diri membenci para penganut agama-agama, meskipun kejadian ini tidak dipicu oleh masalah antaragama. Orang-orang dalam satu kelompok sajapun dapat dicap kafir, apalagi orang-orang dari keyakinan lain. Meledakkan diri di gereja-gereja atas dasar kebencian menunjukkan bahwa gereja-gereja di mata pembunuh diri merupakan simbol dari kekafiran itu sendiri dan umatnya otomatis kafir juga.

Kedua, kebencian terhadap pemerintah yang tidak mampu mengatasi segala bentuk kemaksiatan di bumi ini sebagai akibat dari modernisasi dan globalisasi. Pada mata para pelaku bom bunuh diri, kepolisian RI dan TNI merupakan simbol kekuasaan atau kekuatan negara yang tidak berdaya.

“Tritunggal Mahakotor” alias korupsi, kolusi, nepotisme (KKN) yang masih melekat pada oknum-oknum yang rapuh integritasnya, segala macam ketidakadilan, kebiadaban dan sejenisnya, menjadi tontonan rutin bagi warga, bahkan sampai di kampung-kampung.

Karena itu, serangan terhadap kepolisian RI dan TNI secara tidak langsung merupakan serangan terhadap pemerintah yang tidak mampu menegakkan yang halal dan membasmi yang haram. Kesejahteraan dan kemakmuran rakyat masih jauh panggang dari api dan para pembunuh diri ingin cepat-cepat menyelesaikan sekaligus mengatasi semua kompleksitas permasalahan itu dengan bom yang diyakini akan membawa mereka terbang ke surga. Itulah cara mereka menghadapi dunia zaman ini dan segera lari melepaskan diri dari segala bentuk ‘kekafiran’.

Korban Keyakinan

Orang-orang boleh mati mengenaskan, dunia boleh mengutuk, keluarga korban boleh bersedih karena kehilangan dan menderita kerugian material maupun finansial, namun pelaku sekaligus korban bom bunuh diri sudah mati hancur juga dan berangkat ke alam seberang. Keyakinan yang begitu kuat bahwa mereka sekeluarga akan segera terbang menuju surga telah membuat mereka nekat mengirim diri mereka sendiri kepada kematian yang secara nalar dapat dinilai konyol oleh sebagian orang. Bahwa setelah kekonyolan masih akan ada kesucian dan jaminan surga, tidak seorang pun tahu.

Surga memang bukanlah milik segelintir orang yang ingin segera pergi ke sana lewat bom bunuh diri yang turut membunuh dan melukai orang lain secara sadis, bahkan orang kafir sekalipun.

Keyakinan mereka memang adalah hak mereka dan mungkin malaikatpun tidak dapat membatalkannya. Namun pertanyaan kita adalah apakah Tuhan pernah menyuruh langsung pelaku bom bunuh diri atau para aktor intelektualnya untuk menghantam orang-orang tak bersalah dengan cara itu? Kapan Tuhan menyampaikan secara langsung kepada mereka bahwa mereka akan terbang dan segera ke surga setelah tubuh mereka hancur oleh bom?

Dua anak kecil dalam contoh di atas tadi barangkali tahu bahwa ‘terbang dan segera masuk surga’ dengan cara memencet tombol bom itu sangat menakutkan, tetapi mereka sungguh tak berdaya. Andaikata anak-anak diberikan penjelasan yang jujur tentang cara terbang menuju surga seperti ditempuh oleh satu keluarga di Surabaya itu, maka anak-anak mungkin lebih memilih hidup menjadi kafir daripada pergi ke surga hanya dalam hitungan detik, tetapi dengan cara tragis.

Apakah Tuhan pernah mengangkat para pelaku bom bunuh diri menjadi eksekutor peristiwa tragis itu sehingga mereka mendapatkan legitimasi untuk menjadi serigala bagi sesamanya? Bukankah itu adalah tanda arogansi para pelaku bom bunuh diri yang mau mengatasnamakan Tuhan untuk menghalalkan segala tindakannya?

Kalau memang Tuhan yang tidak berwujud, yang seperti kita imani itu, pernah mengangkat mereka, maka itu jelas-jelas bukanlah Tuhan. Sebab hanya manusia yang berwujud (material) bisa mengangkat orang dan melantiknya menjadi algoju.

Lalu bagaimana nasib para pelaku bom bunuh diri di alam seberang? Apakah segera setelah bom meledak, mereka terbang dan segera tiba di surga? Sekali lagi, yang kita tahu bahwa kita memang tidak tahu.

Namun, tidak berlebihan kalau kita sejenak berimajinasi dari sudut iman kita. Mungkin saja jiwa-jiwa pelaku bom bunuh diri itu  melayang-layang menuju suatu tujuan, lalu tiba dan berada di hadapan sosok ‘Mahaputih’ bercahaya terang-benderang.

Pada saat memandang sosok ‘Mahaputih’ itu, mereka masuk ke dalam sumsum hatinya, lalu melihat dan menyadari diri sesungguhnya bahwa mereka (seperti yang kita imani) telah melanggar hak Tuhan atas hidup dan mati manusia; mereka seharusnya mencintai sesamanya di bumi; mereka semestinya bekerja sama dengan orang-orang lain untuk melakukan sesuatu betapapun kecilnya dalam menciptakan suatu dunia yang lebih adil dan manusiawi untuk dihuni bersama dan bukan meninggalkan dunia dan lari kepada bom.

Andaikata itu tidak benar terjadi, maka para pelaku bom bunuh diri  tetap rugi karena telah membuang hidup mereka sendiri secara sia-sia. Namun, kalau benar terjadi, maka para pelaku bom bunuh diri itu rugi dua kali. Pertama, mereka tidak memanfaatkan kesempatan selama hidup di bumi ini untuk melakukan secuil kebaikan dan menghindari kejahatan. Kedua, mereka memang tidak dapat kembali lagi ke bumi ini dengan badan karena mereka telah memencet tombol bom yang merenggut hidupnya dan hidup sesamanya hanya dalam hitungan detik.

Sebagai pelaku sekaligus korban bom bunuh diri, mereka sungguh menganut keyakinan sendiri yang mungkin tidak dapat dikompromikan dan mungkin juga mengandung kebenaran tertentu, tetapi mereka sendiri sekaligus menjadi korban dari keyakinan itu.*** (Opini, Flores Pos, 25 Mei 2018)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s