Korupsi dan Geliat KPK

Ilustrasi tahanan KPK

 Oleh Betrix Aran

Catatan sederhana ini, berawal dari keprihatinan saya terhadap kondisi masyarakat kecil yang telah menaruh kepercayaan terhadap pemimpin, tanpa mengetahui karakter pemimpin terlebih dahulu. Pemimpin menjadi pencari utama terhadap kebutuhan masyarakat akan infrastruktur, air minum bersih, kehidupan yang layak, kesehatan dan pendidikan.

Namun, sangat disayangkan, di tengah kebutuhan masyarakat yang semakin intens, masyarakat dihadapkan dengan fakta yang ironis yakni matinya nurani pemimpin. Setiap hari, jam, detik dan menit, berita tentang kasus dugaan korupsi tejadi di mana-mana. Kekuasaan membangun strategi sekuat mungkin agar bisa lolos dari pandangan KPK.

Kompas Tv baru-baru ini melansir berita aktual tentang kasus dugaan suap yang dilakukan oleh Bupati Labuhan Batu, Sumatra Utara terkait proyek RSUD yang berada di wilayahnya. Modus suap baru yang dilakukan oleh bupati dengan menggunakan kode rumit proyek lewat angka dan huruf. Dalam tempo yang bersamaan, ada juga berita tentang geliat KPK lainnya dalam memberantas korupsi yakni KPK kembali memeriksa Gubernur Aceh nonaktif Irwandi Yusuf terkait kasus Dana Otonomi Khusus Aceh.

Pesta para koruptor terjadi di mana-mana, dan ditonton ramai oleh publik. Masyarakat telah meletakkan kepercayaan di pundak pemimpin agar kiranya pemimpin bisa menjadi teladan, pribadi digugu dan ditiru.

Namun, berita menghebohkan datang dari berbagai media cetak, elektronik, maupun sosial tentang kebobrokan pemimpin dalam menjalankan tugas dan kewajiban. Masyarakat hanya bisa mengelus dada dan menerima kenyataan pahit.

Tidak dapat dipungkiri bahwa di daerah-daerah terpencil, yang notabene masih berstatus “jauh” dari jangkauan KPK, bukan berarti tidak masuk dalam daftar pengamatan KPK.

Isyarat Matinya Nurani?

Agus Noor dalam bukunya berjudul “Matinya Toekang Kritik”, membahasakan banyak hal dan membongkar kebusukan tentang para koruptor. “Coba Anda perhatikan mereka yang saat ini sedang kesandung kasus korupsi. Baik mereka yang sudah resmi jadi terdakwa, atau yang masih berstatus calon terdakwa. Mereka tetap bergaya anggun, melambaikan tangan sambil terus mengumbar senyuman paling menawan. Persis artis yang baru mendapat penghargaan…” (MTK, halaman 65).

Realitas demikian menjadi nestapa bagi masyarakat. Jauh sebelum diberikan kepercayaan oleh masyarakat, potret kehidupan masih sederhana dan ruang lingkup relasi dengan sesama tanpa mengenal perbedaan suku, agama, ras dan golongan. Penyatupaduan keterbatasan pribadi sebagai manusia menjadi tolok ukur kesempurnaan, ketika berada dengan orang lain.

Secara simbolis, model kesederhanaan hanya ingin memberikan sinyal kepada orang lain bahwa pasca-pemberian kepercayaan, kesederhanaan itulah yang menjadi “model” kepemimpinan yang patut diteladani oleh generasi selanjutnya. Rivalitas politik dan arogansi kekuasaan menjadi gaya hidup saat berkuasa. Karena itu, orang berlomba-lomba merebut harta dan takhta dengan mengesampingkan kepentingan masyarakat umum.

Orang bahkan dengan mudah memumpuk kekayaan sebanyak mungkin dan terperangkap dalam sindikat kejahatan yang paling keji. Saya pernah menulis di harian umum Flores Pos tentang penyitaan uang dan perhatian dengan memberikan perbandingan dua hal yang cukup berbeda antara kebijaksanaan Presiden Indonesia Soeharto – yang menjadi gunung Lawu sebagai tempat favorit untuk menimba kekuatan dan kebijaksanaan pemimpin Ende yang diduga membeli bukit, yang dalam perspektif masyarakat hanya akan menghambur-hamburkan uang.

Isyarat mstinya nurani pemimpin? Litani masyarakat tentang pemimpinnya tidak akan pernah berujung. Pasalnya, kekayaan pemimpin ada di mana-mana. Masyarakat yang berdomisili jauh dari jangkauan perkotaan belum maksimal mengalami penerangan listrik, air minum bersih, akses pendidikan, kesehatan dan lain-lain.

Wakil rakyat adalah harapan satu-satunya masyarakat sebagai penyambung lidah, tetapi akhirnya membeo dengan kepentingan pribadi dan keluarga. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa situasi memungkinkan  wakil rakyat tampil sebagai pembela pemerintah, barang kali  nego proyek.

Pada zaman  ini, masyarakat sulit menemukan wakil rakyat yang  sepaham, seperjuangan, senasib dan sepenanggungan dengan masyarakat. Padahal, logikanya tidak rumit yakni wakil rakyat dipilih dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Dan, lebih aneh lagi, wakil rakyat tidak menjalankan fungsi kontrolnya dengan baik. Pemerintah yang korup dipelihara, diperjuangkan dan dibela habis-habisan demi mencari posisi nyaman dan saling menguntungkan. Parasit, bukan?

Potret buram bangsa ini menuju kehancuran sedang dipersiapkan secara matang oleh kader-kader harapan bangsa sendiri  kendati perlahan-lahan. Kesederhanaan, kerendahan hati, kebaikan, kebenaran, kerja sama, kepentingan banyak orang, berubah drastis menjadi angkuh dan serakah. Bahkan kendaraan diganti-ganti hanya ingin menunjukkan kepada publik perihal harta kekayaannya.

Apresiasi Geliat KPK

Kita patut memberikan apresiasi kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai lembaga independen yang menjalankan fungsinya dengan baik di negara Indonesia kendatipun berulang-kali mengalami tantangan yang cukup berat. Dua peristiwa di atas mewakili peristiwa-peristiwa lainnya yang merupakan langkah nyata KPK dalam memberantas korupsi. Kabupaten-kabupaten yang tersebar di Flores juga masih menjadi bagian dari target operasi KPK. Mengapa demikian? Karena NTT  umumnya rawan terhadap korupsi.

Betrix Aran, Anggota PMKRI Cabang Ende

Hemat saya, rusaknya perilaku yang menggerogoti tubuh pemimpin menyebabkan matinya nurani karena kurangnya kepekaan dalam merespons kebutuhan masyarakat. Dalam konteks pemimpin, seharusnya kepekaan akan kebutuhan masyarakat dibagaikan dengan membumikan kerinduan untuk direalisasikannya kebutuhan masyarakat.

Pada akhir catatab ini, saya mengajak masyarakat Indonesia umumnya untuk berani menyadarkan kembali pemimpin yang telah lama menemukan jalan timpang dalam demokrasi. Masyarakat dituntut untuk melakukan rekonsiliasi dengan masyarakat akar rumput demi mempersiapkan benih pemimpin masa depan yang berkualitas dan berkarakter.*** (Flores Pos, 24 Juli 2018)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s