Merindukan Tulisan Mahasiswa di Koran

Ilustrasi mahasiswa menulis.

Oleh Bonefasius Zanda

Media cetak Flores Pos, 28 Juli 2018 melansir berita bertajuk Digelar, Pelatihan Menulis Berita. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Citra Bakti Ngada, dengan tema Membangun Kreativitas Mahasiswa dalam Dunia Menulis Menuju Insan yang Cerdas.

Hemat saya, menghadirkan narasumber yang kesehariannya bergelut dengan dunia literasi seperti Pemimpin Redaksi Harian Umum Flores Pos (FP), Pater Stef Tupen Witin SVD dan Pemimpin Media Cermat Ngada Eman Djomba menjadikan kegiatan ini sungguh berkualitas. Karenanya, publik berharap kegiatan ini dapat mengejawantahkan tema di atas dan cepat berdampak edukatif secara konkret bagi kaum intelektual Ngada pada umumnya dan semua mahasiswa serta staf dosen STKIP Citra Bakti Ngada khususnya.

Diharapkan juga, pelatihan ini melegitimasi bahwa pihak yayasan selalu peka terhadap kebutuhan semua sivitas akademika STKIP citra Bakti. Bahwa kampus sebagai rahim yang melahirkan, membesarkan dan mendidik mahasiswa calon guru harus menghidupi spirit literasi. Melek baca dan tulis haruslah menjadi kebutuhan dasar bagi insan-insan intelektual. Hal ini sejalan dengan penegasan Wakil Ketua III Dek Ngurah Laba Laksana, “Menulis adalah kebutuhan. Jika sudah jadi kebutuhan, maka setiap hari kita akan menulis. Menulis menjadi pendukung utama ketika kita ingin kritik, ide atau gagasan diketahui orang lain.”

Sejauh ini, kehadiran STKIP Citra Bakti Ngada sangat berdampak humanis bagi masyarakat Ngada pada khususnya dan Flores pada umumnya. Kampus ini sudah banyak mendidik dan melahirkan calon-calon pendidik berkualitas yang menyebar pada lembaga pendidikan di Flores. Banyak mahasiswa yang bergabung dalam organisasi eksternal seperti PMKRI dan GMNI. Selain itu, mahasiswa dan dosen sering melakukan road show jurnalistik.

Dampaknya, akhir-akhir ini mereka sering menyuarakan kebenaran yang sering dibungkamkan oleh penguasa  lalim. Beredasarkan berbagai fakta konstruktif ini, maka saya patut memberikan apresiasi sembari berharap agar kampus ini semakin berkualitas dan dicintai oleh masyarakat luas.

Gugat Eksistensi Mahasiswa

Selain mendatangkan apresiasi, kegiatan ini melahirkan banyak pertanyaan gugatan. Apakah wadah (ruang dan pelatihan) yang sudah diikhtiarkan oleh pihak kampus ini dapat menjadi peluang emas yang segera ditangkap dan didayagunakan oleh semua sivitas akademika STKIP Citra Bakti secara cepat dan konkret? Publik tunggu hasilnya.

Masyarakat Ngada yang mencintai kampus ini pun berharap agar kegiatan ini bukan sekadar mau menjawabi aturan kampus atau program Badan Eksekusi Mahasiswa, melainkan secara konkret harus segera menulis yang dapat memampukan mahasiswa untuk bisa menulis skripsi secara bertanggung jawab.

Hal yang paling edukatif bagi mahasiswa untuk bisa menulis selain banyak membaca di media apa saja, ada baiknya juga berlangganan koran. Saya sendiri sudah sebelas tahun menjadi pembaca setia media cetak FP. Media yang bagi saya sangatlah elegan dan berkualitas. Bukan saja isinya berkualitas melainkan terutama sebagai wadah pembelajar yang sangat edukatif dan bermartabat. Tanpa disadari pula, lewat media ini juga, sebenarnya kita sedang belajar jurnalistik. Tulisan-tulisan berkualitas pada kolom Bentara, Opini, Feacture dan juga berita, hemat saya sangat membantu insan akademisi untuk belajar menulis yang baik.

Pertanyaannya, berapa banyak mahasiswa yang setia membaca koran? Berapa banyak kampus dan sekolah yang berlangganan FP?

Menurut Wim De Rosari, wartawan FP Kabupaten Ngada, minat baca masyarakat terhadap koran sangat rendah. Ini terbukti dari penyebaran koran FP di Ngada hanya mencapai 250 eksemplar. Jika berlangganan koran saja enggan, apalagi mau menulis yang baik, lebih tidak lagi. Maka harapan agar kaum akademisi dan lembaga pendidikan sebagai sumber literasi kebenaran dalam tutur maupun sikap semakin jauh panggang dari api.

Selain itu, fakta juga membuktikan bahwa sangatlah sulit saya menemukan tulisan dari mahasiswa di media FP. Ini salah satu indikasi yang menggambarkan bahwa insan-insan akademisi belum menjadikan literasi sebagai kebutuhan hidupnya. Ini juga dampak dari mengartikan pelatihan jurnalistik hanyalah sebuah seremoni sempit. Atau lebih ekstremnya, hanya ajang untuk menghegemoni cara pandang publik untuk kepentingan yang sempit, minus kebenaran. Apalagi pelatihannya hanya satu kali dalam waktu beberapa jam saja. Di tambah lagi minus semangat untuk berani memulai secara praksis berkelanjutan.

Jika fakta destruktif ini tetap dihidupi dalam dunia kampus, maka mental hegemoni ala kampus dan malas literasi tetap dihidupi oleh kaum intelektual. Kemajuan dunia digitalisasi digunakan untuk literasi destruktif. Media Facebook, Instagram, WhastApp hanya digunakan untuk hal-hal yang tidak edukatif, yang justru merendahkan marabat sebagai insan akademisi. Semisal, buat status putus cinta, selfie pamerkan pakaian, bibir merah ala mahasiswa.

Kewajiban sebagai mahasiswa, seperti mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dosen secara bertanggung jawab semakin jauh nyata dari harapan. Budaya mental instan copy paste tanpa seleksi terus bertumbuh subur. Menggunakan jasa orang lain untuk mengerjakan tugas akhir semakin marak.

Janganlah heran, jika harapan untuk semakin banyak agen-agen perubahan ala mahasiswa hanyalah mimpi. Yang ada, justru agen-agen plagiator pembunuh eksistensi dunia akademik. Dampaknya, harapan menjadikan kampus sebagai wadah berseminya para akademisi yang kreatif, inovatif dan bernapaskan literasi sering kali hanyalah harapan hampa. Akhirnya, lahirlah juga para pendidik yang ompong dan minimalis. Makanya, janganlah heran jika aturan bagi guru untuk harus menulis supaya bisa naik pangkat saat ini seakan menjadi mimpi buruk yang terus menghantui dunia guru sebagai kaum akademisi.

Belajar pada STFK Ledalero

Tak dapat dimungkiri bahwa yang sering menghiasi FP adalah tulisan-tulisan mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, di Kabupaten Sikka khususnya kolom Opini dan Feature. Mengapa demikian? Perlu disadari bahwa kultur sikap yang melek baca-tulis ala mahasiswa STFK Ledalero bukan untuk bisa tulis masuk koran dan skripsi melainkan jauh dari pada itu sebagai suatu kebutuhan yang harus dipenuhi tanpa syarat.

Memang harus diakui juga bahwa setiap individu mampu membaca dan menulis. Kemampuan itu bisa kita tuangkan dalam banyak media, semisal menulis status edukatif di FB dan blog pribadi. Bedanya, jika kita menulis di FB atau blog pribadi, itu hak otonom. Entah layak atau tidak, sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) atau tidak, sesuai dengan aturan jurnalistik atau tidak, kita tulis dan dimuat saja.

Namun ketika kita menulis untuk media massa yang berkualitas dan berbadan hukum seperti FP, sudah pasti tulisan kita akan diseleksi secara ketat. Jika dimuat, itu berarti sudah layak dibaca oleh publik dan dapat dipertanggungjawabkan. Jika tidak, tulisan kita belum lolos seleksi untuk dimuat. Letak perbedaan ini mau melegitimasi bahwa untuk menjadi individu dan untuk meningkatkan kualitas tulisan, kita butuh sesama.

Sejatinya, mencintai literasi akan membuat manusia mampu berbicara dan menulis dengan baik. Orator yang baik adalah mampu berkata-kata lisan dengan baik pula. Sebaliknya penulis yang baik adalah orator yang mampu berkata-kata lewat tulisan yang baik pula.

Rahim Pengharapan

Pada akhirnya, walau sebagian kaum intelektual masih mencintai potret buram dan walau kampus sering menjadi wadah medan indoktrinasi teoritis ketimbang medan persiapan menuju hidup yang bermartabat, namun dalam sejarahnya pendidikan tetap menjadi “rahim pengharapan” bagi pengembangan potensi-potensi manusiawi secara penuh.

Harapan dan kerinduan bukanlah semacam sikap serba pasti dan optimistis bahwa semuanya akan baik-baik saja, melainkan lebih merupakan sebuah kerendahan hati yang aktif dan terus belajar dengan sikap mawas diri yang sadar bahwa biar praktik pendidikan carut-marut, toh kita boleh terus mencintai dan berpaling padanya (Silvester Ule, dalam pengantar, Pendidikan: Antara Sekolah Teori dan Sekolah Kehidupan).

Sejatinya, tujuan dari pelatihan jurnalistik dalam dunia kampus, selain mendayagunakan potensi mahasiswa, juga membina kepribadian tidak hanya mahasiswa tetapi juga dosen untuk menjadi akademisi yang bermartabat luhur. Dengannya, sikap yang memeras mahasiswa, membayar jasa orang dan plagiat yang sering dihidupi dalam dunia kampus dapat diblokir secara permanen.

Bonefasius Zanda, Pendidik SMAK Regina Pacis Bajawa dan Sekretaris Agupena Cabang Ngada

Oleh karena itu, kampus sebagai sumber kebenaran harus mampu mengarahkan orang agar sanggup menyusun sebuah kerangka nilai dan pengetahuan, ketajaman kritis akal dan kepekaan nurani agar dapat secara kritis menilai informasi dan fakta buram lainnya.

Kiranya mahasiswa menempa diri agar menjadi mahasiswa yang reflektif, kritis, kemauan dan usaha yang gigih untuk terus berbenah diri, untuk menjadi manusia pembelajar dan mampu menjawabi kerinduan mahasiswa harus menulis.*** (Opini Flores Pos, 9 Juli 2018)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s