Gereja Terpasung, Gereja Memasung

Kaki seorang ibu terpasung di Bajawa Utara. Ibu yang menderita gangguan jiwa sudah puluhan tahun ini dikunjungi Kelompok Kasih Insanis (KKI) Ende-Bajawa pada 22 April 2018 lalu.

Oleh Avent Saur

Perayaan Pentakosta di Paroki Mataloko, Flores, pekan lalu diwarnai pencanangan yubileum 100 tahun paroki tersebut; selain penerimaan sakramen krisma terhadap 1000-an umat.

Puncaknya pada 2020 nanti. Akan ada aneka acara yang akan diciptakan dalam rentang waktu dua tahun ke depan.

Misalnya, pendampingan anak dan remaja serta kaum muda dan para saksi nikah, dan lain-lainnya termasuk renovasi gedung gereja.

Semuanya ini terarah kepada pengembangan iman umat agar Gereja bertumbuh subur. “Yubileum tidak hanya dirayakan secara lahiriah semisal pesta, tetapi terutama untuk pengembangan iman agar usia 100 tahun sungguh bermakna dan bernilai positif,” demikian tegas Uskup Agung Ende, Mgr Vincentius Sensi Potokota.

Betapa tidak, dengan imbauan dan rencana pastoral ini, Gereja dituntun untuk berjuang ke arah yang semakin baik. Dan perjuangan ke arah baik itu rasanya diteguhkan bersamaan dengan makna yang ditimba dari Sakramen Krisma dan Pentakosta: “Kamu juga harus bersaksi.”

***

Kabar yubileum ini beserta imbauan dan rencana-rencana kualitatif ini, mengingatkan saya akan adanya sekian banyak umat tersisih sudah sekian lama di wilayah paroki tersebut.

Umat tersisih itu, salah satunya adalah orang dengan gangguan jiwa. Selain jiwanya, yang terganggu pada diri mereka adalah juga fisik dan sosial. Demikian juga mereka sepi dari jaminan ekonomi, kesehatan dan religius.

Fisik, mereka terpasung dan dianiaya. Sosial, mereka disisihkan dan diremehkan serta diolok-olok. Ekonomi, mereka bergelandang tanpa jaminan makanan-minuman yang layak.

Begitupun kesehatan, mereka tidak diobati sebagaimana orang sakit pada umumnya. Religius, mereka tidak didekati atau dilayani sebagaimana umat lainnya.

Sepintas, dimensi-dimensi ini, semuanya adalah tanggung jawab moral politik negara, kecuali dimensi religius mungkin. Dimensi yang satu ini menjadi tanggung jawab pemimpin umat.

Namun oleh karena pemimpin umat cenderung terbawa arus stigma sosial (pandangan negatif produk masyarakat), bahkan pemimpin umat justru menjadi bagian dari arus stigma tersebut, maka sekian sering strategi pastoral buat mereka kurang diupayakan.

Benar-benar, mereka tersisih dari kebijakan pastoral seakan-akan mereka bukanlah umat.

Bukan hanya tersisih dari kebijakan pastoral, melainkan juga keadaan mereka sering dijadikan objek momok, misalnya tergambar dalam beberapa pernyataan stigmatisasi: “Jangan sampai kamu gila seperti dia,” “Jangan buat begitu, awas kamu gila seperti dia,” “Dasar orang gila” dan aneka ungkapan setara.

***

Bukan tidak mungkin, kepentingan orang kecil-tersisih ini dirumuskan secara rapi dalam refleksi-refleksi teologis. Demikian juga diutarakan dalam renungan dan khotbah.

Pemimpin umat semacam menyerukan spiritualitas sosial atau spiritualitas kesaksian, tetapi sebagaimana pernah diterangkan oleh Franz Magnis Suseno, spiritualitas sosial tersebut hendaknya didalami lebih jauh.

Begini kata Magnis:

“Kita banyak bicara tentang keterlibatan sosial Gereja. Tetapi apakah kita sendiri, Gereja, sudah terbuka secara nyata bagi orang-orang kecil yang selama ini tersisih? Apa yang terjadi pada kita sehingga saudara-saudari kita yang kecil tidak ada dalam perhatian nyata kita?”

Pertanyaan-pertanyaan refleksif ini terutama jika orang kecil itu adalah orang dengan gangguan jiwa, didasari oleh kenyataan sepinya Gereja baik pemimpin maupun umat untuk memberikan kesaksian nyata dan senyata-nyatanya terhadap mereka.

Karena itu, betapa diharapkan, panitia yubileum Paroki Roh Kudus Mataloko, Flores, menyelipkan kepentingan orang dengan gangguan jiwa dalam agenda-agenda kegiatan memaknai peristiwa bersejarah tersebut.

Jika tidak, adalah tidak berlebihan bila dikatakan bahwa sungguh memprihatinkan keadaan “Gereja terpasung dan Gereja memasung” sebagaimana tampak pada gambar kaki Ibu asal Bajawa Utara di atas. Entah hingga kapan?*** (Kolom Bentara, Flores Pos, 26 Mei 2018)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Gereja Terpasung, Gereja Memasung

  1. Ayu Frani says:

    Wah, Saya sangat manyambut baik jika Gereja ikut telibat secara aktif dalam menangani masalah umat yang memiliki masalah gangguan kejiwaan atau gangguan mental.
    Jika di Paroki kami di Banjarmasin, masalah gangguan mental masih belum masuk kedalam masalah utama yang harus dijadikan prioritas untuk program kesehatan paroki. Karena secara statistik, masalah utama di kalangan warga Paroki adalah masalah tekanan darah, Stroke dan masalah seputar pembuluh darah dan seputarnya, sehingga masalah inilah yang menjadi tujuan pelayanan kesehatan di Paroki.

    • Avent Saur says:

      Gereja Katolik di Indonesia belum memperhatikan hal ini. Paroki-paroki atau keuskupan-keuskupan, sekalipun terus berbicara tentang orang-orang kecil dan sakit, tetapi gangguan jiwa belum disentuh secara nyata.

      Kita berharap, pada waktu mendatang, ketersentuhan itu akan ada.

      Salam ke Banjarmasin, Ayu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s